Part 1

41 4 0
                                    

  Pagi yang sejuk membangunkan Stava dari tidur. Matanya terbuka dan duduk. Biasa Stava mengawali harinya dengan menyapu halaman dan taman rumah.

  Usai melakukan kegiatan itu, ia membersihkan diri seraya sarapan bersama keluarganya. "Stava, kamu berangkat kerja naik apa?" tanya Stavone disela sarapan.

  "Taxi, Yah."

  "Hari ini kamu berangkat bersama Ayah, ya!" tawar Stavone.

  "Oh iya, Yah, terima kasih." Setelah jawaban itu keluar dari mulut Stava, Stavone nampak bersemangat ingin mengantar anaknya bekerja. Ia pun bergegas menyelesaikan sarapannya, Begitupun Stava.

  Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai sarapan, Stava langsung mempercantik diri. "Stava, ayo kita berangkat!" ajak Stavone. Stava membalas dengan senyuman seraya berjalan.

  Angin yang sejuk mengiringi lajuan mobil kuning Stavone. Jendela mobil yang terbuka setengah, membuat mereka lebih nyaman berada dalam mobil. Sambil menikmati lajuan mobil, Stava melihat pemandangan kota deru yang begitu bersih, rapi dan cantik. Bunga-bunga yang berwarna-warni selalu mekar di tepi jalan. Ahhh ... Memang cantik kota deru. Kagum Stava.

  Tak lama kemudian, Stava sampai di tempat kerja-nya, ia pun turun dari mobil seraya masuk. Ucapan salam dan senyuman yang keluar, membuat para teman kagum karena perilaku dan penampilannya. Oh iya, Stava bekerja sebagai kasir di toko pakaian yang bernama saturnus store. Ia mengawali pekerjaannya itu sejak 2 tahun yang lalu. Tempat kerjanya tidak jauh dari rumah, hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit dari rumah.

  Tepat pukul 08.00 Stava dan teman-teman mulai bekerja. Para pembeli sudah cukup ramai berdatangan. Stava pun mulai menjalankan pekerjaannya sebagai kasir dengan menghitung total belanjaan para pembeli satu per satu.

  ***

  Jam sudah menunjuk pukul 09.10. Dari sekian pembeli yang berdatangan, ia dapat melayani dengan baik. Tanpa disadari, saat ia hendak minum, ada suara seorang perempuan yang memanggilnya. Suara itu membatalkan Stava yang hendak minum. "Sepertinya ada yang memanggilku, tapi siapa?" tanya Stava dalam hati. Lagi-lagi suara itu terdengar semakin keras dan terlihat dekat. Stava yang dari tadi ingin minum pun tak jadi. Ia menengok segala arah. Namun tidak terlihat apapun. Ia hanya melihat para pembeli yang sedang belanja santai.

  "Stava, bagaimana sih kamu, dipanggil berkali-kali tapi tidak menjawab!" ujar Vella, pemilik toko itu.

  "Bu bos, ternyata Ibu yang memanggil saya?" tanya Stava berhenti melayani pembeli.

  "Iya, dari tadi saya panggil kamu tapi kamu diam saja, mengapa? Apa kamu tidak dengar?" Perempuan berambut ikal itu, bertanya kepada Stava.

  "Sebenarnya, saya dengar, tapi saat saya menengok tidak ada siapapun jadi saya diam, memang Bu Bos memanggil saya dari mana?"

  "Dari ruang saya!" jawab Vella.

  "Oh pantes kalau saya tidak melihat orang yang memanggil saya, karena Bu Bos memanggil saya dari ruang, maaf ya Bu," gumam Stava.

  "Iya."

  "Apa ada sesuatu penting yang ingin Ibu sampaikan?" tanya Stava.

  "Begini Va, hari ini saya mau keluar, jadi saya minta tolong kepada kamu untuk menjaga toko ini dan mengatur para karyawan karyawati, apakah kamu sanggup?"

  "Sanggup Bu," jawab Stava.

  "Terima kasih, saya tinggal dulu ya," pamit Vella. Angguk dan senyum Stava sebagai balasan untuk Vella.

  "Jhylea, sini dong!" panggil Stava kepada salah satu teman perempuannya yang berambut sangat lurus dan berhidung mancung. Perempuan yang bernama Jylea itu pun menghampiri Stava.

  "Iya, ada apa Va?" tanya Jhylea.

  "Jadi hari ini Bu Bos keluar, dia menugaskan aku untuk menjaga toko dan mengatur para karyawan karyawatinya, saya kan jadi kasir yang kemungkinan seharian di sini, tidak mungkin keliling toko, jadi saya minta tolong kamu untuk mengatur para karyawan karyawati di sini, ya!" pinta Stava. Jhylea mengangguk seraya pergi. Stava lanjut melayani para pembeli. "Sebentar ya gan, saya mau minum. Rasa haus tidak dapat ditahan, Stava pun minum air yang ia bawa dari rumah. Ahh... Segarr. Kehausan itu hilang usai Stava minum. Ia pun lanjut bekerja

  ***

  Matahari berada tepat di atas kepala, pertanda bahwa hari sudah siang, panas terik. Saat Stava mengintip arloji yang dikenakan, ternyata sudah pukul 12.05, waktunya istirahat. Stava makan siang bersama teman-teman kerjanya di ruang makan yang ada di toko tersebut. "Wiihh... Makanannya terlihat enak sekali, minta dong!" pinta Handi kepada Stava dan teman-temannya yang duduk di kursi makan.

  "Minta? Beli sendiri!" jawab Erdi.

  "Hahahaha, bercanda!"

  "Oh ternyata cuma bercanda, kirain mau minta sungguhan!" ujar Stava sambil tertawa kecil.

  Beberapa menit kemudian, mereka selesai makan dan minum seraya kembali bekerja.

  ***
 
  Hari sudah sore, toko saturnus store akan segera tutup. Stava langsung menutup dan mengunci pintu toko tersebut seraya pulang.

  Setiba di rumah, Stava berjalan memasuki pintu. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara jeritan perempuan dari rumah sebelah. Stava yang hendak mendorong pintu, langsung tak jadi, ia sebentar ingin mendengarkan suara itu. Suaranya tidak berhenti, rasa takut mulai muncul, ia langsung masuk rumah dan mengunci pintu. Di rumah ada Stavone, Tika, Sika dan Kavone yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Rasa bahagia nampak muncul di dalamnya saat menyambut kedatangan Stava. Namun, Stava malah menampakkan rasa takut kepada mereka. "Stava, mengapa kamu?" tanya Stavone.

  "A-a-a-aku mendengar jeritan keras dari rumah itu!" jawab Stava gugup.

  "Hah, jeritan? Kita tidak dengar apapun dari rumah itu!" sahut Sika, adik pertama Stava yang berumur 18 tahun.

  "T-t-t-tapi aku mendengarnya, sangat keras," jawab Stava.

  "Sudahlah, kamu tidak perlu takut, abaikan, yang penting sekarang kita sudah bersama di sini!" nasihat Stavone yang duduk di sofa sambil memegang remot tv. Seperti biasa, Stava membalas dengan anggukan. Lalu, ia masuk kamar dan ganti pakaian. Setelah pakaiannya berganti piama, ia sedikit membuka korden jendelanya dan mengintip rumah sebelah. Jantungnya kaget secara tiba-tiba. Karena ia melihat di pohon terdapat sosok putih yang menggantung dan mengayun pelan. Peristiwa itu membuatnya menggosok mata.

  "Hah, apa itu, serem banget!" ia langsung menutup korden dan berbaring di kasur. Deguban jantung terdengar kencang. "Serreemm banget, ihhh takut sekali aku, tidur aja lah!"  batin Stava setelah melihat itu. Sebelum tidur, ia memikir-mikir tentang rumah itu. "Ternyata seangker itu ya, kalau rumah kosong, eh tapi di situ ada bermacam-macam hantu menyeramkan dan menampakkan diri, sangat seram, aku tidak bisa bayangin bagaimana jika aku masuk didalamnya, pasti ada berpuluh-puluh ekor hantu. Ihhh serrem banget dah. Hisshh... Sepertinya peristiwa itu melatihku untuk tidak menjadi manusia penakut," batin Stava seraya tidur.


 

 
 

Misteri Rumah Sebelah (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang