"Ingett, lo kalo di sosor lagi, berontak aja atau pukul kepalanya. Jangan mau-mau aja lo, apalagi itu orang asing," pesan Renjun selagi kendaraan beroda 4 melaju membelah jalanan kota Seoul pagi itu.
Chenle mendengus. Ini bukan pesan pertama yang Renjun ucapkan. Kemarin sepulang dari sparing, Renjun menceramahinya banyak hal karena mau-mau saja dicium pria dengan banyak fans seperti Jisung.
"Iya iya bawel. Dulu lo dikejar-kejar Guanlin kayak gimana aja."
Plak
"Gue sama dia lebih tua, yaa. Sopan dikit!" sungut renjun kesal.
"Jisung bukan stranger. Dia temen gue."
Tidak salah bukan Chenle mengatakan Jisung temannya setelah kejadian kemarin di UKS?
Karena setelah acara berpelukan dan menangis kemarin, Chenle dan Jisung berbicara dan mengobrolkan banyak hal.
"Ohh.. lagi bela dia lo? Kalo lo kenapa-napa sehabis ini gara-gara fans dia gimana ha? Gak mikir lo ya." Renjun mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
Chenle mendesis. Gegenya ini terlalu overthinking. "Duh.. tumben deh lo cerewet gini. Gue gak akan kenapa-napa. Gak usah khawatir lah anjing. Geli gue."
"Gue injek juga ankle lo biar pincang terus. Gak ada sopan-sopannya perasaan."
"Gue aduin Papa," balas Chenle santai.
Renjun berdecih. "Cih, anak papa lo dasar." Seakan teringat sesuatu, Renjun menambahkan sinis. "Oh ya, anak daddy juga. Kemesuman lo 11 12 percis kayak daddy."
Chenle memberengut. "Mending gue anak Papa Daddy. Lo anak pungut jiakhh.."
Plak
Bahu Chenle terkena pukulan untuk kedua kalinya.
"Heh anjing. Gak tau diri lo ya. Lo juga anak pungut asu."
Chenle tertawa keras. Sopir yang mengantar mereka pun ikut tertawa.
Ini jokes biasa antara mereka. Jadi, jangan heran.
"Tuan-tuan muda, sudah sampai."
Obrolan mereka disela oleh sang supir.
Sebelum turun, Renjun kembali mengucapkan ultimatumnya. "Ingett, kaki lo lagi sakit. Jangan banyak tingkah. Jangan petakilan. Jangan gampang baper. Kalo ada apa—"
"—gue call lo. Dah dah, pergi lo. Gue mau ke kelas." Potong Chenle langsung disertai dengan sebuah usiran.
Plak
"Kampret! Lo udah mukul gue 3 kali, ya sat! Awas lo."
Renjun terkekeh sebelum membuka pintu, dan keluar dari mobil menyisahkan Chenle dan Pak Supir di dalamnya.
"Mau dibantu ke kelas Tuan Chenle?"
Chenle menggeleng singkat. Hanya kaki kanannya yang sakit dipakai jalan. Sedangkan kaki kirinya masih berfungsi dengan baik.
"Gak usah Pak. Chenle bisa sendiri kok. Cuma ankle doang ini mahh. Gedungnya juga cuma di lantai tiga hehehe.."
Alasan yang sama yang jug Chenle berikan kepada Renjun saat berinisiatif mengantarnya.
Baru saja menaiki 3 anak tangga menuju lantai 2, tubuhnya serasa melayang karena digendong ala bridal oleh seseorang.
"ANJ—BANG JEN?!"
Kekehan Jeno keluarkan. Sembari menggendong Chenle, kakinya melangkah menaiki anak tangga dengan perlahan.
Dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya, Jeno menggoda adik kelasnya itu. "Kaget ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Become a Subbmisive || CHENJI
FanfictionTekan follow sebelum membaca yukk🙆♂️🙆♂️ --- Warning! Ini lapak bxb ⚠️ Homophobic? Jauh-jauh hush Harsh word ⚠️ 18+ Part masih acakk :D --- Chenle sangat yakin jika dirinya adalah seseorang yang straight. Mantan kekasihnya saja cantik-cantik, sep...
