03. Weird Guy

703 154 70
                                        

Happy reading all!

***

"Al, nunggu lama?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Al, nunggu lama?"

Akhirnya, yang ditunggu muncul juga. Alea mendapati presensi Lintang yang terlihat dari kejauhan. "Nggak juga, gue baru aja datang. Untung, les-nya libur hari ini, jadi lo gak nunggu sendirian disini---eh, eh, eh. Hati-hati!" Alea berteriak, pasalnya Lintang langsung lari begitu saja di jalanan, tanpa menoleh ke sekitar. "Lo ini, bisa-bisanya ceroboh banget lari-larian di jalan raya, untung aja tadi gak ada mobil yang lewat," omelnya saat Lintang sampai di depan tepat.

Bukan, bukan tanpa alasan. Hanya saja, melewati area dimana energi terhimpit di antara banyaknya sosok juga berisiko. Selain itu, fakta bahwa cuma Lintang yang satu-satunya dapat melihat mereka, terkadang membuat Alea lupa jika penghuni bumi ini bukan hanya manusia saja. Lintang mengangguk asal, ia langsung mengalihkan pandangan. Melihat seorang pemuda berpakaian ala-ala mahasiswa lengkap dengan jas tersampir, berdiri menjulang di sebelah Alea dengan senyum yang terus terpatri pada wajahnya.

Alea menyadari akan kebingungan temannya ini pun segera berdehem sebelum menjelaskan, "Oh iya, kenalin ini kak Jaya, mentor gue pas les," Alea berganti menatap Jaya, "Lalu Kak, kenalin ini Lintang temen dari Jogja. Baru pindah sekitar beberapa hari lalu."

Lintang memberikan senyum tipis ke arah laki-laki berbadan tinggi itu.

"Ngomong-ngomong, sorry ya kalau gue ikut kalian nebeng pulang. Rumah gue deket dari kalian, Alea ngomong dan ternyata kita masih tetanggaan," Jaya menggaruk tengkuknya.

"Nggak masalah kok, Kak Jaya tenang aja," Lintang melirik ke arah sebelah, "Karena gadis baru puber yang dari tadi senyum-senyum ini juga butuh cowok ganteng untuk nemenin dia pulang."

Sontak saja kalimat itu mengundang satu hantaman pada punggungnya. Lintang tak terlalu menunjukkan eksprersi berlebih, "Toh, itu juga faktanya kan," jelasnya lantaran Alea memberinya tatapan merepotkan. Tentu saja kalimat itu mengundang serentetan omelan-omelan tersampaikan dari bibir Alea. Hanya saja ... gadis dengan earphone tergantung di leher itu tidak terlalu menghiraukan, matanya sibuk menganalisa pemandangan tidak biasa yang selalu menjadi pertanyaan sejak ia menginjakkan kaki di sekolah. Dinding gaib yang melindungi bangunan besar itu, serta banyak makhluk berkerumun.

Jaya malah menanggapi dengan tawa ringan. Seolah tak tersinggung sama sekali dengan kalimat Lintang sama sekali. "Oke, oke, gue paham. Yaudah, yok pulang. Bisnya udah sampai nih." Pemuda itu lebih memilih untuk tidak ikut campur. Benar sekali, tanpa menunggu lebih lama, Lintang segera menarik Alea untuk masuk ke dalam bis. Tidak tahan lama-lama berdiri disana, lantaran merasa, banyaknya makhluk itu membuat energinya terkuras.

Saat duduk di dalam bis pun Lintang masih keheranan. "Al, nggak laper?" Bukan tanpa alasan, Lintang sendiri tahu, Alea memiliki energi kehidupan yang sangat besar. Mungkin itulah penyebab ia sering menarik perhatian makhluk. Setiap didekati mereka, seringkali membuat daya manusia yang dimiliki berkurang banyak sehingga menimbulkan rasa lapar.

No Soul : Beyond The GateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang