[Budayakan follow sebelum membaca, karena bakal ada privat secara acak.]
Baca selagi belum unpublish revisi🥰
Alfarezel Khairul Azmi, meskipun dunianya sedang tidak baik-baik saja, dia tidak pernah mengeluh ke siapapun, dan salah satu alasannya yait...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Raya menarik kasar lengan Farel sedangkan Farel hanya mengikutinya dengan kebingungan.
"Ngapain ngelakuin itu, hah? Menurut lu dengan ngelakuin itu lu udah ngerasa hebat gitu? Jawab!" Seru Raya.
"Dia duluan yang mulai, Ray, dia hancurin buku diary ku, lu nggak tau Ray, dia udah bully aku mulai dari aku menginjakkan kaki di kelas ini, lu nggak tau semuanya Ray, oke dia membully aku sepuasnya, tapi dia hancurin buku kesayangan aku Ray, lu nggak pernah ngerasain apa yang aku rasain Ray, jadi lu nggak tau rasanya jadi aku!" Seru Farel dengan suara meninggi.
Plakk, sebuah tamparan mendarat tepat pada muka Farel, "Orang yang sakit bukan hanya lu! Setiap orang memiliki luka di hati mereka! Jadi jangan bertingkah seolah itu satu-satunya yang paling menyakitkan di dunia ini!"
"Aku nggak pernah ngerasa kayak gitu, Ray!"
"Kalau gitu stop bertingkah seolah-olah lu yang paling tersakiti di dunia ini!"
"Ma—maaf Ray," Farel mengalah, dia tidak mau emosinya mengambil alih tubuhnya kembali.
Raya memeluk Farel, "gue gak mau lu kenapa-kenapa, Rel" ucap Raya pelan.
🐱🐱🐱
Keesokan harinya Farel dan walinya datang ke ruang kepala sekolah seperti yang diperintahkan guru bk kemarin, di ruang itu sendiri terdapat kepala sekolah dan guru bk.
"maaf bu, karena perbuatan Farel sangat tercela, dengan berat hati saya akan mengskorsnya selama seminggu," ucap guru bk tersebut. "Bu, bisakah saya meminta ibu untuk memantau perilakunya juga?" Lanjutnya.
"Tentu, pak, saya akan memantau dan mengajarinya juga."
Farel sekarang hanya tertunduk malu, dengan perasaan tidak karuan yang dirasakannya.
"Baik, mungkin itu saja bu," ucap kepala sekolah.
"Terima kasih, Pak" ucap wali Farel sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Farel dan walinya berdiri dan keluar dari ruang kepala sekolah, mereka pergi menuju gerbang sekolah.
"Jangan lakukan hal itu lagi, apakah kamu mengerti?"
"Baik, kak" jawab Farel.
Farel merogoh celananya dan mengambil sebuah dompet kulit yang berwarna coklat, dia mengeluarkan sejumlah uang dari dompet tersebut dan memberikannya pada perempuan yang menjadi walinya tadi, perempuan tersebut merupakan seorang mahasiswi yang kuliahnya tidak jauh dari SMA Farel.
Farel pulang dengan pikiran tak karuan, Farel juga sedikit lega karena dia ngekos, kalau tidak, dia pasti bakal ketahuan kak Asya kalau kena skors.