[Name] melangkah masuk ke dalam ruangan kelasnya. Mengambil tempat duduk disana lalu mencoba untuk membaca dan memahami buku pelajaran berbahasa Jepang di tangannya itu. Sebenarnya yang sulit adalah membaca huruf-huruf kanji pada kertas tersebut, Membaca saja sulit, bagaimana dengan memahami isinya. Selain itu dia sedikit janggal dengan kacamatanya.
"ADA LOH! PACARNYA KENMA!" Suara keras itu mencuri atensi [Name] dari buku itu.
'Rambutnya Putih!' Seru gadis itu dalam hatinya. Tunggu dulu, bukankah Kenma tidak memiliki pacar? Apakah temannya itu berbohong? Kalaupun iya, bagaimana mungkin bisa pas sekali di kelasnya.
Tidak, pria berbadan besar dan tinggi itu berjalan ke arahnya.
"Bener kan, Akaashi." Ucap Bokuto meminta pembenaran dari adik kelasnya. Tangannya menunjuk gadis berkacamata itu meski sudah dekat.
"Bokuto-san, tidak sopan menunjuk orang begitu." Akaashi sedikit menurunkan tangan kanan Bokuto yang tak menunjuk asal gadis yang tak dikenalnya.
"Maaf ya... [Name] san." Akaashi mencoba mengingat nama yang disebut oleh wali kelasnya sekitar seminggu yang lalu. [Name] lantas menunjuk dirinya untuk memastikan sekali lagi. Akaashi sedikit mengangguk bingung.
"Maaf... Pacarnya Kenma-san?" [Name] memastikan ucapan dua sejoli itu sekali lagi. Bokuto mengangguk cepat menanggapi gadis cantik itu.
"Maaf ya, itu cuma candaan Kuroo-san. Bokuto-san terlalu menganggap serius." Kata maaf terus terucap di awal kalimat dalam percakapan mereka.
"Ah! Ngga, ngga apa-apa kok... "
"Saya Akaashi Keiji." Pria itu memperkenalkan dirinya dengan bahasa formal.
"Ngga apa-apa kok, Akaashi-san." Lanjut gadis itu tersenyum dengan pipi bersemu merah. Sungguh, candaan Kuroo menbuatnya berdebar-debar.
"Tapi... Kau tampak sama seperti Kenma ya. Tidak bergaul dengan orang." Ceplos Bokuto begitu saja yang mengundang pelototan dari dua orang di dekatnya. [Name] sedikit terkejut dengan kejujuran pria itu.
Bukannya dia tidak mau bergaul, tetapi orang-orang yang seperti tidak mau bergaul dengannya. Lebih tepatnya, para siswi di kelasnya. Dia pernah berusaha menimbrungi tetapi cukup sulit. Entahlah, tetapi bila di Indonesia dia juga mengalami yang serupa karena hasutan satu orang. Mungkin alasan disini berbeda. Mungkin karena dia dari luar negri? Atau memang pembicaraan mereka tidak nyambung?
Mengapa tidak mengobrol dengan yang laki-laki? Mana bisa, yang ada canggung. Kalau perihal Kenma, pada awalnya dia mengira anak laki-laki itu perempuan.
Akaashi baru menyadari hal ini. Selama ini dia selalu ditarik Bokuto kemanapun dan jarang di kelasnya saat istirahat.
"Karena sejenis makanya cepet akrab ya..." Ucap Bokuto lagi tanpa rasa bersalah dengan gaya sedang berpikir. [Name] dan Akaashi tambah melotot mendengar fakta jujur dari mulut Ace tim voli sekolah mereka.
"Bokuto-san." Tegur Akaashi sedikit menyenggol lengan berotot itu.
"Eh?"
"[Name]-san, maaf atas perkataan Bokuto-san. Jangan dimasukkan ke dalam hati." Akaashi sedikit menundukkan kepalanya merasa malu akan mulut kakak kelasnya yang asal ceplas-ceplos.
"Ah! Ngga. Ngga apa-apa kok, Akaashi-san." [Name] ikut menundukkan kepalanya sebentar.
'Sial... Bukannya ngga terima disamain kayak Kenma, tapikan bukan guenya yang ngga bisa bergaul. Mereka yang gamau."
~
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo's Rain (Kozume Kenma x Reader)
Fanfiction"Karena kamu ngga kenal aku?" Ujar gadis itu memberi jawaban. Aneh. Itulah yang ada di benak lawan bicaranya kini. "Kozume." "Kozume kenma." Ujarnya lagi menatap lurus aliran air dari atap halte itu. "Hah?" "Aku... Masih ngga kenal kamu." *Inget ya...
