[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu salam hangat menyambut pagi ke tujuh keluarga Bu Wati. Menemani ibu dan putri semata wayangnya sebelum menjalani hari yang dipenuhi kesibukan masing-masing. Lintang keluar dari gerbang rumah sembari memakai jaket merahnya. Suasana suram sebab langit hanya menampilkan gumpalan awan gelap, bak adegan di film horor klasik menurutnya, apalagi saat hembusan angin kencang dari buritan menusuk leher gadis itu yang terekspos. Spontan membuat Lintang memasukkan kedua tangan ke dalam saku. "Dingin banget! Padahal kukira, Jakarta selalu panas."
Jam masih menunjukkan pukul enam, Lintang masih memiliki tiga puluh menit untuk jalan santai. Tidak perlu lari-lari seperti kemarin. Sampai kaki seseorang menyalipnya dari belakang, "Dia itu, gadis yang dirumorkan ... " Lintang menangkap seragam yang digunakan sama, ia pun memanggilnya, "Sarah?"
Benar saja, si pemilik nama pun berbalik. Gadis itu membeku sejenak. "Kamu ... kenal sama aku?" Sorot matanya menatap takut, setengah tidak percaya.
Lintang mengangguk pelan. Termasuk ke dalam pararel sepuluh jurusan IPA, sekaligus bahan buah bibir sebab perilakunya yang aneh, setidaknya Lintang memiliki alasan untuk mengingatnya. "Ke halte bis? Aku juga. Barengan aja sama aku," tawarnya.
Sarah tertegun, "Tapi a-aku ... " Ia tak melanjutkan ucapannya lantaran Lintang malah memberinya senyum tipis, seolah tak perlu mengatakannya, gadis itu sudah mengerti.
"Kita sama-sama manusia, bukan?" Lintang memiringkan kepalanya lirih, kedua tangannya tertaut di balik punggung. "Kurasa nggak ada alasan untuk kamu takut sama aku, ataupun orang lain, selama apa yang kamu lakukan itu benar." Entah mengapa, Lintang merasa harus mengatakan itu, katakanlah ia sok kepada orang asing. Ia takkan mengelak. Namun, melihat sosok lemah di depan ini berhasil memancing simpatinya.
Tanpa diduga, mendadak Sarah memegang pundak Lintang alhasil membuat gadis itu mengerutkan dahi. "Lintang, kamu tidak harus berakhir seperti kakakku, tolong ingat ini baik-baik." Mendengar hal itu Lintang lalu terhenti. Gadis dengan rambut yang menutupi matanya itu berkata, "Jangan percaya dengan siapa pun, tetaplah waspada. Karena, mata pun masih dapat membohongimu," jelasnya lalu pergi begitu saja.
Meninggalkan Lintang dengan seribu pertanyaan yang muncul bagaikan laron membludak secara tiba-tiba. Ia tak mengejar, atau pun meminta penjelasan. Peringatan dari gadis yang hidupnya dipenuhi kewaspadaan akibat mengalami tekanan serta perundungan di lingkungan sosial. Lintang pikir itu wajar jika Sarah paranoid terhadap orang lain, mengingat banyaknya tekanan yang menghantam.
Tahu-tahu Ningsih muncul lalu berbisik tepat di sebelah telinganya. "Siapa itu? Nggak biasanya kamu banyak bicara sama orang asing."
"Sarah, anak MIPA tiga." Lintang menatap lurus ke depan menunggu sampai Sarah naik ojek online yang sudah sejak tadi berada di sebelah halte, setelahnya gadis itu menjingkatkan bahu.