19. Something's Wrong With Her Eyes

241 42 1
                                        

haloo, maapp minggu kemaren libur lagi hehe
akhirnya sudah selesai semester ini, BYE! And welcome to the new semester ><
anw, kemarin lihat berita katanya junkyu lagi hiatus ya?? huaaa ketinggalan banget😭😭
plss ajun, take ur time to rest meskipun bakal kangen :)
okee?!
gimanaa kalian udah siap belom??😌
Happy reading.
***

Setelah sekian lama, Lintang bangun pagi dengan perasaan tidak nyaman

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah sekian lama, Lintang bangun pagi dengan perasaan tidak nyaman. Tubuhnya terasa kaku, bercampur pegal. Ia tidak menyangka, ekspedisi singkat kemarin bisa membuat kondisinya seperti sehabis mendaki gunung. Jujur, hal ini seketika menghilangkan moodnya di awal hari. Lintang tidak tahu, peristiwa apa yang akan terjadi lebih parah daripada ini.

"Mataku ... " Kepalanya terasa pusing, nyeri seolah tengah dihantam oleh sesuatu. Lintang baru menyadari bahwa sudut matanya terus mengeluarkan air. Sontak, ia menoleh ke arah cermin yang berada tepat berhadapan depan kasur.

"Minus, kah?" Perlahan, tangannya merambat ke atas. Menekan pada kedua mata yang masih terasa membengkak, bahkan sakit ketika disentuh. Namun, tidak ada yang berubah. Lintang masih bisa melihat pantulan dirinya dengan jelas. "Kayaknya enggak."

Sedikit tidak rela untuk pergi sekolah sebenarnya, jika saja presentasi mapel sejarah tidak dimajukan. Apalagi dengan stamina tubuh yang tidak afiat seperti ini, bisa-bisa Lintang jadi sasaran empuk dari para makhluk di gerbang.

Lintang menepuk pipinya beberapa kali. "Ayo, aku harus kuat." Ia juga telah berjanji untuk kembali menemui Karen hari ini. Ia bangun, lantas meregangkan tubuh dengan menarik kedua tangannya ke atas kepala. Tidak ketinggalan, beberapa kali menendang-nendang udara guna melemaskan otot kaki. Lintang tidak ingin terkena kram lalu berakhir kesleo di depan umum.

Ia merasakan adanya sesuatu yang otomatis menggerakkan wajah guna menoleh. Pintu sedikit terbuka entah sejak kapan, "Ibu?" Tidak ada jawaban. Lintang malah mendengar percakapan di bawah sana, sepertinya sang ibu masih asyik mengobrol pada pertemuan rutin pagi. Berkumpul di sekitar gerobak penjual sayur langganan mereka yang tak pernah absen melewati gang.

Maka, selain ayahnya yang pasti masih belum beranjak dari kasur, satu-satunya opsi yang ia duga adalah teman lama. "Ningsih," panggilnya.

Tetap tidak ada sahutan sama sekali.

"Aneh," Lintang mengangkat bahu ringan. Dikibaskannya selimut bermotif bunga mawar tersebut sebelum dilipat. Lintang yakin betul, bahwa sebuah pergerakan telah ditangkap oleh radar waspadanya. Mendadak, keheningan terasa semakin menyeruak, perlahan mulai menggerogoti keberanian gadis itu. Lintang menggelengkan kepala cepat. Sepertinya, Lintang mulai terpengaruh dengan pikiran buruk. Sampai, ia merasakan sebuah angin datang dari arah belakang. "Kamu habis dari mana?" tanyanya sembari masih fokus merapikan seprai.

No Soul : Beyond The GateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang