[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Disclaimer dulu guys, apa pun yang dilakukan Lintang pada saat menghadapi masalah mistis, 80% murni fiksi aja ya. Mungkin, ada beberapa yang berdasarkan kepercayaan orang tua zaman dulu, tapi tidak disarankan untuk dicontoh di dunia nyata ya. Kita kembalikan kepercayaan pada yang Kuasa. Author hanya menambahkan beberapa elemen kaya urban legend dan mitos untuk menambah kesan klasik dari cerita ini. Prepare ur self, chapter ini bakalan panjang😵
Happy reading 🦋
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini sudah yang kelima kalinya Jiwo berdiri di depan kamar Janar, memanggil pemuda itu, dengan harapan untuk mendapatkan tumpangan ke sekolah. Ia melirik ke arah jam, gerbang akan tertutup kurang dari sepuluh menit lagi.
"Bang, gak sekolah, kah?"
Awalnya, ia kira Janar sudah berangkat terlebih dahulu. Namun, sepasang sepatu hitam di rak mengatakan sebaliknya. Sepatu pantofel khas milik Janar seorang di kos ini.
Sungguh tidak bisa dipercaya, murid yang menyabet gelar teladan selama hampir tiga tahun di sekolah, akhirnya bangun kesiangan. "Ya, gue seneng sih Bang. Ada temen telatnya, tapi gak sampai mepet bel masuk juga." Pinggangnya terasa pegal, Jiwo sampai meletakkan kedua tangan di sisi perut guna menahan.
Dari arah tangga, terdengar langkah pelan menyusuri. Harun mengerutkan dahi menemukan teman sekelasnya. "Ngapain belum berangkat, Wok? Biasanya subuh udah ilang."
Mendengarnya, Jiwo sempat tersanjung sesaat, juga jengkel akan ekspresi dan intonasi kalimat itu lebih terdengar mengejek. "Kaya lo bisa bangun subuh aja." Pasalnya, ia seringkali mendengar umpatan-umpatan di tengah malam buta. Berujung pada buku pelanggaran Harun yang hampir penuh di kolom keterlambatan. "Niatnya mau nebeng Bang Janar sih."
Harun mengangguk-angguk sembari bibirnya membentuk lingkaran, melewati tetangga kamar guna duduk di dekat rak sepatu. "Oh. Ya udah ama gue aja," ajaknya masih menguraikan tali sepatu.
"Tapi gue mau cek dulu, nanti orangnya sakit dan mau jastip KIS." Jiwo sendiri sejujurnya tidak yakin Janar akan membukakan pintu untuknya. Ia hanya ingin memastikan kondisi kos tetap tenang dan aman untuk ke depan, semenjak Jiwo mulai merasakan gelisah tanpa sebab akhir-akhir ini.
Suara hentakan kaki yang datang dari arah atas mendebarkan jantungnya. Kali ini, Awan muncul dengan wajah tegang dan langkah yang tergesa-gesa. "Wan, tumben lo juga telat," sapa Jiwo.
"Iya, gue bantuin Bang Adam ngedit tugas video kemarin," balasnya tanpa menoleh ke arah yang bertanya. Awan langsung duduk di ambang pintu—sedikit agak jauh dari Harun, mengambil sepatu, lalu memakainya tanpa banyak bertingkah lagi.
Jiwo yang menyadari suasana mendadak agak tegang. Ia jelas mendengar soal perselisihan mereka yang telah menyebar, terutama di angkatan kelas sepuluh. Tak ada yang buka mulut, termasuk Harun sendiri. Seolah, keduanya asing satu sama lain. Hanya mendengarkan suara sol yang dibenturkan beberapa kali ke lantai sembari Awan mendorong kakinya masuk ke dalam sepatu.