[The Wattys 2022 winner - Fanfiction]
Berawal dari rasa simpati dan kenaifanku, membawaku ke dalam kehidupan pria berambut merah yang penuh akan bahaya.
Berkatnya, aku menyadari bahwa dunia ini ternyata jauh lebih mengerikan dari yang kulihat dan ku...
「 "Never give your pretty gaze to anyone but me." 」
─
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
EMBUSAN napas panjang menjadi penutup setelah memilih kembali menyimpan ponselku ke dalam saku. Memang seharusnya aku tidak berharap apapun. Hubunganku dengan Ibu begini adanya dan seharusnya aku cukup bersyukur saja.
Tapi belakangan ini, aku memang membutuhkan kehadirannya. Walaupun aku tahu, aku tetap tidak akan mendapatkan perhatian yang bahkan aku sendiri sudah lupa kapan terakhir kali pernah mendapatkannya.
Bus yang kutumpangi akhirnya berhenti di halte tujuanku. Angin malam yang berembus langsung menyambutku. Membuatku segera merapatkan jaket lantaran betapa menusuknya dingin yang kurasa mengingat ini sudah di penghujung musim gugur.
Baru beberapa langkah meninggalkan halte, aku terpaksa berhenti. Menemukan sosok yang berdiri di bawah tiang lampu trotoar ini sudah lebih dulu mendapati keberadaanku, dan aku hanya bisa membeku di bawah tatapannya yang seperti memperingati.
Ah, benar, malam ini....
Sebenarnya aku menyesal sudah membuat keputusan itu. Sama saja aku setuju bahwa aku ini bahan taruhan dan menjadi mainan mereka. Kuakui aku memang bodoh karena tidak bersikukuh menolak.
Tapi karena si rambut merah ini, entah mantra apa yang dia berikan sehingga aku hanya bisa menurut padanya.
Aku menjadi seperti orang tidak berdaya dan menggantungkan nasibku padanya seperti ini.
────• red hair man •────
"Berpura-puralah seakan kita adalah pasangan kekasih yang harmonis."
Merupakan kalimat pertama yang akhirnya keluar dari mulutnya semenjak aku diseret kemari.
Ralat, dia hanya menatapku, mengucap satu kata ajakan, lantas aku seperti kehilangan kuasa untuk menolak dan mengikutinya masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana caranya supaya terlihat harmonis?"
"Just smile only at me. And never give your pretty gaze to anyone but me."
Dia mengatakannya begitu enteng tapi berhasil membuatku kaget.
"Tatapan — seperti apa yang kau maksud?"
Dia akhirnya menengokku. Aku sungguh tidak mengerti dari mana dia mendapat kemampuan mengintimidasi seseorang hanya dengan cara tatapnya. Tapi dari ini aku mengerti mengapa dia menjadi ketua di kelompoknya.
"Cukup melihatku. Jangan yang lain."
Lalu dia keluar dari balik kemudi. Menyisakanku yang masih dipenuhi tanda tanya hingga pintu di sampingku terbuka. Mendapatinya yang melakukan itu bahkan segera mengulurkan tangan.