[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Disclaimer dulu guys, apa pun yang dilakukan Lintang pada saat menghadapi masalah mistis, 80% murni fiksi aja ya. Mungkin, ada beberapa yang berdasarkan kepercayaan orang tua zaman dulu, tapi tidak disarankan untuk dicontoh di dunia nyata ya. Kita kembalikan kepercayaan pada yang Kuasa. Author hanya menambahkan beberapa elemen kaya urban legend dan mitos untuk menambah kesan klasik dari cerita ini. Happy reading all 🦋
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Matahari terus bergulir, dari atas ke bawah. Jarum jam terus menapak, dari detik ke menit, dan seterusnya. Berputar-putar seperti baling-baling. Oke, ini akan menghabiskan satu chapter jika terus-menerus membahas waktu yang tidak ada habisnya.
Masuk ke agenda hari ini, Lintang mendapat pesan dari anonim yang mengajaknya untuk bertemu usai sekolah di atap. Tak ada salam, tak ada nama, hanya sebuah kolom singkat dengan kalimat yang langsung menuju pada niat.
Meski telah dilarang, Lintang tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Tenang, tentu saja ia tak melakukan tindakan sembrono tanpa memikirkan resiko keamanan akan dirinya sendiri. Pada atap bangunan sebelah, Lintang dapat melihat tiga siluet duduk lesehan mengamati. Namun, sebuah tripod kamera membuatnya kesal, padahal ia sudah memperingatkan Awan guna mencari posisi sebaik mungkin supaya tidak ketahuan. Saat ini yang jelas, Lintang sudah menunggu selama kurang lebih sepuluh menit.
"Lin," seseorang memanggil lirih dengan tangan bersarang pada pundaknya.
Lintang tidak menoleh, akan tetapi bibirnya mulai terbuka. "Untung aja kamu manggil dulu, Kak. Kalau nggak, aku nggak tahu cutter ini akan mendarat kemana." Bunyi khas alat tersebut mengudara ketika bergeser, sebuah bilah tipis menonjol dari dalamnya. Tampak jika gadis itu sangat menjaganya dengan baik dari kilauan yang menunjukkan seberapa tajam benda kecil tersebut, satu sentuhan ringan saja sudah dapat mengiris kulit.
Ia tidak pernah menyukai akan kontak fisik secara tiba-tiba, apalagi dari orang asing.
Dewa terkesiap, tak menyangka jika ada alat berbahaya yang dibawa perempuan ini. "Maaf." Meski begitu, sepertinya tidak hanya ia sendiri yang terkejut. Walau tak ada ekspresi, Dewa bisa merasakan bahu Lintang yang tegang, tepat dimana Dewa menepuknya.
"Jadi, kamu yang kirim pesan anonim itu?"
"Iya, itu dari gue."
Sebab itulah Awan tidak bisa mengenali nomornya. Entah, ia akan mendapat tuduhan apa lagi dari seniornya ini. Mungkin ada baiknya mendengarkan teman-temannya sesekali. Lintang sama sekali tak mengira Dewa masih akan mengusik. Kejadian terakhir tampaknya tidak memberikan efek mendalam pada pemuda ini, seperti yang Harun alami.
Ngomong-ngomong soal Harun, kabar mengatakan saat ini ia tengah mendapatkan perawatan intensif pasca insiden. Mentalnya sempat terguncang hingga izin beberapa hari. Atau mungkin, sengaja melarikan diri. Terselip asumsi itu pada otak Lintang, lantaran ia sudah menghilang dari TKP saat kejadian itu berlangsung.