Bagian 16

81.6K 6.4K 22
                                        

Happy reading

Sesampainya di kantin, mereka berjalan menuju meja yang masih kosong

"Mau pesen apa?" Tanya melin kearah teman temannya

"Nasi goreng sama es teh" jawab jessi

"Samain aja" jawab Sisil yang diangguki oleh Lia

Melin pun pergi menuju stand makanan dan memesan makan untuknya dan sahabatnya

Tidak lama datanglah melin yang membawa pesanan mereka

Mereka makan dengan khidmat sesekali berbincang sambil bercanda gurau

"Boleh gabung gak" tanya arka yang baru datang ke meja Lia bersama dengan sahabatnya

"Duduk aja" jawab jessi tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone sambil sesekali menyuapkan makannya ke dalam mulutnya

Alvian sedari datang tidak mengalihkan pandangannya dari Lia

Lia yang merasa di tatap pun menolehkan kepalanya dan langsung bertemu dengan sepasang mata yang tajam tapi memancarkan kelembutan

"Al" panggil Radit kepada Alvian yang sedang membersihkan sudut bibir Lia menggunakan ibu jarinya

"Dia udah balik, Lo gamau ngelurusin kesalahpahaman yang terjadi dulu?" Sambung Radit

Al memberhentikan kegiatannya lalu memusatkan perhatiannya penuh ke arah Radit

"Nanti gue coba" balas Al lalu kembali memperhatikan Lia, tapi pikirannya tertuju pada hal lain

Flashback on

Disebuah gedung tua terdapat dua orang pemuda yang sedang beradu argumen

"Lo itu cuma penghalang buat gue, lebih baik Lo mati agar gue gak jadi bayang bayang Lo lagi" ucap seorang pemuda, dia bernama Farhan bimasatya kepada adiknya, Fathan bimasatya

Fathan yang mendengar ucapan kakaknya yang begitu dia sayangi hanya bisa tersenyum sendu kearah Farhan yang sedang mengeluarkan pisau lipat dari sakunya

Farhan dan Fathan adalah saudara kembar, tapi karena keunggulan Fathan di segala bidang yang membuat keluarganya tanpa sadar mengabaikan Farhan. Farhan awalnya hanya bersikap biasa saja, dia bukan orang yang ingin mengemis kasih sayang, tapi lama kelamaan dia menjadi iri, benci, marah dan kecewa karena selalu di banding bandingkan dengan Fathan

Pikirannya menjadi sempit dan gelap, dia dengan liciknya menyuruh Fathan untuk menemuinya di gedung tua sendirian

Fathan yang memang tidak menaruh curiga pada kakak kesayangannya pun mengiyakan ucapan kakaknya

Dan inilah yang terjadi, Farhan mengeluarkan pisau lipatnya lalu menusuk Fathan tepat di jantungnya

Fathan ambruk, lalu ketika Farhan akan pergi meninggalkan Fathan tiba tiba datang beberapa remaja laki laki, mereka adalah Alvian dkk

Alvian dkk memang sengaja pergi ke gedung tua itu untuk mencari suasana baru, gedung tua itu memang terlihat menyeramkan apalagi terletak di dekat hutan tapi di balik itu semua, terdapat danau yang indah di belakangnya

Tapi mereka di kejutkan dengan pemandangan di depannya, Fathan yang merupakan teman dari sahabat mereka terjatuh ke lantai dengan pisau yang masih menancap di dadanya

Farhan pun kabur karena aksinya dilihat oleh orang lain, Alvian mendekat ke arah Fathan yang sudah tidak sadarkan diri, dia berusaha membangunkan Fathan dengan menepuk pipinya beberapa kali tapi itu semua sia sia, fathan sudah tidak bernafas

Alvian yang melihat pisaunya masih tertancap di dada Fathan pun ingin mencabutnya, tapi kesialannya datang, karena tiba tiba sahabatnya yang bernama Gibran datang tepat saat Alvian menyentuh pisaunya

Gibran yang melihat temannya yang sudah dia anggap adiknya terkulai lemas di lantai dengan darah berceceran ditambah ada Alvian d sampingnya pun menjadi salah paham

"Kenapa Lo lakuin ini bangsat" teriak Gibran kearah Alvian lalu menarik kerah Alvian dan menonjok pipi Al beberapa kali

Arka dkk yang melihat itu pun mencoba memisahkan Gibran dari Alvian yang masih diam

"Lo salah paham, berhenti Gibran" bentak arka kepada Gibran

Gibran pun berhenti memukuli Alvian, lalu dengan linglung dia menatap fathan yang sudah tidak bernyawa

Gibran membawa Fathan kepelukannya lalu membawa Fathan keluar, sebelum itu dia berucap

"Mulai sekarang Lo adalah musuh terbesar gue, Alvian" dingin Gibran menatap Alvian dengan tajam lalu pergi meninggalkan gedung tua itu

Itulah awal dari semuanya, Gibran Yanuar, sang antagonis. Gibran memusuhi Alvian karena mengira Alvian yang membunuh Fathan

Alvian sudah beberapa kali menjelaskan semuanya tapi Gibran selalu menghindarinya

Dan Farhan, sampai sekarang dia menghilang entah kemana setelah membunuh Fathan

Keluarga Farhan pun terpukul atas perginya kedua anak mereka, hanya penyesalan yang mereka rasakan

Flashback off

Alvian sedikit tersentak ketika merasakan tangannya di genggam oleh tangan mungil

Lalu menatap sang pemilik tangan tersebut, dia tersenyum tipis yang dibalas senyum lebar oleh Lia

"Kenapa" tanya Lia yang tadi memperhatikan Al yang sedang melamun

"Gapapa kok" jawab Al sambil mengelus rambut Lia

Lia pun menganggukan kepalanya lalu kembali melanjutkan makannya begitu juga dengan Alvian

















Makasih yang udah vote
Yang belum vote dulu yuk
❤️

Transmigrasi Figuran (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang