[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Namun, akan direvisi dan dipublikasikan ulang secara bertahap pada Februari, 2026.
Ini hanya cerita fiktif semata untuk menghibur readers! Tidak berhubungan dengan pribadi karakter asli tokoh atau idol di dunia nyata.
And ini asli karya author sendiri!📌 Jadi kalau ada suatu kemiripan di cerita lain, antara emng sebuah kebetulan atau thereis something else. We didnt know, only God knows.
Dont Copy my Story📌 Masih pemula, jadi mohon dimaklumi kalau ada salah dalam penulisan. Aku sangat berharap kalian bisa menikmati cerita ini dengan senang.
Terima kasih bagi kalian yang sudah mau membaca dan juga menghargai cerita ini.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menjadi salah satu dari banyaknya orang yang menerima anugerah dari Tuhan tak pernah Lintang sangka dalam hidup. Berkah? Atau malah sebuah kutukan, entahlah, terkadang Lintang bingung harus menganggapnya bagaimana. Setiap hari, tak pernah sekalipun ketenangan mampir ke dalam agendanya. Bahkan alunan musik merambat dari earphone yang menyumpal kedua rungu pun tidak mampu untuk mengurangi suara-suara ini.
Setidaknya, ia mendapat kesempatan untuk menikmati perjalanan pulang sendirian. Walau, tidak dapat dipungkiri, belasan telepon dan pesan terus membuat ponselnya bergetar. Lintang mengabaikannya. Hanya untuk hari ini, ia ingin menenangkan diri.
Tahun lalu, terlalu banyak hal yang terjadi. Saking banyaknya, Lintang mengalami trauma yang membuatnya harus berkonsultasi dengan psikiater. Gadis itu mendongak, menatap ke langit-langit kereta. Perlahan tangan Lintang naik, meraba mata kanan, lalu menutupnya. "Aku tidak ingat kapan terakhir kali bisa menjalani hidup normal sebagai gadis biasa semenjak mereka menggangguku dengan sengaja hingga membuat mata ini melihat apa yang seharusnya tidak bisa dillihat." Tawa hambar keluar dari bibirnya, "Sepertinya ini memang tujuannya, mereka ingin aku melihat esensinya, bukan? Mereka ingin melihatku sengsara, lucu sekali."
Harusnya sejak dulu, memang Lintang tidak seharusnya dekat dengan siapa pun.
Bibir kecil itu membuang napas kecil. Sepertinya, ia terlalu kelelahan hari ini hingga berpikir yang tidak-tidak. Jika mereka mendengar kalimat itu terucap, bisa-bisa Lintang akan mendapat ceramah gratis dari semua orang saat ia pulang nanti.
"Mengalami hari yang berat ya, Nduk."
Mendengar seseorang mengajaknya mengobrol, lantas spontan membuat Lintang melepaskan sebelah earphone-nya. Ia mendapati seorang wanita paruh baya tengah menatap, dengan baju kebaya motif bunga serta jarik cokelat khas yang sering dipakai orang tua jaman dulu. Lintang tak terlalu memperhatikan wajahnya, entah karena terlalu malas atau pandangannya yang tiba-tiba memburam. Meski begitu ia tetap memberikan senyum ramah, "Nggih, Mbah. Ada kegiatan di sekolah."