Jika ada seseorang yang berkata bahwa masa sekolah adalah masa paling menyenangkan, kalian harus mempercayainya. Siapapun itu, kalian harus percaya.
Karena kuliah tidaklah semenyenangkan itu meski sama-sama tempat menuntut ilmu. Suasana dan lingkungan yang berbeda benar-benar berpengaruh, belum lagi materi yang dipelajari entah kenapa lebih menguras tenaganya.
Haechan tidak bodoh, ia bisa menerima dengan baik setiap materi yang diberikan, hanya saja rasanya lebih melelahkan dibanding saat sekolah dulu. Setiap hari ia selalu pulang dengan keadaan tidak bertenaga karena terlalu lelah dengan semua hal yang terjadi di kampus. Belum lagi udara yang tidak terasa menyenangkan lagi baginya.
Mungkin karena ia sudah terbiasa dengan udara segar di pack meskipun terasa sangat dingin.
"Nanti malam ikut kumpul, ya?"
"Tidak mau."
Haechan menggelengkan kepalanya untuk menjawab ajakan temannya. Ia lebih memilih untuk tidur di atas kasur sambil menonton film atau hanya sekedar bermain ponsel.
Ia masih tidak begitu menyukai keramaian meski ia sudah lebih baik dari sebelumnya. Tapi tetap saja ia lebih memilih untuk menghidar, karena pasti acara itu akan sangat ramai.
"Ayolah Haechan... Kan kau tidak sendirian, aku juga ikut."
"Tidak mau, Renjun. Aku sudah bilang tidak."
Ya itu Renjun yang sama dengan Renjun temannya saat di pelatihan. Mereka kebetulan berada di satu kampus yang sama meski berbeda jurusan. Keduanya juga masih terhubung dengan Jaemin dan beberapa kali mereka pun sempat bermain bersama.
Anak itu memajukan bibirnya, kesal dengan penolakan Haechan sedari tadi.
"Tidak perlu minum, hanya datang. Aku ingin mencari mateku, Haechan."
"Memangnya akan langsung bertemu jika di tempat seperti itu?"
"Um... Tidak? Tapi kan tidak ada salahnya juga mencoba, siapa tahu memang ada?"
"Tetap tidak mau, ajak orang lain saja."
Haechan bangkit dari tempatnya duduk, ia membawa kakinya melangkah ringan meninggalkan Renjun yang hanya menatap kepergiannya tanpa bisa berbuat apa apa.
Jika keputusan Haechan sudah final maka Renjun juga tidak bisa terus menerus memaksanya. Yang ada anak itu malah merajuk dan pasti akan sangat sulit membujuknya nanti. Sepertinya ia memang harus mencari orang lain yang bisa diajak atau memang tidak perlu pergi sekalian.
Renjun mengangkat bahu menjawab pemikirannya sendiri, ia tidak mau terlalu pusing memikirkannya. Buru buru ia bangkit dan berlari kecil menyusul Haechan yang sudah cukup jauh.
"Ada berapa kelas lagi?"
"Dua, sampai sore."
"Mau pulang bersama? Heatmu sebentar lagi kan?"
Haechan melirik Renjun sekilas tanpa menghentikan jalannya, kemudian menggelengkan kepala.
"Kau kan hanya satu kelas lagi, nanti menunggu lama. Lagipula aku baik baik saja."
"Kau yakin? Aku tidak masalah menunggu."
"Terima kasih, Renjun. Tapi serius, aku baik baik saja. Sepertinya masih beberapa hari lagi. Aku akan naik taksi agar cepat sampai rumah juga."
"Okay, aku duluan kalau begitu."
Keduanya saling melambaikan tangan dan berjalan ke arah tujuan masing-masing. Sekali lagi Haechan menarik nafas panjang, ia yakin hari ini akan sama melemahkannya dengan hari hari lain. Kepalanya sudah pening membayangkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUNA
Fiksi Penggemar[Werewolf AU] Markhyuck! Warning! BoyxBoy, mature, missgendering, mpreg, gay! Setiap tahun memang ada pemilihan untuk seluruh siswa, tak perduli jika mereka adalah alpha, beta, atau bahkan omega. Namun Haechan tidak pernah sama sekali membayangkan b...
