VOTE DULU SEBELUM MEMBACA!
•••
Setelah berhari-hari membujuk Samudra agar ia mau menerima Dinda sebagai Baby sitter Azizah, kini Helna sudah bisa bernapas lega. Akhirnya putra keras kepalanya itu bisa luluh juga, meskipun hingga saat kini lelaki tersebut masih mendiamkan dirinya.
Dinda memang sudah resmi menjadi Babysitter keluarga Adiwijaya, namun gadis itu tidak diperbolehkan oleh Samudra untuk tinggal di rumah mereka. Dinda sempat menolak, namun dari pada tidak dapat pekerjaan itu, lebih baik ia menurut saja. Lagi pula meskipun Dinda tidak tinggal di rumah Samudra, ia masih bisa keluyuran semaunya, 'kan, di rumah pria itu.
Sore ini sama seperti sore-sore sebelumya. Dimana Dinda mengajak main anak kecil yang kini sudah menjadi tanggung jawabnya. Ia mengajak Azizah bermain di lantai dua, lebih tepatnya di dalam kamar Azizah.
Dengan rambut kuncir dua yang sudah tak karuan bentuknya, Dinda mulai merasa lelah karena sudah ber jam-jam bermain salon-salon an bersama gadis kecil yang kini menepuk-nepuk pipinya.
Anak kecil yang diperkirakan berusia dua tahun itu sangat senang disaat memberikan bedak pada seluruh wajah Dinda.
"Aaa Izah, muka Buna jadi cemong semua..." Ratap Dinda mengusap-usap pipi yang dipenuhi bedak bayi.
Sedangkan sang pelaku malah tertawa kencang melihat ekspresi Dinda, lantas mengambil kembali rembuk yang ia gunakan untuk mengusapkan bedak yang sama pada wajahnya. "Izah sama, sama Buna," racau Azizah menunjuk kearah pipinya yang kini sama-sama dipenuhi bedak tabur.
Dinda tertawa, selanjutnya ia mengangkat anak kecil itu kemudian membawanya kedalam kamar mandi. "Waktunya mandi, Yeay!" Perempuan itu mulai memandikan anak asuhnya.
Sebenarnya Samudra sudah beberapa kali melarang Azizah yang terus memanggil Dinda dengan sebutan 'Buna', namun sama sekali tidak ada perubahan yang terjadi. Sehingga membuatnya mau tidak mau harus membiarkan putri kecilnya memanggil Dinda dengan sebutan itu.
___
Malam hari setelah kepulangan Samudra, seluruh keluarga kini sedang makan malam bersama. Begitu pula dengan Dinda, perempuan tersebut dengan telaten menyuapi Azizah, sesendok demi sesendok.
Samudra hanya diam, ia fokus kepada makan malamnya sesekali memperhatikan gerak-gerik Dinda. Masih dengan keputusan yang sama, ia masih belum bisa menerima Dinda sebagai pengasuh putrinya.
Sadar akan tatapan menyeramkan Samudra, Dinda pun dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Setelah menyuapi Azizah, ia berniat untuk langsung mengajak anak kecil itu main-main ringan sebelum tidur agar tidak memuntahkan kembali makanan yang telah dicerna, namun Helna terlebih dahulu menghentikan niatnya.
"Kamu juga makan, Din." Wanita itu mengambil nasi beserta lauknya, lantas diletakkan di meja tempat Dinda duduk.
Dinda tersenyum tidak enak. "Eh? Iya, Tan. Tapi Dinda mau ajakin Azizah main dulu sebelum tidur," ucapnya hati-hati.
Helna nampak tersenyum sejenak, lantas beralih menggendong cucunya. "Udah. Biar Tante aja yang urus Azizah. Sekarang, kamu makan dulu," titahnya membuat Dinda tidak enak. Bagaimana pun, mengurus Azizah adalah kewajibannya.
"Tapi, Tan-"
"Udah, nggak apa-apa."
Tak bisa berkata apa-apa lagi, Dinda pun akhirnya menuruti perkataan Helna, mulai memakan makanannya. Sempat Dinda perhatikan pergerakan Samudra yang sudah selesai dengan makan malamnya. Pria itu berdiri untuk meletakkan piring kedalam wastafel.
KAMU SEDANG MEMBACA
KUTUB UTARA [On Going]
RomanceSuka sama tetangga sendiri? Kenapa tidak? Inilah Adinda Cempaka Kalisya. Gadis 21 tahun yang sejak lulus SMA tidak ingin kuliah, melainkan ingin menjadi pendamping bagi sosok Samudra Adiwijaya, duda anak satu yang ditinggalkan istrinya. Ada kalanya...
![KUTUB UTARA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/282412158-64-k608031.jpg)