19

4.8K 565 70
                                        

Haechan terbangun dengan posisi meringkuk sendirian di dalam gua. Di atas tubuhnya ada daun daun lebar yang ditumpuk seperti sebuah selimut. Pintar sekali yang melakukannya meskipun sepertinya tidak berguna karena ia tetap merasakan kedinginan.

Didudukan badannya selama beberapa saat mencoba memanggil kesadarannya kembali ke dalam tubuh. Cahaya matahari dari luar gua menembus melewati aliran air yang menjadi tirai, menandakan hari sudah berganti. Yang jelas ia tidak melihat keberadaan Mark di sana, entah kemana perginya pria alpha itu. Haechan akan membunuhnya jika Mark meninggalkannya sendirian di sini. Itupun jika Haechan tidak meninggal duluan karena diterkam hewan buas.

Dengan berhati-hati Haechan berusaha keluar dari sana tanpa terkena air yang bahkan cipratan kecilnya saja sudah dingin sekali. Ia tidak berniat untuk mandi sepagi ini dengan air yang dingin luar biasa.

Setelah berhasil keluar dengan selamat, ia melirik ke sekeliling. Pemandangan yang ia lihat tampak menakjubkan dengan aroma khas tercium oleh hidungnya. Ada kabut tipis yang mengelilingi, tetapi kabut itu justru membuat tempat ini semakin tampak menakjubkan. Aroma tanah basah dan aroma dari tumbuhan bercampur di udara, aromanya sangat luar biasa, bahkan merk parfum mahal pun tidak akan memiliki aroma seperti ini.

Dari sudut matanya ia bisa melihat keberadaan Mark. Pria itu tengah melakukan sesuatu di pinggir sungai. Tak jauh dari sisi pria itu ada asap mengepul dari tumpukkan batu-batu. Pria alpha itu juga sempat melirik ke arahnya sekali sebelum kembali melanjutkan apa yang tengah ia lakukan. Itu seperti sebuah isyarat kepada Haechan untuk mendekat.

"Apa yang kau lakukan?"

"Membersihkan ikan untuk dibakar. Duduk dan hangatkan dirimu."

Haechan menuruti, ia mendekat ke arah tumpukan batu yang mengeluarkan asap tersebut. Ternyata ada api yang sudah Mark buat di sana. Entah bagaimana caranya karena semalaman hujan mengguyur, mustahil menemukan kayu kering untuk dibuat api. Mungkin Mark menggunakan sihir atau semacamnya.

"Kau menangkap ikan itu sendiri?"

"Tentu saja, memangnya dengan siapa lagi? Kau tidur nyenyak sekali."

"Siapa suruh tubuhmu nyaman sekali."

Haechan mungkin hanya mencoba berkata jujur saja, tetapi dia tidak sadar perkataan itu membawa pengaruh besar kepada Mark. Wajah pria alpha itu terasa menghangat mendengar perkataan Haechan.

"Ya kau bisa merasakannya lagi lain kali. Tolong pegang ini."

Haechan menghampiri Mark yang mengulurkan seekor ikan berukuran cukup besar yang telah dibersihkan bagian dalamnya. Ia memegang ikan itu dan membiarkan Mark merapihkan sisa pekerjaannya.

"Kau tidak masalah jika hanya memakan ikan saja kan?"

"Tidak masalah, ikan ini juga cukup besar."

"Oke."

Mark kembali mengambil ikan yang Haechan pegang, pria itu menusukkan kayu yang sudah dia runcingkan ujungnya sampai menembus ke sisi lain dari ikan tersebut.

Setelahnya ia mulai meletakkan ujung ujung kayu di atas batu, membiarkan panas yang dihasilkan dari api mematangkan daging ikan tersebut. Haechan yang duduk di sebelah Mark sedikit keheranan. Bagaimana bisa Mark menyiapkan semua ini tanpa persiapan? Mereka bahkan tidak membawa apapun, apa Mark meruncing kan kayu itu dengan giginya?

"Kita akan pulang nanti siang."

"Ya."

.

.

.

.

LUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang