29 (end)

4.6K 509 85
                                        

Haii...

...

Achana melepaskan genggaman Elang dengan perlahan, lalu berdiri dari duduknya. Achana menatap Jaehyun dan Elang yang  saling menatap dengan sengit. Berdeham sebentar untuk mengalihkan fokus kedua lelaki itu.

"Achan gak akan nikah lagi, udah Achan bilang kan, Achan gak akan nikah." Ujar Achana sambil menatap Elan

Jaehyun tersenyum bahagia mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Achana, sedangkan Elang terkejut dengan ucapan Achana.

"Dan juga, Achan bakal tetap cerai. Achan gak mau terikat dalam hubungan pernikahan lagi. Achan capek, Achan trauma." Ujar Achana kemudian.

Kini Jaehyun dan Elang sama-sama terdiam, mata mereka menatap Achana menuntut jawaban yang akan sesuai dengan ekspetasi dari mereka.

"Achan bakal tetep jadi ibu dari anak-anak Achan, juga bakal tetap jadi temen kalian. Mungkin ini egois, cuman menurut Achan ini yang terbaik buat Achana."

Jaehyun menundukkan kepalanya, ucapan Achana seolah-olah tidak bisa dibantah sama sekali, mungkin memang benar, lebih baik Achana sendiri saja daripada mempunyai pasangan dan malah sakit hati terus.

"Di dunia ini orang gak seratus persen jahat, dan gak seratus persen baik. Achan makasih banget sama kalian kalau memang kalian masih mau deket sama Achan, tapi kalau enggak, cukup pergi dan jangan sakitin keluarga Achan dan juga anak Achan, baik Mark, Jeno, Shotaro, Sungchan, maupun Jefian, Chandara, dan Alana." Ujar Achana

Elang dan Jaehyun kembali terdiam, Achana menyebutkan nama semua anaknya, baik anak angkat, anak sambung, anak kandung, bahkan anaknya yang sudah pergi duluan. Mungkin benar, Achana memang sudah lelah.

"Jadi tolong ya, kalau ada urusan yang sekiranya ngebuat Achana capek, jangan diomongin dulu. Nanti aja, atau bahkan gak usah dibahas."

"Chan-" Ucapan Jaehyun dan Elang terhenti saat Achana mengisyaratkan mereka untuk berhenti dengan tangannya.

"Udah ya? Sekarang kalian pulang dulu. Kalau mau kesini, minggu depan aja. Achan mau istirahat dulu, lusa ketemu di pengadilan ya Mas Jaehyun. Mas Elang, terimakasih karena udah sering ajak main Jefian, Sungchan dan Alana." Achana mendorong kedua pria dewasa itu ke luar rumahnya lalu menutup pintu rumah dan menguncinya.

Jaehyun dan Elang menatap sedih ke arah pintu rumah Achana. Entah siapa yang harus disalahkan, apakah dirinya, keadaan, atau malah Achana sendiri. Tapi, ini murni bukan kesalahan Achana.

Tidak mau mengaku salah dan tidak mau menyalahkan orang. Begitulah keadaan mereka sekarang, terutama Jaehyun, suami Achana yang akan berubah menjadi mantan suami.

"Sudah cukup, aku tidak mau mencari ribut denganmu lagi." Ujar Elang kepada Jaehyun yang tengah menahan rasa kecewanya.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Jaehyun dengan suara parau

"Padahal kau adalah pemeran utama, kenapa tidak berakhir bahagia eh?" Sindir Elang.

"Tidak ada yang berjalan mulus dalam dunia ini." Jawab Jaehyun

"Aku tidak bilang bahwa kita berbaikan, hanya saja sekarang jangan berkelahi dulu kalau masih mau bertemu dengan Achana dan juga anak-anak mu." Ujar Elang sambil menepuk bahu Jaehyun.

"Aku duluan." Elang segera pergi meninggalkan rumah Achana. Bagaimanapun juga ia harus melampiaskan kekecewaan nya ini.

"Tak ada kesempatan? Haruskah berakhir seperti ini?" Lirih Jaehyun dan air matanya pun berlomba turun setelah mengucapkan pertanyaan tersebut.

.
.
.
.
.


Achana masuk ke dalam kamarnya, wajahnya murung namun badannya sedikit gemetar. Jantungnya berdetak tak karuan dan perasaan nya gelisah. Entah kenapa, namun sekarang Achana hanya merasakan sakit dan takut.

Memilih bersender pada lemari namun pada akhirnya badan Achana merosot ke lantai hingga ter duduk, pandangannya kosong dan getaran badannya semakin menjadi. Entah kenapa ia bisa trauma, tapi inilah kenyataan.

"ACHAN!" Jeno masuk dengan tergesa diikuti oleh Nana

Jeno segera menghampiri Achana dan memeluknya erat, sedangkan Nana menutup kamar dari dalam dan menguncinya, agar tidak ada anak yang masuk, takutnya malah membuat Achana tidak nyaman.

"Chan... Maaf ya.. Maafin Nono ya.." Lirih Jeno dengan mata yang sembab

"Chan, jangan ngerasa kesepian ya, masih ada kita kok, kita selalu ada buat Achan.. Ya sayang ya.." Nana ikut menghampiri Achana dan mengelus pipi Achana.

Jeno langsung memeluk Achana erat, diikuti Nana yang juga memeluk keduanya. Achana membalas pelukan Jeno dan Nana perlahan, tak lama setelah membalas pelukan kedua sahabatnya itu, tangisan Achana pecah.

"Gak mau nikah lagi.. Jangan nikahin Achan lagi..." Lirih Achana dalam sela tangisnya.

Mungkin terlihatnya memang hal kecil, namun sebagai orang lain kita hanya melihat atau mengetahui 10-50% kehidupan seseorang. Kita tidak tahu seberapa banyak hal buruk yang mereka alami.

Seperti Achana, mungkin kita hanya tau garis besarnya, tanpa tahu hal rinci apa yang terjadi dalam hidup Achana sehingga ia memiliki trauma dalam pernikahan.

.end.

Maafkan kalo gak sesuai ekspetasi.

Hayo mau apa?

Mama Achan [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang