17. Unexpected Truth From Her

236 44 4
                                        

HaloOo, guys!
Kalian absen ke berapa nih??
Happy reading

***

Lintang baru saja menerima pesan dari Awan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lintang baru saja menerima pesan dari Awan. Gagalnya rencana kemarin tidak membuat gadis itu menyerah. Ia memberikan perintah pada teman sebangkunya itu untuk menjadi pengawas bayaran. Sekedar bertugas sebagai informan semata. Lintang khawatir, jika ia bertindak lebih dari itu, akan membawa masalah baru lagi yang bisa menyulitkan Awan.

Dari layar, ada beberapa tangkapan gambar yang telah dikirimkan, menampilkan titik-titik tertentu yang telah diminta Lintang. Kondisi kosan sepertinya masih aman lantaran kemarin telah dibersihkan dengan lantunan ayat suci. Ia bekerja sama dengan Jiwo, itu pula juga menyempatkan sebab Aji tidak kunjung pergi. Padahal Lintang tidak menyangka sama sekali bahwa lelaki itulah yang akan mengusik rencananya, di kala penghuni kosan sudah berhasil diatasi. Diamatinya, aura yang terpancar dari foto normal saja. Tidak ada yang aneh.

Bersyukur, sepertinya Lintang tidak perlu terlalu boros tenaga untuk terus memantau mereka. Walau tetap saja, ada sesuatu yang mengganjal sebenarnya. Raut wajahnya yang berkerut perlahan kembali semula seiring ia mengetikkan balasan.

"Tumben jarang muncul akhir-akhir ini," ucapnya tiba-tiba setelah merasakan leher belakang seolah ditiup oleh angin kecil.

Ningsih, perempuan berkebaya itu duduk di atas pembatas tangga. "Aku jadi agak sungkan mau keluyuran di rumah, ada ayahmu." Kehadirannya membuat Ningsih agak terintimidasi sebenarnya oleh aura yang menguar dari pria itu. Segan juga lantaran dari awal, Pak Ridwan yang telah mengizinkannya untuk tetap tinggal di sisi Lintang.

"Walau kamu ngendap di kamarku juga orangnya tetap akan tahu," gadis itu memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu berjalan turun, "kalau kamu lupa, di rumah ini hanya ibu yang tumpul banget." Meski sudah berulang kali mencoba, Bu Wati tetap tidak bisa melihat apapun. Waktu pewarisan, beliau ingin menggantikan posisi Lintang, tak rela jika hidup putri semata wayangnya harus berubah sepenuhnya, atau bahkan mungkin tidak sama lagi. Namun sayangnya, Bu Wati tidak memiliki potensi itu. Alhasil, pengganti Hasim yang seharusnya menjadi pewaris dari kemampuan ini sekarang beralih kepada Lintang.

Untuk sementara saja.

Ayahnya tidak pure bisa melihat sepenuhnya. Beliau juga hanya diwarisi potensi untuk bisa merasakan, dan menjadi wadah dari leluhur.

"Kemungkinan, selama dua minggu ini beliau di rumah, sebelum berangkat lagi ke Kalimantan."

"Pindah tempat lagi?"

Lintang mengangguk, "Biasalah. Ngikut bos, proyek baru."

Terdengar suara ayahnya tengah berbincang-bincang, yang Lintang yakin itu bukan sang ibu karena beliau selalu sibuk sebelum pergi ke butik. Bu Wati harus memastikan lebih dari sekali bahwa tidak ada pekerjaan yang belum terselesaikan di rumah agar saat bekerja tidak akan kepikiran. Seringkali, Lintang harus juga ikut memeriksa ulang demi ketentraman hati beliau.

No Soul : Beyond The GateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang