15. Keep Quiet, They Have Come

235 44 0
                                        

Hai! Semuanya, apa kabar?
Anyway, stay healthy all!

Hai! Semuanya, apa kabar?Anyway, stay healthy all!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy reading 🌼

Lintang sudah tahu. Sejak awal, Seina selalu mengawasinya.

Dari ia keluar dari rumah, sekitar minggu kedua, Lintang sudah merasakan keberadaan yang aneh. Tentu saja, gadis itu tidak bisa masuk ke dalam rumah akibat pelindung yang terpasang.

Namun di sekolah tidak demikian. Ia selalu menyadari sepasang mata itu selalu mengikutinya, mengawasi pergerakan Lintang. Awalnya, Lintang sendiri tidak sadar sebab energi dari jimat yang menyamarkan eksistensinya. Ia tidak pernah memperdulikannya, hingga rumor tentang penunggu sumur yang entah tiba-tiba naik ke permukaan berhasil memikat Lintang. Sebab, arwah biasa seperti ini sering akan mengganggunya agar memenuhi apa yang masih belum dituntaskan semasa sosoknya hidup.

Lintang hanya menyangga dagunya, sudah tidak kaget lagi dengan permintaannya. "Jika kasusmu berhubungan dengan yang aku selidiki, boleh saja."

"Semuanya berhubungan kok," Seina menjawab dengan cepat.

Alisnya terangkat, lantas gadis itu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Pada kursi sofa ruang tamu. "Oh ya? Tapi kamu belum jelasin, kenapa kamu bisa keluyuran di luar sementara yang lain enggak."

"Kalau itu, gue juga nggak tahu," jawabnya dengan sorot mata kosong. Seina tampak gelisah. "Waktu itu, gue cuma ngikutin lo keluar. Dan sejak itu, gue jadi bisa keluar masuk gerbang. Gue juga gak paham kenapa bisa kaya gitu."

Sepertinya, Lintang mulai mengerti mekanismenya. Apa yang ia bawa masuk ke dalam gerbang telah menciptakan sebuah celah kecil akibat adanya gesekan energi berbeda tingkatan. Efeknya, jadi memberikan beberapa arwah murni yang gentayangan akses keluar masuk sekolah, selama tetap berada di dekat Lintang.

Sekarang, itu terdengar masuk akal.

Mungkin, memang ada sesuatu yang baru pada dirinya. Sebuah perubahan yang bahkan Lintang sendiri masih tidak bisa memastikan apa itu.

Seina mendekat, intonasinya kali ini dipenuhi harapan dan permohonan. "Lo bisa buka gerbangnya, kan? Lo bisa hilangin penghalangnya. Tolongin gue."

Permintaan yang tidak ia sangka akan didengar begitu saja pada hari ini.

Justru Lintang langsung memundurkan kepala, merasa kurang nyaman. "Aku nggak bisa asal rusak perisainya. Kita belum tahu, tujuan dari dipasangnya pelindung itu untuk apa. Entah melindungi sekolah dari luar, atau membatasi yang di dalam agar tidak keluar." Ia rasa, dengan kemampuannya sekarang, Lintang malah akan menyerahkan diri secara suka rela untuk menjadi mangsa baru.

Lintang menyangga tubuh dengan meletakkan sikunya pada paha, lantas menautkan kedua tangan. Menatap serius ke arah sosok itu. "Kamu juga nggak akan tahu apa yang akan terjadi jika pembatasnya hilang, kan? Bagaimana jika aku yang jadi korban selanjutnya?"

No Soul : Beyond The GateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang