16. She Came to Observate!

82 13 0
                                        

haloOo! No Soul updateee
Click the like button to support me if u find this chapter fun!
Happy reading

haloOo! No Soul updateeeClick the like button to support me if u find this chapter fun!Happy reading

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***
"Aku bukan dukun," jawab Lintang singkat.

"Tolonglah Lin, gue nggak mau Harun ketempelan." Jiwo terus memohon kepada Lintang. Ini sudah yang keempat kalinya.

Sementara Lintang menaikkan sebelah alisnya. "Yang ketempelan aja gak masalah, kenapa jadi kamu yang ribet?" Ia kembali menatap buku di tangan, tak begitu berminat pada pembahasan yang akan membuatnya terlibat dengan Harun. Sejak awal, lelaki itu sudah banyak mengganggu, bahkan hampir mengacaukan segalanya.

"Dia itu kan temen gue, ya kali gue tega sama temen sendiri." Jiwo tidak tahu harus berbuat apa lagi, "Plis Lin, ini juga demi gue sama Awan juga yang tinggal satu kosan."

Lintang hanya mendengarkan. Sementara kedua manik mata gadis itu masih menatap lurus ke arah cowok di depannya ini. Akhirnya setelah beberapa saat memikirkan matang-matang, Lintang menghela napas panjang, "Ya udah, kamu ceritain soal gangguan itu."

Merasa lega karena ada seseorang yang mau membantunya, "Oke, ini bakalan panjang banget." Jiwo menarik napasnya, berusaha mengais oksigen di sekitarnya guna mengisi pasokan udara sembari ia bercerita nanti.

"Jadi setelah gue kerasukan waktu itu, gue setiap hari mimpi didatangi sama satu sosok yang gede banget, hitam, sama matanya merah banget kayak lampu yang lagi nyala gitu. Dan gue selalu kebangun pas jam dua malam. Kadang di rumah itu suka ada banyak kejadian aneh, mulai dari suara-suara dari dapur sama kamar sebelah. Biasanya sih ga pernah," jelas Jiwo panjang lebar.

Setelahnya, Jiwo menghembuskan napas panjang. Entah itu wujud frustasinya atau perasaan lelah. "Gue jadi takut kalau ada yang ketempelan salah satu dari kita."

Lintang masih diam. Fokusnya mendadak teralihkan pada hal lain. Ia juga sudah tak begitu mendengar apa yang diceritakan Jiwo dari satu menit lalu.

"Sepertinya, kamu lulusan pesantren, bener kan?" Pertanyaan itu jelas sangat tidak terduga.

Ia menyangga dagu di atas meja. Dilihat dari raut terkejut Jiwo, Lintang merasakan tebakannya benar. "Apa yang kamu bawa menarik perhatian mereka." Jiwo menatapnya bingung. Tidak mengerti apa yang dimaksudkan. "Memang, tidak banyak yang tahu. Tidak semua pesantren pure cuma ngajar agama. Ada beberapa yang menyelipkan sosok, dengan tujuan tertentu. Yang paling umum aku temui, biar santri betah di pondok sih," Lintang menjelaskan.

Mendengarnya lantas memunculkan sebuah lampu bagi Jiwo. Ia sampai reflek menepuk pahanya, "Oh, pantes njir! Awalnya emang gue gak betah disana, rasanya pengen pulang mulu, tapi kelamaan malah gue jadi gak pengen pulang ke rumah. Kaya gimana ya, padahal sebenernya gak ada yang spesial juga. Tapi ketika gue ada niat pulang, itu kaya langsung ilang gitu aja."

Pernyataan itu semakin menguatkan deduksi Lintang. "Kebanyakan masih suka ngikut bahkan pas kamu sudah nggak disana. Untuk efeknya, yang aku temui ada dua macam." Dua jarinya naik, "Satu, jika wadahnya memadai, dia akan jadi santri yang berhasil. Dan kalau enggak," ucapannya sengaja dihentikan. Lintang sendiri yakin, Jiwo sebagai alumni harusnya sudah tahu hal ini.

No Soul : Beyond The GateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang