Selamat membaca^^
.
.
"Hai Lalapow~~ jangan tidur terus, ayok bangun. Emangnya kamu mau mimpiin aku terus? Hahahah...."
"Hey! Jangan kangen!! Entar kalo kamu kangen aku gak bisa meluk kamu."
"Semangat chagiya!!! Aku mendukungmu dari belakang!!"
"Ei!! Beri tau aku nama lengkapmu!! Masa aku manggilnya pake nama akun ig mu sih? Lalapow pula."
"Oke, janji ya kalo kita ketemu, kita saling kasih tau nama lengkap! Oke?!"
"Bangun!!! Besok senin!!!"
"Mangats pageh fans gueh."
Klik
Ia menutup aplikasi dm-nya setelah merasa puas mendengar ocehan lelaki itu.
Mendengar VN dari Angkasa sudah menjadi kebiasaan yang tak pernah ia tinggal. Sekalipun lelaki itu telah tiada.
Tak apa bukan jika ia masih menganggapnya ada?
Syakila keluar dari kamar dengan siap kembali ke sekolah setelah cukup lama ia berlibur. Hampir disetiap bulannya ia tidak sekolah satu minggu hanya untuk berlibur. Bukan, itu bukan keinginannya, melainkan Maminya.
Ya walaupun ia juga menikmatinya.
Jika ditanya alasannya pasti Maminya akan menjawab,"Mami mau putri semata wayang Mami ini bahagia terus sayang."
Selalu saja begitu, apa dirinya terlihat begitu menyedihkan? Katakanlah ia sangat sensitif soal perasaan.
"Mam---" langkahnya terhenti, ia tak jadi memanggil.
"Lebih baik berhenti mencari psikiater, putri kita baik-baik aja, gak ada yang salah, jangan berlebihan. Wajarlah Sya sedih kehilangan sahabatnya." Ujar Scorpio Azhar -Ayah Syakila pada istrinya selembut mungkin. Bukannya ia tak peduli dengan Syakila, tapi dengan cara membawanya ke psikiater bukannya itu bisa membuat Syakila berpikir kalau dia gila?
"Kamu juga tau 'kan artinya kehilangan? Siapa sih yang gak sedih yang namanya kehilangan? Apalagi orang itu, orang yang berharga buatnya." Lanjutnya.
Aina Rahma -Mami Syakila menunduk, apa iya dirinya berlebihan? Bukannya ia yang wajar mengkhawatirkan putrinya seperti itu? Aina hanya ingin putrinya selalu baik-baik aja dan bahagia. "Tapi aku cuma ingin putri kita selalu bahagia. Aku akan membenci diriku sendiri jika aku gagal bikin Sya bahagia, Mas. Aku akan benci itu."
Scorpio mengusap pipi Aina lembut, "Percayalah, cuma Sya sendiri yang tau caranya mendamaikan hatinya dan membahagiakan dirinya sendiri. Jadi, berhenti membawa Sya ke psikiater."
Syakila menyaksikannya hanya bisa tersenyum getir, tapi ada sedikit perasaan senang dengan ucapan Papinya yang begitu paham dengannya.
"Sebegitunya pengaruh Sya buat kalian?" Ucapan itu lolos begitu saja dari mulutnya tanpa ia pikirkan dahulu.
Scorpio dan Aina langsung menoleh ke belakang dengan raut terkejut. Apa Syakila mendengar semua percakapan mereka?
"Sya..." panggil Aina.
Syakila menggeleng pelan sambil berjalan mundur perlahan sebelum kembali bersuara yang membuat Aina diam seribu bahasa.
"Apa sekarang ini Sya masih terlihat seperti orang gila?"
****
"Makasih Mang udah nganter Sya." Ucapnya pada ojek langganannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
【𝑾𝒊𝒍𝒍 𝑩𝒆 𝑴𝒊𝒏𝒆?】
Fanfiction》FOLLOW SEBELUM MEMBACA^^ ─────────────────── Syakila Auries, gadis yang sejak kecilnya sudah lebih dulu merasakan ketakutan dan mimpi buruk yang menghantui di setiap tidur nyenyak-nya. Seiring waktu berjalan dalam proses penyembuhannya, ia dipertem...
