[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
*** Disclaimer dulu guys, apa pun yang dilakukan Lintang pada saat menghadapi masalah mistis, 80% murni fiksi aja ya. Mungkin, ada beberapa yang berdasarkan kepercayaan orang tua zaman dulu, tapi tidak disarankan untuk dicontoh di dunia nyata ya. Kita kembalikan kepercayaan pada yang Kuasa. Author hanya menambahkan beberapa elemen kaya urban legend dan mitos untuk menambah kesan klasik dari cerita ini. Happy reading!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ada perlu apa ya, Kak?" Lintang menanyai. Ini ketiga kalinya, ia kembali dihadang oleh Dewa, di tempat sepi pula.
Pemuda itu merespon tak lain hanya dengan seutas senyum tipis alih-alih menjawabnya. Gelagatnya tidak menunjukkan perilaku agresif seperti Harun yang terang-terangan, justru membuat Lintang semakin waspada.
Sepertinya tanpa disadari, ia selalu memantau pergerakan Lintang. Buktinya, Dewa selalu berhasil mencuri waktunya di kala sedang tidak bersama siapa pun. Tentu saja, siapa yang tidak curiga dengan tindakannya itu.
"Gue nggak sengaja lihat lo bawa jas sebanyak ini dari lab. Mau praktek?"
"Iya. Karena lab-nya lagi dipakai untuk rapat anak-anak olimpiade, jadi harus praktikum di kelas," jelasnya sembari menoleh ke arah ruang laboratorium yang tengah dipadati banyak orang. Jujur, tangan Lintang juga mulai terasa kesemutan. Walau separuh sudah diangkut Hani tadi, membawa tumpukan kain tebal ini juga tidak ringan.
Dewa mengangguk beberapa kali. "Berhubung gue lagi senggang, boleh gue ikut bantu?" tawarnya.
"Tentu, kalau Kak Dewa berkenan." Lintang tanpa berpikir lama nan ribet langsung mengiyakan. Lagi pula, mengapa menolak sebuah uluran tangan? Tidak menutup kemungkinan, Dewa juga termasuk dari salah satu orang-orang aneh yang penasaran terhadapnya. Selama ia tetap tenang dan waspada, Lintang rasa, bersikap acuh malah akan menimbulkan masalah lain yang merepotkan.
Segera, Dewa ambil tindakan melihat gadis itu sepertinya mulai lelah. Ia mengambil sebagian besar jas lab hingga hanya menyisakan sekitar tiga helai saja di tangan Lintang. "Langsung ke kelas, kan?" Setelah mendapatkan satu anggukan, Dewa memulai langkah terlebih dahulu.
Keduanya berjalan beriringan melewati tangga yang menghubungkan antara lantai bawah dan atas. Keadaan beberapa ruang yang mereka lewati terlihat kondusif, tenang, bahkan untuk sekedar membenturkan hak pantofel ke lantai agak keras pun sungkan.
"Gue denger, kemarin-kemarin lo sering ke kos ya." Kalimat itu membuka kembali topik di antara mereka.
"Iya, ngerjain tugas kelompok. Alea nggak mau katanya kalau sampai cuma perempuan sendirian disana, jadi dia minta ditemani," jawab Lintang seadanya. Tidak semua benar memang, sebab akhirnya, baik Alea maupun Jiwo tidak jadi mengerjakan tugas mereka lantaran terlalu banyak kisruh.