[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jadi, mereka main di rumah lo?" Lintang lagi-lagi mengangguk. Membuat Awan terperangah, "Wah, gila. Gue juga pengen dong."
"Mampir aja ke rumah, kapan-kapan," gadis itu menanggapi dengan santai. Ia lebih memilih membuka plastik yang masih membungkus buku kecil bersampul hitam, baru saja dibelinya di koperasi sekolah. Lintang tersenyum puas, sembari mengangkat benda itu, mengamatinya.
"Loh, kok lo beli lagi? Terus, yang kemaren?"
Perempuan berkuncir satu itu mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan bolpoin, "Jurnal yang kemarin ... jujur, aku tertarik beli karena sampulnya."
Pantas saja. Kemarin Awan menemani gadis itu pergi ke toko alat tulis. Ketika mereka sampai di bagian buku, ia bisa melihat kedua mata gadis itu berbinar bak tengah memandangi seseorang yang didambakan. Lebih tepatnya, buku yang dipuja. "Lo serius?"
"Iya," tak disangka Lintang sedikit antusias dengan topik ini. Ia mengambil duduk di salah satu bangku di kantin, menunggu kedua temannya yang lain datang. "Lagian, jurnal itu terlalu besar untuk aku bawa kemana-mana. Ini lebih muat disaku," ujarnya sambil menunjuk buku yang diletakkan di atas meja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Awan sampai tidak tahu harus membalas apa, bingung antara harus kagum atau tercengang. "Maniak jurnal ... " Hanya itu yang bisa dikatakannya, lalu pemuda itu pergi, bergabung dengan tongkrongan kelas lain di meja sebelah.
Tentu Lintang tidak terlalu memperdulikannya. Jika boleh, ia ingin membuat rumah kecil---dunia bagi buku-buku cantik miliknya untuk ditinggali. Walau, Lintang sendiri sangat yakin, tidak akan di ACC oleh sang ibu. Dilihatnya, kedai di kantin tiga sangat ramai. Kalau tidak salah ingat, baru saja diisi oleh anak dari salah satu guru disana. Pada kondisi semacam itu, ada dua hal yang biasa ia simpulkan. Satu, faktor dari segi rasa yang memuaskan, atau harga ramah di kantong.
Kedua, sosok yang entah sekarang sedang melambai guna memikat setiap orang yang lewat,
---atau menambahkan ekstrak khusus ke dalam makanan.
Saat ini, Lintang tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi. Seperti yang seharusnya. Ia bahkan tidak tahu harus bersyukur atau tidak. Tapi, terkadang, Lintang juga masih memerlukan kemampuan ini untuk keamanan dirinya sendiri.