「 "I just wanted to repay your kindness at first." 」
─
MASIH terbayang di kepalaku bagaimana Ibu begitu terkejut saat melihat pria ini. Wajah cantiknya menegang dan tampak menyembunyikan kalut yang masih bisa kulihat. Ketika pria itu memperkenalkan diri sebagai 'Seungcheol, kekasih Cheon Sera,' Ibu hanya menatapku dengan senyum yang dipaksakan dan berlaga senang bagai mendengar kabar baik.
Padahal, pria ini tidak memberi kesan yang baik dari kelihatannya.
Si rambut merah ini juga bersikap tidak biasa. Berbicara sopan dan mau menebar senyum layaknya sosok pria penuh santun meski kaku. Tapi dia terus menggenggam tanganku seakan tidak membiarkanku mendekati Ibu yang memang terlihat berusaha menghindar.
"Saya dengar dari Sera bahwa Anda sering lembur. Tidak apa-apa jika saya temani Sera malam ini?"
"Ya, tentu saja. Kemungkinan aku tidak akan pulang malam ini. Jadi, tolong temani dia di rumah."
"Tentu. Saya akan menjaganya selama Anda pergi. Terima kasih sudah merawat Sera selama ini."
Aku tahu itu hanya omong kosong. Dan aku menyadari ada yang tidak beres di antara keduanya.
Sebab setelah memberi izin yang menurutku tidak terduga, Ibu lekas pergi dari hadapan kami. Sedangkan dia tidak memberiku waktu untuk sekadar mengantar kepergian Ibu dengan langsung menarikku masuk ke dalam.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Ibu?"
"Memberi salam."
"Bukan! Sebelum ini. Kau pasti pernah menemui ibuku, kan? Ibu tidak mungkin bersikap seperti itu kalau ini merupakan kali pertama kalian bertemu."
"Aku butuh minum. Kau yang ambilkan atau aku yang ambil sendiri di dapur?"
Aku merengut kesal. Dia tidak menghiraukanku dengan melepas jaket kulitnya dan malah duduk nyaman di sofa ruang tamu.
"Seungcheol...."
Menjadi kedua kalinya aku beranikan diri menyebut namanya. Dia langsung menaruh seluruh atensinya padaku hingga aku harus meneguk saliva kepayahan.
"Kau bilang bahwa aku harus percaya padamu. Jadi bisakah kau tidak menyembunyikan apa yang ingin aku tahu? Terlebih ini mengenai ibuku."
Aku sudah meremas jaket yang kukenakan. Menahan debaran jantungku yang langsung melesat cepat karena merasa terlalu nekat mengatakan hal demikian di bawah sorot tajamnya yang tidak lagi beralih dariku.
Dia lantas menepuk sisi kosong sofa, menitahku agar duduk di sampingnya dan segera kuturuti. Kemudian ia mengedikkan dagu menunjuk pintu kamarku.
"Aku sedang memergoki pria yang bermalam di sini masuk ke kamarmu dan ibumu melihatnya saat itu."
Apa?
"Ka-kau menyusup ke kamarku?!"
"Kau pikir siapa yang memasang alat penyadap di kamarmu kalau bukan aku?"
Benar juga. Tapi tidak kusangka ternyata dia melakukannya sendiri.
"Aku tidak bisa berdiam diri setelah sebelumnya ada yang melakukan hal sama. Mereka sudah keterlaluan karena mencari tahu soal dirimu sampai masuk ke dalam sana. Jadi aku datang untuk menghajarnya."
"Kau menghajarnya di hadapan ibuku?"
"Something like that."
Aku tidak puas dengan jawabannya. Maka kutarik pelan lengan pakaiannya agar dia kembali menatapku, memberiku kesempatan untuk melihat adanya yang disembunyikan olehnya atau tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Red Hair Man
Fiksi Penggemar[The Wattys 2022 winner - Fanfiction] Berawal dari rasa simpati dan kenaifanku, membawaku ke dalam kehidupan pria berambut merah yang penuh akan bahaya. Berkatnya, aku menyadari bahwa dunia ini ternyata jauh lebih mengerikan dari yang kulihat dan ku...
