What if: There's a next life

418 60 1
                                        

I fell glad that our story not ended up like that.

~

Hujan hari ini turun. Airnya membasahi segala sesuatu yang ada di permukaan tanah. Aku berlarian menerpa hujan yang deras itu. Memeluk ranselku erat, melindungi Handphone dan Nintendo switch milikku. Di dalamnya juga ada tugas seni rupa!

Menginjak genangan air hingga sepatu olahraga milikku basah.
Syukurlah aku tidak terjatuh tadi. Aku akhirnya menginjakkan kaki di area yang tidak terbasahi hujan. Sebuah halte bus di depan sebuah kafe.

Disana aku melihat seorang gadis. Dia memegang handphonenya dengan posisi horizontal serta telinga yang disumbat oleh earphone ditemani oleh Snack kentang di sampingnya.
Entah mengapa, rasanya aku ingin menyapa gadis ini. Nampaknya ini pertama kalinya aku merasakan gejolak di dadaku. Aku seperti mengenali gadis ini. Deja vu? Atau apalah itu.

Dia menatapku kemudian membuang wajahnya. Aku juga sedikit heran melihatnya. Apakah aku sebegitunya tak ingin dilihatnya?

Dengan nafas terengah-engah aku duduk di sana dan berteduh.

"S... Sore. Tiba-tiba hujan ya." Aku mendengar sapaannya. Aku kebingungan harus menjawab bagaimana. Ada orang asing yang membahas cuaca? Bukannya dia tadi membuang mukanya?

"Em."

Aku hanya berdehem tak tahu harus bereaksi bagaimana. Aku mengeluarkan handphone milikku dan memainkan game online disana.

Rasanya sangat canggung, meski begitu juga ada rasa nyaman dan senang. Aku tidak mengerti. Aku sedikit melirik menatap gadis itu. Di nampak sangat sibuk dengan handphone ditangannya. Akhirnya aku sadar darimana asal suara game ini. Earphone gadis itu tidak tersambung ke Handphonenya. Itu bergelantung tanpa terpasang.

"Mau?" Tawarnya ragu menyodorkan bungkusan Snack kentang itu. Sekali lagi aku merasa seperti terbiasa.

Dan sekali lagi aku bingung dibuatnya. Apakah harus kuterima? Ini pemberian orang asing loh. Tetapi bukannya tidak sopan menolak?

"Tidak usah." Ucapku. Itu tidak terlalu kasar bukan?

"Oh, oke." Ujar gadis itu. Dia menarik kembali snack itu dengan mulut yang dikulumnya. Dia kemudian nampak kembali bermain handphonenya dengan asik.

Aku kemudian melanjutkan game yang tadi aku mainkan.

"CIE YANG LAGI DUDUK DI SAMPING TIPENYA!!!!"

Aku sontak menoleh ke samping mendengar suara besar yang keluar dari handphone gadis itu. Aku melihat wajahnya merona malu.

"Maaf. Kabel earphone nya kecabut." Ucapnya tak enak hati. Aku hanya mengangguk. Entahlah, mendengar perkataan temannya tadi membuatku ikut merasa malu.

Suasana kembali hening lagi. Aku hanya terus bermain game hingga bosan. Mengapa bossnya sangat mudah dikalahkan? Bus juga tidak akan datang hingga setengah jam kedepan.

Aku sedikit mencuri pandang kepada gadis di sampingku. Dia masih nyaman memainkan handphone miliknya sembari mengunyah makanan di mulutnya.

Sebuah bus datang mendekat. Gadis itu lekas berdiri. Dia menundukkan kepalanya sedikit.

"Duluan. Semoga besok kita ketemu lagi." Ujarnya menaiki bus biru itu. Entah mengapa aku ikut mengangguk.

~

Hujan gerimis kini berganti dengan hujan yang cukup deras. Aku kembali datang ke halte bus itu. Disana aku melihat gadis itu lagi. Ada seorang ibu-ibu yang ikut berteduh disana. Aku kemudian mengambil tempat duduk.

Sekali lagi, gadis itu menyodorkan sebungkus permen ke arahku. Aku hanya menatapinya sebentar.

"Terimakasih." Ucapku menerima permen karamel itu. Gadis itu nampak sumringah tak karuan.

~

Hari ini hujan lagi. Hujan yang cukup deras dan berpetir. Aku duduk sendirian disini. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, hingga akhirnya aku melihat bayangan seseorang berlarian ke arahku. Aku lantas kembali fokus pada Nintendo di tanganku.

"Ah! Sore." Mendengar sapaan dari gadis itu aku menganggukkan kepala menjawabnya.

~

"Mau?" Tawarnya menyodorkan snack rumput laut kering kepadaku seperti biasanya. Aku menerimanya dan mengucapkan terimakasih.

Akhir-akhir ini hujan terus turun ketika sore hari. Aku dan dia juga ikut rutin bertemu setiap hari di halte ini. Gadis ini setiap hari memainkan game dari Handphonenya dan membawa banyak makanan ringan bersamanya.

Aku terkadang merasa tak enak karena terus ditawarinya makanan ringan. Bukankah tidak sopan bila menolak? Mungkin aku juga harus memberikannya sesuatu? Minuman mungkin? Tidak. Membayangkan hal itu saja sudah membuatku merasa enggan melakukannya. Pasti canggung sekali, atau... Ah terserahlah, yang pasti itu terdengar seperti hal yang sulit.

~

Lagi-lagi aku celingak-celinguk melihat sekelilingku. Hari ini air turun perlahan dari langit, gerimis yang cukup untuk membasahi tanah. Gadis itu tak kujung muncul. Entahlah, sejak kapan aku mulai berharap agar bisa bertemu dengannya.

Setiap sore aku sengaja datang kesini dan bertemu dengannya. Aku tak begitu mengerti, tetapi rasanya aku senang bisa bertemu dengannya. Bukankah wajar di masa pubertas ini jatuh cinta pada pandangan pertama? Hal yang terus kuanggap sebagai hal yang menggelikan sedang terjadi dalam hidupku.

Hari ini sudah telat dari waktu biasanya dia muncul. Mungkin dia tidak naik bus hari ini? Atau mungkin memiliki kelas tambahan? Baiklah... Bukannya berharap dia datang, tetapi jadwal busku masih lama. Aku juga tak bisa kemanapun.

Sepuluh menit sudah lewat.

Kini sudah 20 menit.

Dan akhirnya aku melihat dia berjalan kesini dengan sedikit berjalan cepat memegang payung dan... Bunga di belakangnya.

Dia mengatupkan kembali payungnya dan memegang lututnya kelelahan. Dia kemudian menatapku serius. Berdiri tegak dan menyodorkan bunga mawar putih itu.

Tunggu...

AKU SEDANG DILAMAR?!

~

Syukurlah rasa ini tak hilang. Hanya terpendam di lubuk paling dalam. Syukurlah, kukira kisah kita sudah berakhir dulu, tetapi kisah kita masih berjalan hingga kini. Syukurlah kisah kita bukan kisah yang memiliki akhir.

~

BONUS

"C-chotto... Nani o shimasuka? [Sebentar, kamu sedang apa?]" Ujar Kenma dengan bahasa formal setelah beberapa detik tak bisa mengeluarkan suara. Dia benar-benar terkejut melihat gadis ini menyodorkan sebuket bunga mawar putih ke arahnya dengan wajah yang merona.

Kenma menutupi mulutnya dengan punggung tangannya. Wajahnya terasa panas sekali, jantungnya berdegup tak karuan, persis seperti sedang demam tinggi. Namun, entah kenapa dia tak bisa menahan untuk tak tersenyum. Dia menyukai perasaan ini.

"KEKKONSHITE KUDASAI!"

Gadis ini memang gila.

Tokyo's Rain (Kozume Kenma x Reader)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang