24

4K 578 68
                                        

Iya sama-sama.

...

Achana menghela nafas bosan, ia menatap lemon tea di hadapannya, membiarkan anak-anaknye bermain sembari menikmati angin senja. Damai dan tenang.

Entah harus senang atau marah, Gilang tiba-tiba saja dipanggil kantor dan mengharuskan pergi meninggalkan Achana sendirian. Achana sih tidak masalah, toh ia juga memiliki uang. Hanya saja apakah sopan meninggalkan wanita begitu saja tanpa apapun?

Semua lelaki sama saja.

"Huft..." Achana menggembungkan pipinya kemudian kembali meminum lemon tea yang ia anggurkan tadi.

Tak berselang lama, terdengar suara pekikan diiringi tangisan, Achana tak peduli, mungkin ada ayah anak yang bertemu? Toh bukan urusan dia juga. Namun tiba-tiba saja Achana merasa suara tangisan sang anak mirip dengan suara tangisan Sungchan.

"ACHANA!" Seru seseorang memanggilnya.

Achana segera mencari sumber suara dan kemudian terpaku, tiba-tiba saja nafasnya terasa berat, matanya melirik ke arah Jefian yang tengah dipeluk oleh.. Ayah kandung nya... air mata Achana menetes tanpa aba-aba. Perlu beberapa detik untuk tersadar dari acara terkejut nya.

Melihat Jaehyun yang hendak menghampiri nya membuat Achana panik, ia tak siap melihat wajah itu, Achana masih sakit hati. Tanpa pikir panjang, Achana memutar balikan badannya berlari sekencang mungkin menghindari keluarga Rahandika itu. Ia terus berdoa semoga anaknya tak kenapa-napa meski dirinya harus jatuh sampai berdarah.

Baru 5 menit Achana berlari, belum setengah jalan menuju pintu keluar, kaki Achana sudah sakit dan hampir mati rasa, pandangannya agak buram karena masih menangis.

Dug!

Achana menabrak seseorang kemudian terjatuh. Ya, hanya Achana yang terjatuh. Tubuh orang yang ia tabrak jauh lebih kuat dan kokoh.

"Loh? Mirip Achana, kamu Achana bukan?" Tanya seorang pria.

Achana mendongak, ia membulatkan matanya, merasa takut dan panik. Itu sahabat Jaehyun, Tera.

Achana segera menggeleng ribut dan berdiri, dirinya berjalan cepat karena tak sanggup lari lagi, berdoa agar Tera sedang dalam kondisi lama berfikir.

"Ada apa?" Bian datang menghampiri Tera, ia baru selesai dari kamar mandi

"Itu Achana kan?" Tanya Tera

Bian memicingkan matanya kemudian terkejut. Menggeplak kepala bagian belakang Tera kemudia mengejar Achana yang belum jauh.

"ITU ACHANA!" seru Bian

Tera segera berlari mengejar Bian dan Achana dengan wajah konyolnya.

"Tadi dia bilang bukan!" Seru Tera saat dirinya sudah sejajar dengan Bian. Tera menambah kecepatan larinya dan dengan sekejap kini ia berada di hadapan Achana.

"Nah, solusi sudah ditemukan, mari kita angkut!" Tera menggendong Achana ala karung beras dan berjalan santai menuju tempat Jaehyun, mengabaikan para pengunjung lain yang menatap mereka heran.

Bersyukurlah karena Tera menahan pakaian Achana agar tidak terangkat.

.
.
.

Suasana rumah Achana begitu canggung, dengan tanpa beban Jefian dan Alana mengarahkan Bian yang sedang menyetir ke rumah tempat Achana bersembunyi. Untung Achana sabar.

Achana menatap Alana yang berada dalam pelukan Jaehyun, Alana tertidur pulas dengan cepat hanya dengan pelukan Jaehyun. Sedangkan saat bersama Achana, Alana harus diceritakan suatu dongen atau dinyanyikan lagu penghantar tidur terlebih dahulu.

Ini sebuah kecurangan!

Cukup lama diam dalam suasana canggung, akhirnya Jaehyun berdiri dan berlutut di depan Achana. Menggenggam lengan Achana dengan lembut dan menatap Achana dengan tatapan bersalah.

"Maaf..." Lirih Jaehyun

Achana hanya diam, ia tak mau memotong percakapan, ia hanya ingin mendengar sebuah kejelasan.

Jaehyun menjelaskan semuanya tanpa terlewat, secara rinci dan tanpa dilebihkan sama sekali, tatapan matanya tidak pernah lepas dari mata Achana. Tatapan teduh dan pemaaf yang selalu Jaehyun rindukan.

"Achan maafin..." Ujar Achana

Jaehyun tersenyum senang mulutnya terbuka hendak berbicara kembali namun terpotong oleh ucapan Achana yang belum selesai.

"Tapi bukan berarti Achan nerima kamu lagi." Lanjut Achana.

Jaehyun tersenyum pahit. Setidaknya sekarang ia harus kembali berjuang dari awal, dan setidaknya pula ini lebih bagus dari ekspetasi yang menganggu pikirannya sedari tadi.

Achana memang baik, sangat baik. Awalnya Jaehyun kira Achana akan mengusir mereka dan kembali pindah ke daerah lain, namun ternyata Achana memaafkan Jaehyun, meskipun Jaehyun harus berjuang kembali agar mereka bersatu.

Achana melepaskan genggaman Jaehyun, kemudian berdiri, dan..

PLAK!

Acahan menampar pipi kiri Jaehyun dengan keras, semua terkejut bukan main. Kecuali Tera yang kini sibuk menertawakan Jaehyun.

"Ini balasan waktu itu. Karena harusnya Achana langsung nampar kamu." Ujar Achana lalu mengambil Alana dari gendogan Mark dan membawanya ke kamar sang anak.

"500 meter dari sini ada hotel bintang 3, kalian bisa nginep disana, ini udah jam 9 malam. Silahkan pergi." Ujar Achana, kemudian memberi kode kepada Sungchan untuk memberi detail penginapan dan menutup pintu setelahnya.

Achana menutup pintu kamar Alana sambil memeluk erat Alana yang tertidur, kemudian membaringkan Alana di kasur miliknya. Achana menangis dalam diam sambil menatap wajah anak perempuannya, kemudian bersandar pada dinding dan membiarkan tubuhnya merosot perlahan.

Tak berbeda jauh, diluar sana Jaehyun terus menatap rumah Achana dengan mata yang berkaca-kaca, dirinya belum memberikan perintah kepada Bian untuk meninggalkan rumah Achana. Hatinya berkecamuk dan campur aduk. Antara senang karena bertemu Achana kembali dan juga sedih.

"Maaf..."


.end.

Canda End

.tbc.

Sekian, terima Hinata Shoyo Harem

Mama Achan [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang