Bagian 22

46.9K 4.7K 123
                                    

Happy reading

Keluarga Anggara mendengarkan penjelasan Lia dengan seksama, mereka mendengarkan kehidupan gadis itu dulu. Susah, itulah yang mereka gambarkan untuk Lia yang dulu

Hidup sendiri tanpa di dampingi siapa pun, dan juga harus memenuhi kebutuhan sehari harinya. Mereka, keluarga Anggara cukup kagum dengan Lia yang dulu, lebih tepatnya Amalia, gadis yang tangguh dan tetap semangat meskipun hidup dengan kesusahan

Mata Hendra, Gita, Arka, bahkan Azka pun berkaca kaca. Mereka kembali bersedih karena mendengar Lia yang asli sudah tiada, walaupun sebenarnya mereka sudah tau

Mereka juga sedih karena nasib Amalia yang sangat tidak beruntung

Mungkin inilah takdir tuhan, memberikan kebahagiaan pada seorang anak yang sudah cukup hidup menderita

Lia sudah menyelesaikan ceritanya, dia sudah menjelaskan semuanya, tetapi masih hening, tidak ada yang membuka suara

Lia yang pikirannya sudah di penuhi dengan hal negatif pun memilih untuk menatap mereka. Mata yang berkaca kaca dan menatap dirinya

Lia salah paham, Lia pikir mereka tidak menyukai dirinya karena mengambil alih tubuh anaknya

Tapi semua pikiran negatif itu musnah saat merasakan dekapan hangat seorang ibu, disusul dengan daddynya yang ikut memeluknya

Arka yang melihat moment haru itu memeluk tubuh kekar abangnya

"Hiks hiks, terhura akuu" ucap arka sambil menduselkan wajahnya pada ketiak Azka

Azka yang kegelian pun mendorong kepala arka hingga dia terjungkal kebelakang

Bodyguard yang melihat tuan mudanya tersungkur pun mencoba untuk menahan tawanya

Azka yang sedang sedih juga sesekali terkekeh ketika mengingat wajah adiknya ketika jatuh

Lia masih mematung, dirinya masih tidak mempercayai ini semua, keluarga Anggara yang seharusnya mengusirnya malah memeluknya bahkan setelah tahu kebenarannya

"Meskipun jiwa kamu bukan anak Daddy, tapi kamu tetep anak Daddy, sekarang anggap daddy adalah Daddy kamu sendiri, oke sayang?" Ucap Hendra lembut lalu mengecup kening Lia pelan

Lia menatap tidak percaya ke arah Hendra, dirinya yakin bahwa dirinya tidak salah dengar

"Iya sayang, sekarang kita adalah keluargamu, siapapun jiwa yang ada di tubuh ini, kami tidak peduli, yang terpenting sekarang kamu adalah anak kami, anak bungsu keluarga Anggara" ucap Gita menatap putrinya dengan sayang, dia bahkan sudah meneteskan air matanya

"K-kalian beneran?" Ucap Lia lirih bahkan hampir berbisik

"Ya, lagipula kami sudah tahu dari lama, kami hanya menunggu kamu untuk jujur kepada kami sayang" ucap Hendra menimpali ucapan putrinya

"Dari lama?" Ucap Lia tidak percaya menatap mereka satu persatu

Mereka semua mengangguk serentak

"Kenapa bisa" ucap Lia terkejut

Mereka semua tersenyum

Flashback on

Keluarga Anggara sedang menunggu Lia untuk berkumpul di ruang keluarga karena hari ini adalah hari Minggu

Tetapi yang di tunggu sedari tadi tidak muncul, membuat keluarga Anggara sedikit khawatir

Setengah jam berlalu, mereka memutuskan untuk menyusul ke kamar Lia, mereka hanya akan memastikan bahwa anak dan adik mereka baik baik saja

Sampai di depan kamar Lia, mereka langsung masuk tanpa mengetuk pintunya dulu

Di depan sana, lebih tepatnya di balkon, seorang gadis sedang memandang langit yang terlihat mendung, langit seakan tahu bahwa sang gadis tersebut memang sedang tidak baik baik saja

"Aku bahagia disini, tapi apa aku pantas menerima semua kasih sayang dari mereka padahal seharusnya bukan aku yang mendapatkan semua ini" Lia. Gadis itu tiba tiba berbicara pada langit, menumpahkan segala keresahan di hatinya

Deg

Mereka mematung, keluarga Anggara. Mereka sedikit paham dengan ucapan Lia, tapi mereka membutuhkan kejelasan yang pasti

"Amelia, kamu dimana? Kenapa harus aku yang kamu tarik jiwanya untuk menempati raga kamu, andai kamu ga bawa aku kesini, mungkin aku udah bahagia di atas sana dengan kedua orang tuaku hiks" tangis Lia seraya memegang erat pagar balkon

Keluarga Anggara yang mendengar itu pun sudah paham dengan keadaan saat ini, mereka memilih untuk keluar dari kamar Lia secara diam diam lalu pergi ke ruang kerja Hendra

Di ruang kerja, mereka masih terdiam. Mereka tidak ingin percaya, tetapi mereka mendengar sendiri ucapan dan tangisan menyedihkan dari Lia, seakan mengatakan bahwa itu memang betul adanya

"Gimana dad" tanya arka pada Daddy nya yang sedang memijat pangkal hidungnya

"Mau gimana lagi, semua udah terjadi, kita ga bisa nyalahin jiwa yang masuk ke tubuh Lia, kita sendiri mendengar semua ucapannya tadi" balas daddynya

"Ya, Daddy betul. Mau gimana pun, Lia tetaplah Lia, meskipun jiwanya berbeda tetapi raganya masih sama, dia masih adik kandungku" ucap Azka tegas

"Kalau kalian tidak ingin menerimanya, aku siap pergi dari sini dengan Lia, kami bisa hidup berdua di negara lain, mungkin?" Lanjut Azka yang melihat keraguan di mata Gita

Hendra langsung berdiri "Apa yang kamu bicarakan, tidak ada yang meninggalkan mansion ini, Lia tetaplah anakku, dia akan tetap disini" ucap Hendra lalu pergi keluar dari ruang kerjanya diikuti oleh Azka

"Arka tau mungkin mommy sulit buat menerima ini, tapi mau bagaimana pun, dia tidak bersalah, dia juga tidak ingin berada di tempat ini. Sekarang kita keluarganya, kita yang harus mendampinginya di dunianya yang baru ini" ucap arka mencoba memberi pengertian pada mommy nya

"Pikirin semuanya baik baik mom, jangan sampai mommy menyesal" lanjut Arka lalu pergi

'maafkan mommy sayang, mommy akan menjagamu, dan menyayangimu. Benar, kamu memang tetap putri mommy, putri kesayangan mommy, tidak peduli siapapun jiwa yang mengisi ragamu' batin Gita

Flashback off































Makasih yang udah vote
Yang belum vote dulu yuk
❤️

Transmigrasi Figuran (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang