Kenma menatapi pemandangan apartemen milik [Name] Rapi tertata serta bersih. Ruang tamu di depan dipisahkan dari dapur dengan lemari dengan kaca berwarna hitam semi transparan. Di samping kiri dapur ada pintu yang sepertinya adalah pintu kamar mandi. Dan di dekat meja makan ada pintu yang sepertinya adalah kamar tidur.
Ketika dia menoleh ke bawah, dia seperti ditatapi oleh dua kucing ini. Kemudian, satu kucing belang nampak ikut menatapinya dengan tajam. Kenma membalas tatapan mereka tak kalah tajamnya.
Seperti mengerti, kucing oren di tengah mengerang.
"Grrr..."
"Graw..." Balas Kenma tak ingin kalah dari ketiganya.
"Kenma-san?"
"Ngga ngapa-ngapain." Jawab Kenma langsung saat [Name] menghampirinya dengan dua piring di tangan.
"He?"
"Kamu ngga liat apa-apa." Sela Kenma langsung. Wajahnya merona saat ini. Sekali lagi dia melakukan hal memalukan. Sungguh.
"Denger kok." [Name] menggoda Kenma.
"Kamu ngga denger apa-apa." Ucap Kenma lagi. [Name] hanya mengangguk-angguk lalu meletakkan salah satu piring di depan Kenma lalu piring lainnya dia letakkan di sisi berseberangan dari tempat Kenma duduk.
"Bom-bom, Yoyo, Nana! Jangan jadi preman. Sini!" Name mengambil satu wadah yang cukup besar lalu membuka tutupnya. Dia kemudian menuangkan makanan kucing itu di lima mangkok. Segera lima kucing itu mendekati mangkok itu.
"Sini, Pin disini aja, Cantik. Ngga usah ganggu Bom-bom. Entar dipukul lagi."
Nasehat [Name] pada salah satu kucing asuhannya. Kenma hanya mengernyitkan kepala, tidak mengerti dengan bahasa yang dipakai gadis itu.
"Kenma-san, langsung makan aja." Suruh [Name] berjalan menghampiri meja makan.
"Itadakimasu." Ujar keduanya serempak. Kenma menatapi mie di depannya. Mie ini berwarna merah dengan wangi pedas yang menyengat.
Dia langsung memasukkan mie itu ke dalam mulutnya. Seketika wajah Kenma memerah, dari telinga hingga ke pipi. Rasanya semua kotoran telinganya meleleh karena pedasnya mie itu.
[Name] yang melihatnya langsung panik lalu mengambil segelas air minum. Dia memberikan gelas itu agar Kenma bisa segera minum.
"Maaf, maaf. Lupa bilang kalau yang ini pedas. Gapapa?"
"Gapapa." Dilihat dari sisi manapun Kenma tidak baik-baik saja, tetapi dia masih saja memakan mie yang pedasnya kelewatan itu.
"Engga, Aku bisa bikinin yang baru kok." [Name] prihatin melihat wajah Kenma yang sudah sangat merah. Namun, pria bersurai panjang itu terus saja memakannya.
"Kenma-san. Aku bikinin yang ngga pedes ya." Name beranjak berdiri dari kursi lalu kembali ke kompor. Dengan segera dia memasak air di panci.
"Engga. Yang ini enak kok."
"Beneran?"
Baiklah, kini [Name] super duper merasa bersalah. Kenma sudah telat makan karena mengantarnya, eh kepedesan lagi.
~
"Douzo. [Silahkan.]" [Name] meletakkan segelas teh hangat di atas meja ruang tamunya.
"Arigatou. " Kenma meminum teh yang disajikan oleh perempuan cantik itu. Matanya sedikit terbuka.
'Manis.'
"Bom-bom! Jahil amat. Astaga. Cape aing atuh." Lagi-lagi, [Name] menceramahi kucingnya yang mencoba melakukan parkour. Dan Kenma sama sekali tidak mengerti ucapan gadis itu. Mungkin dia harus mempelajari bahasa salah satu negara di Asia tenggara tersebut.
"Nana. Sini." Kali ini Kenma bisa mengerti ucapan gadis itu.
"Kenma-san, hajimemashite. Watashi wa Nana desu. " [Name] berbicara dengan suara meniru anak kecil sembari menggerakkan tubuh kucing putih itu.
"Hahahaha. Salam kenal, Nana."
'Gemas.'
"Kenma-san suka kucing?" Tanya [Name] memulai topikal baru lagi.
"Suka."
"Aku mau cari orang yang mau adopsi mereka berlima. Karena, ga bisa dibawa balik. Kalo bisa juga, orang rumah ngga bakal setuju." Curhat [Name].
"Ada tahu orang yang mau adopsi ngga?"
"Hm... Nanti aku coba bantu cari. Mungkin bisa juga pasang di website atau media sosial?" Ucap Kenma sembari membelai gemas kucing yang kini naik di pangkuannya itu.
"Soalnya kasihan kalau diliarin atau di taruh di penampungan hewan. Cari pemilik adopsi yang baik juga sulit." Lanjut Kenma nampak sedikit berpikir.
"Iya ya." [Name] menghela nafas pelan sambil menatapi Nana yang bermain dengan Kenma. Tak lama kucing berwarna oranye ikut duduk di sofa dan menatapi Kenma yang sedang bermain dengan temannya.
"Miao..." Kucing oren itu mengeong seperti mengajak bertarung. Mungkin dia pertama kali melihat kucing jantan berbelang tiga?
"Jangan jadi preman, Yo" [Name] menepuk pelan kepala kucing preman itu. Kenma terkekeh geli.
"Pret."
Kenma dan [Name] saling menatap dengan mata yang terbuka lebar. Segera [Name] memalingkan wajahnya menahan tawa. Tangan Kenma sedikit menutupi bokongnya.
"Kenma san... Toiletnya ada di samping meja makan. Nana, sini." [Name] memanggil kembali kucingnya yang nampak nyaman dan tak ingin lepas dari Kenma.
"Em." Kenma berdehem lalu segera berlari kecil menuju pintu di samping meja makan gadis itu.
Wajahnya benar-benar merah. Dadanya seperti tergelitik sendiri. Memalukan. Sungguh memalukan.
~
"Selamat malam, dengan Kozume-san?" [Name] berbicara dengan Handphone Kenma yang ditempelkan olehnya pada telinganya.
Dia mencoba menghubungi ibunya Kenma. Mengapa tidak ayahnya? Coba saja kalian di posisinya, pasti milih menelepon ibunya.
"Iya. Ada apa ya? " Suara di balik telepon terdengar cemas. Bagaimana tidak, anak semata wayang miliknya belum pulang dan kini teleponnya dipegang orang lain.
"Ano... Saya [Name]. Tadi Kenma-san main ke rumah saya sebentar. Tapi, mendadak dianya diare. Kozume-san, bagaimana ya? Dianya masih di toilet lagi. Udah bolak-balik." [Name] menceritakan keadaan anak nyonya Kozume sekarang. Sungguh memprihatinkan. Sekarang dia super duper mega merasa bersalah.
•
•
•
Kenma kentut termencret-mencret. Awokawokawok 👍
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo's Rain (Kozume Kenma x Reader)
Fanfiction"Karena kamu ngga kenal aku?" Ujar gadis itu memberi jawaban. Aneh. Itulah yang ada di benak lawan bicaranya kini. "Kozume." "Kozume kenma." Ujarnya lagi menatap lurus aliran air dari atap halte itu. "Hah?" "Aku... Masih ngga kenal kamu." *Inget ya...
