[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Derit kursi menjadi pemecah keheningan pagi ini. Itu ulah Lintang, tentu saja. Sejak tadi terus memainkan kursi kayu guna mengatasi rasa bosannya. Kondisi kelas ini terlalu hening. Memang, tidak sehening itu jika guru sudah angkat kaki dari ruangan. Entah, ia merasa aneh.
Gadis itu kembali mengusap tengkuknya, firasat tidak enak muncul secara tiba-tiba. Lintang melirik ke sebelah, teman sebangkunya tampak masih fokus mengerjakan soal matematika wajib yang tertulis di papan. Keduanya masih sedikit kaku, namun Lintang dapat mengatasi dengan caranya sendiri.
Tahu apa yang Lintang katakan? "Jangan terlalu dipikirkan, sebenarnya aku adalah cowok yang lahir dalam bentuk cewek."
Sontak mendengarnya membuat Awan membelalak kaget, awalnya. Tentu saja, siapa yang tidak kaget mendengar klarifikasi itu terlontar dari bibir seorang gadis SMA. Tidak, ini bukan seperti yang dipikirkan. Memang benar, ibunya pernah mengatakan bahwa laporan USG Lintang waktu dalam kandungan berjenis kelamin laki-laki. Sementara, adik sepupunya malah perempuan. Hanya saja, saat pasca melahirkan, hasil akhirnya malah terbalik.
Sebenarnya, bukan cuma kepada Awan, kisah itu seringkali Lintang ceritakan kala dihadapkan dengan situasi canggung. Lintang menganggap kondisi ini salah satu fakta yang benar-benar lucu seumur hidupnya.
"Tapi tenang, aku masih normal kok. Ril, cewek tulen, walau kadang agak aneh aja. Jadi, biasa aja, tolong jangan terlalu kaku." Yap, begitulah cara Lintang untuk mengatasi jarak yang membentang antara-nya dan teman sebangku. Dan anehnya, itu berhasil! Awan bahkan sampai terpingkal-pingkal mendengarnya. Atau mungkin ... laki-laki itu tertawa sebab Lintang memberitahunya dengan wajah selempeng papan tulis. Setelah cerita random itu, keduanya jadi lebih akrab lagi.
Saat ingatan itu melintas di otaknya, reflek wajah gadis itu menampilkan senyum tipis, bahkan hampir tak kentara. "Masih aman, Wan?" tanyanya lagi, menawarkan bantuan.
"Aman. Gue cuma kurang dua," Awan menjawab. Pemuda itu menoleh, mengamati kalau wajah teman sebangkunya ini sudah mirip seperti panekuk tertekuk. "Lo kalau mau tidur, tidur aja. Nih gantian, gue bantu tutupin." Awan pun inisiatif menegakkan bentangan buku cetak tepat di depan meja Lintang sebagai benteng perlindungan, jelas aksinya disambut kekehan kecil dari Lintang.
"Jangan anjir, nanti malah kelihatan mencolok." Tak ingin mengganggu, gadis itu memilih untuk mengeluarkan earphone dari dalam sakunya. Menyembunyikan kabel putih itu di antara helai rambut yang dibiarkan tergerai. Berharap tidak akan tertangkap oleh guru yang tidur dengan kedua mata sedikit terbuka di depan.
Gadis itu menyangga dagu di atas meja, diiringi helaan napas kecil yang dihembuskan pelan. Lintang terbuai dalam pikirannya sendiri. Berada dalam situasi yang tidak biasa membuatnya bingung harus merespon bagaimana. Tetapi, untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan ketenangan batin tanpa harus menahan kaget dengan kemunculan sosok-sosok aneh. Dari sudut kedua bangku belakang, ia dapat melihat beberapa punggung manusia dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang masih sibuk menunduk, entah untuk mengerjakan, atau mungkin login di bawah meja?