Ditemani alunan musik dalam mobil, Lily menangis sesenggukan di pangkuan Jaden. Keadaannya sangat berantakan. Baju toga yang dia kenakan sudah kusut, begitu pula dengan make up yang satu jam lalu masih menempel indah di wajahnya.
"Masih lama nangisnya? Aku pegel," ujar Jaden. Laki-laki itu baru sampai di Indonesia pukul tujuh pagi, dan langsung menghadiri acara wisuda Lily. Belum lagi, kedatangannya tidak disambut baik oleh teman-teman kekasihnya. Dia juga mendapat pukulan dari Abra. Ya, Abra marah karena Jaden tak pernah menghubunginya dan menelantarkan Lily selama tiga tahun.
"Sakit?" tanya Lily dengan suara serak. Gadis itu mengusap pipi Jaden yang lebam akibat pukul Abra dan tamparan dari sahabat-sahabatnya.
Jaden menahan tangan Lily yang bertengker di pipinya, menciumnya agak lama, baru menggeleng pelan menjawab pertanyaan kekasihnya. "Ini nggak seberapa, Ly. Kamu pasti jauh lebih sakit. Aku jahat banget ya?"
Lily menganggukkan kepala, hal itu membuat Jaden menunduk. Waktu itu, dia juga benar-benar tidak tau, rencana Ayahnya berubah dengan tiba-tiba. Mau tak mau, Jaden harus menurut.
Jemari Lily berlabuh di rahang Jaden, mengangkat wajah laki-laki itu dan menatapnya lekat. "Kamu jahat, tapi bukan berarti aku nggak mau maafin kamu."
Kedua bola mata mereka sama sekali tak bisa berbohong. Mereka, saling merindu. Tatapan Lily jatuh pada bibir Jaden, kemudian berkata. "Masih ingat utang kamu, kan?"
Sudut bibir Jaden terangkat, dia menurunkan sandaraan kursi mobil yang tengah mereka duduki. Degung jantung Lily menggila hanya karena tindakan Jaden barusan. Posisi mereka saat ini terlalu .... berbahaya.
"Cium kamu?" tanya Jaden sembari mengangkat alis, lalu dengan secepat kilat mempertemukan bibir mereka. Lily meremas bahu laki-laki itu, saat Jaden mengigit pelan bibirnya meminta akses lebih. Awalnya Lily ragu-ragu, namun lumatan Jaden benar-benar membuatnya turut terbuai. Tangan yang sedari tadi di bahu Jaden, kini berpindah menjambak pelan rambut milik laki-laki itu. Bibirnya reflek terbuka, memudahkan Jaden memperdalam ciuman mereka. Hingga lama kelamaan, bibir Jaden turun ke leher jenjang Lily yang terekspos.
"Eungh, Jaden." Dengan cepat, Lily menjauhkan Jaden darinya. Dia tidak mau mereka melakukan sesuatu yang belum seharusnya mereka lakukan.
Jaden langsung menggelengkan kepalanya sembari mengumpat pelan. Dia bisa saja kebablasan jika Lily tak memberinya intrupsi. "Maaf," ucapnya.
Lily turun dari pangkuan laki-laki itu, merapihkan penampilannya, lalu berdehem sebentar. "Emm, nggak papa, kan aku yang duluan mancing kamu."
Hening. Suasana canggung tiba-tiba menyelimuti mereka.
"Aku .... aku anterin kamu pulang." Jaden langsung menjalankan mobil tanpa menunggu jawaban dari Lily. Diam-diam, kekasihnya itu menertawai tingkah Jaden yang tengah ketakutan. Benar-benar menggemaskan.
Perjalanan ke rumah Lily dipenuhi oleh keheningan. Jaden masih meruntuki kebodohannya tadi sedangkan Lily bingung bagaimana cara mengkode Jaden agar segera membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius lagi.
"Ly? Udah sampe." Jaden melepas sabuk pengaman milik Lily, barulah gadis itu tersadar.
"Ah iya, makasih."
Jaden tersenyum lalu mengangguk singkat. Saat Lily hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba tangannya dicekal pelan oleh Jaden. "Kenapa, Den?"
Hela napas gugup terdengar jelas di telinga Lily. Jaden beralih menggenggam jemarinya. "Kalau besok aku ngelamar kamu, gimana?"
*****
NOTE :
Gini? Apa masih kurang?
KAMU SEDANG MEMBACA
BACKSTREET [END]
Fanfiction(YIBO X LISA) Jaden dan Lily saling mencintai. Tetapi Gardacita dan Mayapada saling membenci. Tradisi yang kronologinya masih terkunci itu membuat hubungan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Akankah hubungan mereka berdua aman hingga hari k...
![BACKSTREET [END]](https://img.wattpad.com/cover/272793222-64-k185954.jpg)