CHAPTER 9

2.8K 267 23
                                        


••••

Sudah larut malam tapi Boneka masih belum bisa tidur, dia masih memikirkan ciuman pertamanya bersama Kilat. Hatinya senang karena Kilat menciumnya, itu artinya Kilat juga memiliki perasaan yang sama sepertinya.

Boneka menutup wajahnya dengan bantal, mukanya memerah mengingat kembali adegan ciuman tadi sore. "Aaaaa bibir Boneka udah ga perawan."

Hatinya semakin tidak tenang, Boneka beranjak duduk kemudian meraih teleponnya. Dia membuka kontak dan mencari nama Amora, Boneka menelepon sahabatnya itu untuk berbagi cerita. 

Beberapa saat kemudian panggilannya diterima. Boneka mendekatkan telepon ke telinganya.

"Halo? kenapa Bon?" Suara Amora terdengar lemas, sepertinya Boneka sudah mengganggu tidur Amora.

"Mora, BonekatadiciumansamaKilat," ujarnya tanpa jeda dengan cepat.

"Hah? Apa Bon? ngomong yang bener, jangan ngerap."

Boneka malu jika harus mengatakannya lagi. "Ngga jadi, Mora lanjut tidur aja."

"Bon, Lo sadar ga sih udah ganggu tidur Gue, tapi cuma omongan gak jelas Lo yang Gue dapet?"

Boneka terkekeh kecil. "Good night Mora, Boneka sayang Mora. Mimpi indah ya, eh jangan deh mimpiin Boneka aja hehe." Setelah menyelesaikan kalimatnya dia langsung mematikan sambungan teleponnya.

Boneka membaringkan tubuhnya terlentang, dia menatap langit-langit plafon. Tangannya terangkat lalu mendarat tepat di bibirnya. "Fir kiss Boneka diambil Kilat…"

"Fir kiss atau firt kiss ya?" Boneka yang tengah galau mendadak bingung, dia mengambil kamus 5Mnya kemudian mencari jawaban didalamnya.

"Oh tulisannya f-i-r-s-t, tapi dibacanya apa ya? Besok boneka tanya Mora aja deh." Dia menutup buku kamus itu lalu menyimpannya kembali ke tempat semula.

Boneka berniat melanjutkan kegiatan galaunya tadi, dia membaringkan tubuhnya lalu meletakkannya tangannya. "Boneka sama Kilat udah ciuman, tapi Kilat belum nembak Boneka. Apa mungkin Kilat malu ya nembak Boneka?"

Boneka tersenyum senang, dia memegang kedua pipinya dengan telapak tangannya. "Kilat sayangku? bebep? ayang? atau lalat?" Boneka terkikik lucu, dia menutup seluruh wajahnya dengan selimut.

"Ga sabar pengen manggil Kilat lalat deh."

"Pasti lucu bangeeet, kikil juga lucu sih tapi lebih lucu lalat."

"Lalat, lalat, lalattt."

••••

Dari pagi hingga sekarang Boneka belum melihat Kilat dimanapun, apa jangan-jangan Kilat malu untuk bertemu dengan Boneka? Huh, padahal Boneka juga malu, tapi dia tetap berani berangkat sekolah hari ini.

Pas sekali saat pikirannya berputar tentang Kilat, Boneka melihat cowok itu sedang berada di rooftop. 

"Mora duluan aja ke kelas, Boneka mau samperin Kilat dulu," ujar Boneka pada Amora lalu melangkah mendekati Kilat.

"Boneka! Ini udah bel!" teriak Amora yang diabaikan begitu saja oleh Boneka.

Boneka berlari menuju rooftop sekolah. Saat dia membuka pintu rooftop dia melihat cowok yang dicarinya sedang berdiri sambil menghisap rokok.

"Kilat."

"Lo ngapain kesini?" 

"Tadi Boneka liat Kilat lagi sendiri disini, jadi Boneka samperin, Boneka mau nemenin Kilat."

Kilat mematikan Putung rokoknya saat Boneka melangkah mendekat.

