05. Choose Your Card!

538 131 27
                                        

Happy reading 🌼

Di sela jam istirahatnya, sebagai petugas perpustakaan, Lintang seringkali datang untuk sekedar membantu pekerjaan ringan atau menghindari berisiknya dunia sejenak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di sela jam istirahatnya, sebagai petugas perpustakaan, Lintang seringkali datang untuk sekedar membantu pekerjaan ringan atau menghindari berisiknya dunia sejenak.

Gadis itu tampak sedang duduk anteng di salah satu bangku, menulis sesuatu pada jurnalnya. Ia mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan bolpoin, kening berkerut menjadi bukti bahwa Lintang menemukan kesulitan pada apa yang dikerjakannya.

Helaan napas panjang pun akhirnya keluar, "Ini nggak cukup. Catatannya masih kurang lengkap, aku masih belum bisa nemuin bukunya."

Hingga tiba-tiba, sebuah suara asing menyapanya dari belakang. "Lintang ya?" Perlahan gadis itu menutup jurnalnya. Saat menoleh, Lintang mendapati seorang pemuda bermata sipit tersenyum kepadanya.

"Salam kenal. Gue Suyanto." Laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Jujur, Lintang tidak menyangka, wajah se-chindo itu akan memiliki nama yang ... bagaimana ia mengatakannya. Tidak sekeren wajah, kurang lebih seperti itu. Dilihatnya, badge kuning melekat pada lengan kanan Suyanto. Berbeda dari miliknya, itu artinya, pemuda ini berada di tahun kedua. "Salam kenal, Kak. Saya Lintang." Lintang membalas uluran tangannya. Tampak pucat, dan terasa dingin sekali.

Yanto tersenyum lebih ramah. Entah mengapa, walau tak bisa melihat auranya, Lintang bisa merasa aman di dekat lelaki ini. Seolah, ada pancaran energi lain yang bisa dibilang menenangkan. "Boleh gue duduk disini?"

Lintang menanggapi tak kalah ramah. "Tentu, silahkan Kak." Walau begitu, ia masih harus tetap waspada pada orang asing.

"Suka novel horor, ya?" tanyanya ketika melihat banyak novel berserakan di atas meja.

"Apa aja sih Kak, tapi memang, kebanyakan horor sih."

Yanto mengangguk, "Gue suka main kartu dan sulap, lo tau ramalan kartu tarot, kan?" Lintang mengangguk, "Kalau gitu, Lo mau gue ramal gak?"

Sebenarnya ia tidak percaya dengan ramalan kartu tarot. Terkadang memang ada kejadian yang sesuai, namun itu hanya sebuah kebetulan. Semua itu tergantung bagaimana Tuhan menjalankan takdir. Dan tidak ada yang tahu masa depan akan berjalan bagaimana karena itu rahasia Tuhan. Namun, Lintang ingin memastikan sesuatu. "Boleh Kak."

Tangan Yanto bergerak cepat, mengacak tumpukan kartu hitam dengan gesit. "Masa depan, masa lalu, dan masa kini. Dari ketiganya, apa yang lo pengen lihat?"

"Masa depan."

Mendengarnya, Yanto sedikit merasa kecewa. Ia sudah sering mendengar jawaban itu. Pasti semua orang ingin tahu bagaimana kisahnya berakhir. Siapa yang bertahan. Siapa yang akan menetap, atau siapa yang akan pergi. "Benar. Semua orang pasti penasaran dengan apa yang terjadi di masa depan."

Lintang tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke ujung kartu. Dari intonasinya, Lintang bisa memastikan bahwa Yanto sudah muak dengan jawaban itu.

"Aku nggak penasaran."

No Soul : Beyond The GateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang