[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Hai, haii Untuk jadwal mingdep, kemungkinan aga telat yaa guyss maafkaann, last week of exam soalnya 🙏🙏😶 Anyway, stay safe ya manteman!
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam ini, Lintang memutuskan untuk mengunjungi SMA untuk mencari tahu perkara misteri itu. Ia ditemani Mega dan Alea, serta Awan dengan kameranya yang aktif. Ia berencana untuk mendokumentasikan apapun yang akan mereka temukan setelah ini.
Lintang melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Tenang saja, mereka tidak berani pergi ke sana di atas jam tujuh. Jadi waktu mereka kurang lebih satu jam untuk menyelidiki sebelum ibunya pulang bekerja.
"Kamu yakin sungguh mau pergi?" Ningsih kembali melemparkan pertanyaan yang sama. Ia melirik Seina yang menunggu di depan gerbang. "Bantuin orang asing yang bahkan kita nggak tahu asal-usulnya," ucapnya, lagi-lagi nadanya terdengar ketus kalau menyangkut tentang gadis itu.
"Nanti ternyata, cuma mau manfaatin kamu aja. Atau lebih parahnya, bisa jadi ngincar jiwa kamu." Sebenarnya, tidak ada yang salah dari asumsi itu. Kekhawatiran Ningsih bisa dimaklumi lantaran memang tidak ada informasi tambahan mengenai tujuan Seina.
Sejak kedatangannya, mereka memang tidak bisa akur. Entah apa yang menyebabkan, mungkin hanya perasaan cemburu semata akan kehadiran sosok lain yang bisa mengancam posisinya sebagai penasehat utama. Barangkali benar, untuk sementara itulah kesimpulan Lintang. Ia tidak ingin terlalu berpikir pusing.
Padahal, tidak biasanya Ningsih berlaku seperti ini pada orang lain. Ia cukup ramah.
"Ya setidaknya, kita bisa bantu kan," jawab gadis itu seadanya.
Justru kalimat itu semakin membuat Ningsih yakin dengan kecurigaannya. Kini ia berpindah melayang tepat di depan Lintang. Menatap lurus ke arah wajah itu, berusaha mencari celah.
"Aku tahu bukan itu maksud aslimu."
Tebakan itu membawa sebuah respon lain bagi Lintang. Ia tahu, Ningsih memang sudah mengenalnya lebih lama dibandingkan semua makhluk tembus pandang yang pernah ditemui. "Benar, seperti pepatah yang selalu laris sepanjang zaman. Tidak ada yang gratis di dunia ini," helaan napas kecil mengakhiri pendapatnya. Lintang menunduk, menggesekkan sendal merah itu ke tanah beberapa kali sebagai reflek dari rasa bosannya.
Sementara Ningsih tak bisa berbuat banyak, tapi dari raut wajahnya sudah terlihat lebih puas dibanding sebelumnya. "Lebih baik begitu, aku nggak mau kamu ambil resiko besar hanya untuk omong kosong."
"Tenang."
Tangannya bergerak menarik resleting jaket, seiring udara kian berusaha menyerang. Tatap mata itu jatuh pada sosok gadis berseragam sekolah yang masih diam di depan, sebab tak bisa masuk lantaran Lintang baru saja memperbarui pembatas rumahnya.
"Berharap saja, dia tidak akan melakukan sesuatu yang ceroboh."
***
Lain cerita beberapa waktu kemudian, di dalam gerbang sekolah, dua gadis tengah duduk diam pada kursi depan pos satpam. Alea terus mengedarkan pandangannya ke penjuru arah. Berusaha untuk waspada dengan apa yang akan terjadi-muncul. Tangannya terus mencengkram kuat senter saking takut dengan aura mencekam di sekolah ini. "Ini kita harus nungguin mereka berapa lama lagi sih?"