28.

3.9K 417 64
                                        

Di depan kamarnya sendiri Haechan berdiri sambil menggaruk kepalanya. Ia merasa canggung dan ragu untuk masuk, tapi ia juga tidak bisa terus terusan berada di tempat Mark.

Ngomong-ngomong soal Mark, alpha nya itu sebetulnya melarang Haechan untuk pergi. Mereka bahkan sempat berdebat. Tapi pada akhirnya Mark memaklumi dan mengiyakan keputusan Haechan. Toh Haechan sudah berjanji akan tetap ke tempatnya di waktu waktu tertentu. Mark juga memberikan Haechan waktu untuk berbaikan dengan temannya atas kesalahpahaman kemarin.

Mark sempat bersikeras untuk mengantar Haechan, tapi Haechan tentu saja menolak. Karena pagi pagi sekali Lucas datang ke tempat alpha nya itu, mereka terlibat percakapan yang cukup serius. Dari situ Haechan menyimpulkan bahwa hari ini Mark akan cukup sibuk. Ia tidak mau mengganggu waktu Mark hanya untuk mengantarnya saja.

Setelah menghela nafas panjang selama beberapa kali, Haechan akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Ia mengetuk pintunya dulu selama beberapa kali.

Saat pintu itu terbuka ia bisa melihat keterkejutan di wajah dua temannya itu. Mereka bahkan langsung berlari untuk menghampirinya. Renjun yang pertama memeluknya, Jaemin berdiri sambil menunduk dibelakang Renjun. Anak itu tidak berani untuk lebih mendekat, raut wajahnya juga menggambarkan rasa penyesalannya.

Haechan juga sebetulnya sudah tidak marah atas hal yang terjadi kemarin itu. Seperti yang Mark bilang, ini hanyalah kesalahpahaman antar teman yang wajar sekali terjadi. Haechan juga mengerti perasaan Jaemin.

"Kau tidak mau memelukku juga, Jaemin? Masih kesal padaku ya?"

Kepala Jaemin yang tadinya menunduk menatap ujung kakinya, kini mulai bangkit menatap Haechan dengan mata yang berkaca kaca.

Anak itu segera memeluk Haechan sembari menangis dan menggumamkan kata kata maaf.

"Haechan maafkan aku. Malam itu aku sudah melakukan hal buruk, aku minta maaf Haechan..."

"Iya iyaa, sudah tidak apa apa. Berhenti menangis, kau membasahi bajuku dengan ingus mu."

"Aku tidak ingusan!"

Jaemin menarik tubuhnya menjauh sembari mengusap air matanya. Anak itu menatap kesal ke arah Haechan dan Renjun yang tengah menertawakannya.

"Lain kali kalau ada sesuatu yang mengganggumu kau harus langsung bicara. Jangan malah tiba-tiba meledak seperti itu."

"Aku paham, Renjun. Sudah cukup kau memarahiku sejak kemarin. Aku kan sudah meminta maaf."

Renjun hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Ia menarik lengan dua temannya itu untuk duduk bersama di ranjang milik Jaemin. Meski pemilik ranjang itu sudah protes Renjun tidak peduli. Mereka harus membicarakan hal yang penting, terutama soal Haechan.

"Jadi Haechan, apa yang kau lakukan selama beberapa hari ini? Kenapa kau tidak kembali ke sini?"

Haechan jadi kikuk mendengar pertanyaan yang dilontarkan Renjun. Kenapa jadi dia yang dibahas di sini? Harusnya ia tidak usah kembali ke sini dan tinggal di tempat Mark saja.

"Apakah harus aku jawab?"

"Ya! Maksudku, kalau kau memang tidak mau yasudah tidak apa apa."

Haechan menghembuskan nafas panjang. Renjun berkata tidak apa apa jika ia tidak bicara, tapi tatapan mata mereka berkata sebaliknya.

Kalau begitu Haechan akan bicara. Mereka juga sepertinya sudah tahu, hanya ingin mengkonfirmasi secara langsung saja.

"Malam itu aku pergi ke dalam hutan, lebih tepatnya ke air terjun tempat Mark membawaku waktu itu. Mark datang setelahnya. Aku tidak begitu tahu bagaimana Mark bisa menemukanku di sana, tapi ia berhasil.

LUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang