“ Kenma, curhat boleh?” Tanya [Name] menatap langit malam musim panas kota Tokyo. Bintang-bintang terlihat bertaburan ditemani dengan bulan setengah lingkaran yang cantik.
“Hm? Waktu pertama ketemu aja udah asal curhat kok.” Canda Kenma menatap [Name]. Itulah kenyataannya. Dia tak sengaja menjalin hubungan dengan seorang gadis aneh yang sembarangan.
“Ya, ngga sengaja.” Balas [Name]. Mengingat hal itu saja sudah cukup membuatnya malu. Dia seperti anak perempuan yang kebanyakan beban sampai menceritakan keluh kesahnya pada pria asing. Awalnya dia mengira Kenma adalah perempuan sih.
“Hahahaha.”
“Aku sedikit menyesal bertemu dengan Kenma. Kalau tahu, harusnya hari itu aku naik kereta saja.” [Name] mulai membuka suara lagi.
“Gitu ya, aku juga menyesal. Tetapi, bila kau tak bertemu denganku, bisa-bisa kamu bunuh diri sebelum waktunya yakan?” Kenma menjawab. Matanya menatap mata [Name]. Nampaknya mata gadis itu sudah membaik. Karena dia tidak mencoba memotret langit.
“Tapi, kamu juga tidak mau bertemu orang yang akan pergi sepertiku kan. Aku juga tidak ingin mendapat orang yang memberatkanku. Aku, tidak ingin. Ha... Aku tak ingin pergi meninggalkan Kenma. Aku...” [Name] kesulitan berkata-kata lagi.
“Kau sudah harus pergi. Kamu sudah lelah bukan?” Kenma menatap lurus ke arah langit.
“Em. Aku capek. Aku, ngga mau disini lagi. Aku ngga ingin menghadapi mereka lagi.” [Name] mulai menangis pelan. Dadanya terasa sakit bukan main. Bukankah tidak sopan dia berkata seperti itu pada orang yang berharap bisa menghabiskan waktu lebih lama dengannya?
“Aku gapapa. Aku ngga mau menahanmu.” Kenma tersenyum. Dia nampak seperti tak ingin melihat wajah [Name]
“Kenma, jangan lupakan aku. Ya?” [Name] ikut menatap lurus ke depan. Dadanya sesak menatapi Kenma.
“Ngga bakal kok.”
"Hahaha... Egois banget ngga sih?"
"Iya."
"Haha... Sebenarnya aku jarang cerita sama orang. Karena setiap aku bercerita, mereka ngga ngerti. Mungkin karena bahasa Indonesiaku agak jelek. Kalau ngomong agak hancur kalimatnya? Tapi menurut aku sih ngga gitu. Hahahaha."
Syukurlah bahasa Jepangnya sangat bagus hingga Kenma bisa mengerti. Selama ini dia bila dia bercerita panjang lebar, orang itu menjawab "Ngga ngerti aku. Cerita apaan sih?"
Kenma hanya diam saja. Mendengarkan ucapan dari [Name]. Dia juga tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Selain itu, [Name] pasti lebih membutuhkan pendengar.
[Name] diam sebentar.
"Aku ngga ngerti gimana, tapi kalau dalam pertemanan berkelompok, pasti ada satu orang dominan. Awalnya aku biasa aja, tapi aku sadar. Mereka sering ngomongin aku di belakang."
"Sok cantik lah, sok pendiam, sok pintar. Dan mereka terus aja gitu di belakang, kalau di depan mah, minta jawaban terus."
"Trus ya, tiba-tiba cowok yang disuka sama si dominan tadi, ngajak aku pacaran." Kenma mendelik mendengar hal itu.
"Dan boom. Aku dikucilkan. Hahahaha... Lawak banget ngga sih?"
[Name] menoleh.
"HE'EM." Kenma mengangguk dengan cepat.
"Cewek itu rumit."
"Yakan."
"Trus... Siapa yang saling bunuh?" Tanya Kenma. Pertanyaan yang keluar dari mulut temannya membuat [Name] sedikit terkejut.
"Orangtuaku." [Name] merasakan ada cairan yang mengalir dari hidung sebelah kirinya. Dia menengadahkan kepalanya menatap ke langit berbintang di atas namun air itu tetap mengalir.
"Gitu ya." Kenma menatap lurus hinga tak melihat [Name].
"Ayahku pernah selingkuh. Kalau ngga salah itu waktu aku berumur 10 tahun? Iya benar, deh. Waktu itu hujan. Ibuku terus saja berteriak histeris."
~
"DASAR J*ALANG! BERENGS*EK!MATI KALIAN! MATI! MATI SANAA!!" Pekikan wanita itu terus terdengar suaranya terdengar sangat frustasi dan putus asa. Tangannya terus melempar benda apa saja yang ada di ruang tamu itu.
[Name] berdiri disana menatapi kejadian itu. Dia bahkan tak berani menangis sangkin takutnya melihat kejadian itu. Ibunya terus memaki dua orang itu tetapi ayahnya menenangkan perempuan di belakangnya.
[Name] tak bisa berpikir lagi. Apa salahnya hingga dia harus melihat hal seperti ini? Dia ingin berlari keluar. Tetapi kakinya lemas tak ingin bergerak sama sekali. Ibunya kemudian pergi meninggalkan dua orang itu pergi ke belakang rumah.
"Ngga apa-apa. Jangan nangis ya, sayang?"
[Name] membeku mendengar ucapan ayahnya. Tangan ayahnya mengelapi air matap perempuan itu. Tidakkah dia melihat bahwa [Name] juga menangis disini? Gadis kecil itu terduduk lemas dengan air mata yang terus menyucur keluar.
Dia takut. Suara petir dan hujan di luar sangat deras. Dia ingin mendekati ayahnya agar ayahnya bisa menenangkannya. Atau meminta ibunya tidur memeluknya. Tapi, ada satu rasa takut yang lebih besar lagi.
Mulutnya bahkan kelu untuk memanggil ayahnya. Dadanya serasa diremas-remas. Air matanya sudah membasahi lantai. Ayahnya sama sekali tak menatapnya. Ayahnya tertawa menatap perempuan itu. Perempuan sialan itu.
Tak lama ibunya datang dari dapur. Membawa setumpuk piring lalu menjatuhkan semua piring itu begitu saja. Sakit. Pecahan kaca itu melukai lengannya.
"MATI SAJA KALIAN! MATI! KUBUNUH KAU! KUBUNUH! MATI! MATI! MATI!" Ibunya kian melempari dua orang itu dengan pecahan piring itu tanpa memikirkan apapun.
Tubuh [Name] bergetar. Dia tak bisa apa-apa lagi. Dia menganggukkan kepalanya kemudian mulai menangis bersuara. Ketiga orang itu menoleh menatapinya. Dadanya naik turun tak beraturan. Dia tidak tahu lagi apa yang mengalir keluar dengan amat deras dari hidungnya.
Ibunya lalu pergi menghampirinya mengusap darah di atas bibirnya.
"[Name]... [Name]..." Perempuan itu memeluknya kemudian mulai menangis.
[Name] menatapnya disana. Ayahnya mengusap pelan wajah wanita itu dengan amat lembut. [Name] membalas pelukan ibunya. Dua ibu-anak itu menangis bersama.
•••
Anjim. Berderai air mata gue nulis bagian akhirnya biar dapet feel wkwkwk. Hayuk dibayangin biar nangis bareng.
Buat yang kemarin nethink, sini. Tobat lo hayuk.😀🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo's Rain (Kozume Kenma x Reader)
Fanfiction"Karena kamu ngga kenal aku?" Ujar gadis itu memberi jawaban. Aneh. Itulah yang ada di benak lawan bicaranya kini. "Kozume." "Kozume kenma." Ujarnya lagi menatap lurus aliran air dari atap halte itu. "Hah?" "Aku... Masih ngga kenal kamu." *Inget ya...