"Kilat bolos?" tanya Boneka saat melihat tas ransel Kilat berasa sana.

"Gue ga suka pelajaran sejarah."

"Padahal enak loh denger cerita." 

"Yang ada Gue ngantuk dengerin guru cerita panjang lebar tentang sejarah."

Boneka terkekeh. "Boneka punya roti, Kilat mau?"

Kilat menerima roti itu, dia membuka bungkusnya lalu membuang bungkusnya sembarang. Kilat memakan roti itu hingga habis. "Ada lagi?" tanya Kilat, tampaknya cowok itu tengah kelaparan hingga meminta roti lagi pada Boneka.

Boneka menggeleng. "Ga ada, mau Boneka beliin? bentar ya, Boneka ke kantin sekarang."

Kilat menahan lengan Boneka. "Bon."

"Kenapa? mau sama minumannya juga?"

"Lo suka Gue?" tanya Kilat.

Kilat bukan orang bodoh yang tidak menyadari perubahan sikap Boneka, gadis itu tidak lagi meminta bantuannya untuk mendekati Chiko, yang ada gadis itu mendekatinya, memangnya alasan apa lagi jika gadis itu bukan menyukainya?

"Iya, Boneka suka Kilat."

"Jangan suka Gue Bon."

"Kenapa?"

"Gue yang harusnya nanya gitu ke Lo, kenapa tiba-tiba suka sama Gue? terakhir kali yang Gue tau, Lo suka Chiko."

"Boneka suka Chiko karena dia pinter."

"Terus Lo suka Gue karena apa?"

Boneka kini tak berani menatap Kilat, pasalnya dia sendiri tidak tahu alasan kuatnya, Boneka hanya merasa jika dia ingin terus bersama Kilat.

"Lo baper karena Gue baik sama Lo? Baper karena Gue nganterin Lo pulang? Lo baper Gue minjemin baju Gue pas baju Lo basah ketumpahan minuman? Itu yang buat Lo suka sama Gue?"

Boneka masih menundukkan kepalanya, dia mengangkat kepalanya dengan berani menatap Kilat. "Iya, Boneka suka Kilat karena itu."

"Kilat juga suka Boneka kan?" tanyanya.

"Darimana Lo bisa menyimpulkan itu?"

"Kemarin Kilat cium Boneka!" 

"Oh ciuman itu ya, Gue cuma terbawa suasana Bon, jadi Lo mending lupain ciuman itu." Dengan santai Kilat menjawab kalau ciuman kemarin bukan apa-apa? Padahal Boneka susah tidur hanya karena memikirkannya.

Dia tercengang tidak percaya dengan yang dikatakan Kilat barusan. "Terbawa suasana?"

"Hm, ujan-ujan kaya kemarin enak buat ciuman kan? Lo tenang aja, bukan cuma Lo yang kehilangan first kiss tapi Gue juga, jadi Kita impas."

Matanya sudah berkaca-kaca sekarang. "KILAT!"

"Kilat lagi ngeprank Boneka kan? Ini dia pasti ide Gery ya, awas aja nanti kalo ketemu Boneka pukul kepala Gery."

"Ga ada prank-prankan Bon."

"Udahan Kil, Boneka gamau nangis."

"Jauhin Gue Bon, jangan sapa Gue kalo Lo liat Gue," ujarnya lalu mengambil tasnya dan pergi dari rooftop.

Boneka berdiri mematung, setelah Kilat pergi Boneka menumpahkan semua air matanya. "Kilat jahat...."

Padahal dia sudah berharap pada laki-laki itu, tapi perkataan Kilat tadi sangat menyakiti perasaannya.

Kenapa Kilat mau dirinya menjauh? Padahal Boneka tidak keberatan jika harus melupakan ciuman itu sekaligus menyembunyikan perasaannya asal bisa tetap dekat dengan Kilat walau sebagai teman.

Tapi jika itu yang Kilat mau, Boneka tidak akan menyapanya lagi jika melihatnya dan menganggap tidak pernah mengenali laki-laki itu.

••••

28Feb22

Boneka Kilat (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang