[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Disclaimer dulu guys, apa pun yang dilakukan Lintang pada saat menghadapi masalah mistis, 80% murni fiksi aja ya. Mungkin, ada beberapa yang berdasarkan kepercayaan orang tua zaman dulu, tapi tidak disarankan untuk dicontoh di dunia nyata ya. Kita kembalikan kepercayaan pada yang Kuasa. Author hanya menambahkan beberapa elemen kaya urban legend dan mitos untuk menambah kesan klasik dari cerita ini. Happy reading all!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Awan yang masih melakukan siaran langsung di kanalnya, kali ini hanya diam. Alih-alih melakukan vlog seperti biasa, ia menyampaikan berita bahwa akan berhenti aktif mengunggah pada medsos untuk sementara waktu. Mungkin sampai tragedi ini telah dapat diterimanya dengan lapang dada.
"Gue minta tolong, kalian untuk maklum ya."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dan senyuman tipis itu mengakhiri warta yang ditonton oleh sekitar kurang lebih dari lima puluh orang.
Lintang datang dari arah pintu, menarik bangku yang baru saja ditingkatkan menjadi berbahan besi---baru datang kemarin, dan jelas lebih nyaman dari kursi kayu yang selalu memberikan efek wahana tipis-tipis saat ia sedang bosan. "Lagi live?" tanyanya begitu melihat pemuda itu menghela napas di depan kamera.
Awan menggeleng, lalu mematikan benda yang dipakainya merekam konten belum lama ini. "Nggak. Cuma mau tes kamera aja." Mereka sempat menyelamatkan beberapa hal yang masih tersisa. Sekarang pun, Awan harus menumpang Lintang saat mendapat tugas mencatat di buku, juga berbagi paket dan LKS.
"Sekarang, jadi pulang pergi jaraknya lumayan jauh dari sekolah."
"Ya, gitu deh, jadi gak bisa berangkat mepet lagi." Awan yang biasanya santai, kini jadi ada alasan untuk mengisi buku keterlambatan. Sudah dua hari berturut-turut ia harus ditahan di ruang tata tertib.
"Kak Janar masih belum bisa ditemukan?"
Gelengan menjadi jawaban untuk menanggapi pertanyaan yang mengambang itu. Lintang perlahan mengusap bahu lelaki itu. "Yang tabah ya."