Hidden Feelings

1.6K 294 89
                                        




27 | Hidden Feelings





HINATA mengelus kening Ayahnya yang sudah terlelap kembali setelah dokter kembali mengecek tubuhnya dan mulai memberikan asupan makanan setelah koma dalam beberapa hari. Hinata memandang wajah Ayahnya yang berkerut juga dengkuran halusnya yang seakan bersahut-sahutan dengan bunyi alat pendeteksi detak jantung. Ia menolehkan kepalanya ketika Sasuke kembali memasuki ruangan, terlihat lelaki itu membawa bungkusan berupa makanan kemas dan buah.

Hinata dan Hanabi bangkit berdiri dari kursi sebelah ranjang.

"Untuk kalian." Sasuke menaruhnya di meja dekat sofa ruang rawat.

"Terima kasih Sasuke-nii!" Hanabi tersenyum mengembang, membuat Hinata mengernyit heran. Biasanya Hanabi sulit menerima orang baru apalagi lelaki, ia begitu mengikuti ajaran Ayahnya untuk tidak terlalu akrab dengan lawan jenis. Hanabi pun membatasi pertemanannya.

Sasuke hanya membalas dengan senyuman, Hinata baru pertama kali melihat senyum lelaki itu. Hampir setiap waktu wajahnya terlihat datar, bahkan tanpa pernah terlihat santai.

"Kau hutang penjelasan padaku. Bagaimana kau bisa———"

"Kita bicara di luar saja. Ayahmu sedang tidur." Sasuke mendahului keluar dari ruang rawat, Hanabi terdiam dan duduk kembali ketika Hinata memintanya menjaga Ayahnya.

Hinata berjalan mengikuti sampai mereka berada di area kafetaria rumah sakit. Sasuke duduk diantara kursi pengunjung, Hinata mengikuti untuk duduk di hadapan Sasuke. Mereka dibatasi meja di depan mereka.

"Aku yang mengantarmu pulang saat kau pingsan." Tutur Sasuke, Hinata seketika mengernyit.

"...pingsan?"

"Lebih tepatnya tertidur setelah mengkonsumsi obat tidur yang di berikan para bajingan itu dalam gelasmu."

Hinata tertegun. "Apa maksudmu?"

"Kau tertidur di kamar hotel sendirian dan orang-orang yang kau percayai dengan mudah itu meninggalkanmu tanpa rasa tanggung jawab. Hanabi yang menyambutku di rumahmu ketika aku mengantarmu ke rumah,"  penjelasan Sasuke di luar akal logika Hinata. Ia ingat jika ia terbangun di kamar, lalu tanpa memikirkan kejadian sebelumnya ia buru-buru berangkat sekolah karena sudah bangun terlambat. Hinata hanya berasumsi ia pulang seperti biasa, lalu tertidur di kamar karena lelah dan semuanya berjalan dengan baik. Tapi ternyata, Sasuke yang membawanya pulang tanpa ia ketahui.

"Kau merencanakan———"

"Aku tahu banyak pertanyaan di kepalamu, tapi sepertinya tidak ada waktu untuk bertanya darimana aku tahu kau di sana. Aku bukan bagian dari mereka. Singkatnya, aku menolongmu karena aku sangat tahu sahabatku sangat menyukaimu. Meski soal penyebaran foto di sekolah itu tidak bisa aku kendalikan, maaf untuk itu."

"Apa Sakura tahu? Kau berhubungan baik dengan sahabatku kan?" Hinata bertanya pelan, Sasuke mengangguk singkat.

"Dia berisik dan cerewet jika menyangkut tentangmu. Mengapa kau mengabaikan orang-orang yang peduli padamu dan berpikir kau bisa menangani masalahmu sendirian? Jika sudah fatal begini, kau yang akhirnya menyalahkan dirimu sendiri. Kasihanlah pada dirimu sendiri." Mata hitam Sasuke seakan memantulkan bayangan Hinata, lelaki bersurai raven itu terlihat menahan amarah. Hinata menunduk dan memilin bibirnya, menyadari kesalahannya.

"Maaf .. aku hanya ... Tidak tahu.. lagi." Cicit Hinata pelan, Sasuke mendengus pelan.

"Fotomu juga tersebar di internet, jika Ayahmu pulih dia bisa melihat fotomu dimana saja. Tapi, tenang, aku sudah menangani hal itu." Penuturan Sasuke membuat Hinata mendongak, ia tertegun sekaligus merasa lega.

Literacy Club [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang