[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Haii haii guyss!! Maaf bangettt minggu kemaren ga update, tugas numpuk plsss Jadi, aku ganti hari ini yaa, maafkannn hehee Happy reading 🌼
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Angin semilir berhembus melewati lorong-lorong sekolah. Walau banyak siswa berkeliaran di jam istirahat, suasana pada hari itu sama suramnya seperti langit yang hanya menunjukkan warna abu-abu tua. Jonathan yang tengah berjalan di lorong sendirian, terus tersenyum menatap ponselnya. Sudut matanya menangkap presensi yang tengah bersandar di balik tembok. Jonathan senang, ia tidak perlu repot-repot untuk mencarinya.
"Gue tahu lo lagi rencanain sesuatu," Harun sembari menarik salah satu sudut bibirnya, kedua tangan terlipat di dada.
Lelaki yang ditanya tersenyum manis, kakinya berhenti begitu saja. "Lo juga, kan?" Jonathan membalas dengan santai, kepalanya menoleh ke samping. "Oh, iya. Gue turut prihatin tentang apa yang terjadi kemarin. Skorsing lo jadi nambah deh," katanya dengan wajah prihatin.
Decakan kesal mengudara, Harun lantas menyimpan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Basi. Gue tahu itu ulah lo." Kemudian menghampiri Jonathan yang memiliki tinggi hanya sebatas pundaknya. "Harusnya tugas gue udah kelar, kalau aja lo gak ngadu," desisnya.
Jonathan mendengar itu lantas tertawa kecil, "Wow, wait. Kayanya lo salah paham. Lagi pula, bantuin temen yang sedang di-bully, bukannya tugas seorang OSIS? Wajar kan, gue ngadu," ujarnya sembari menutup layar ponsel. Ia menghadap sepenuhnya ke arah Harun, sepertinya mulai tertarik dengan arah pembicaraan ini.
"Gue lihat-lihat, lo peduli banget. Tertarik?" tanyanya tanpa ragu sama sekali.
Tanpa diduga, Jonathan menyembunyikan ranum. Wajahnya semakin cerah. "Mungkin ... " Harun tersenyum meremehkan, jawabannya terdengar sangat memuakkan di telinga pemuda itu. Ditambah binar mata aneh yang ditunjukkan Jonathan saat membahasnya. "Dia juga nurut, plus kalem banget. Gue suka."
"Lagi pula," bibirnya semakin ditarik ke atas, membentuk sebuah senyuman lebar. "Dia sangat istimewa."
Namun, setelah mendengar hal itu Harun malah mengepalkan tangannya, "Jangan coba-coba lo deketin dia!" desisnya tajam. Kerah kemeja putih Jonathan ditarik secara tiba-tiba, membuat pria pendek itu harus berjinjit untuk mengimbangi agar tak tercekik.
Alih-alih takut, Jonathan tetap tenang. Justru merasa menang, lantaran umpannya termakan secepat ini.
Sorot mata cokelat gelap itu menusuk ke arah lawan. Dengan suara rendah nan mengancam,
"Dia mangsa gue."
Keduanya sama-sama beradu napas, dan diam sebab masih dalam emosi yang tak stabil. Hingga dari arah belakang, suara beberapa pasang sepatu berjalan mendekat. Harun yang sempat teralihkan, kembali menatap Jonathan, menegaskan kembali pernyataan sebelumnya.