Spam komentar untuk next 😄
Happy reading ❤️
•••
Dinda membelalakkan matanya. Apa dia bilang? Tidur bersama? No!
Dinda menolak mentah-mentah perkataan Samudra, namun pendiriannya runtuh disaat Azizah justru menampakkan raut kecewa akan tolakannya.
Dinda bimbang. Ingin menolak pun ia tak cukup tega, karena Azizah begitu berharga baginya.
Oke baiklah. Dinda memutuskan untuk menuruti kemauan Azizah. Jika bukan demi anak itu, maka ia tidak akan mau melakukan semua ini.
"Yeayyy! Bobo sama Bunda sama Papa!" Seru Azizah kegirangan diatas ranjang. Dinda hanya bisa tersenyum, anak itu sangatlah lucu. Salah kah jika Dinda berharap untuk bisa menjadi ibu sambung Azizah?
Dinda tersentak dari lamunannya kala Azizah tiba-tiba saja memeluk erat tubuhnya. "Bunda! Bunda seneng, 'kan, bobo sama Izah?"
Dinda mengangguk ria. "Seneng banget, Sayang."
"Kalo sama Papa?" Tanya bocah itu, namun kali ini berbisik. Meskipun demikian, Samudra masih bisa mendengarnya.
Melirik Samudra sejenak, Dinda lantas meringis kuda. "Em, Izah. Bobo yuk! Udah malem," ajaknya, merangkul tubuh mungil Azizah yang berada di tengah-tengah mereka.
Azizah mengangguk. "Izah mau bobo samping tembok, Nda."
Deg...
Inilah yang Dinda khawatirkan. Tiap tidur, Azizah pasti selalu ingin mepet tembok.
"Nda... Izah mau samping tembok..." Rengek gadis kecil itu.
Dinda masih diam, namun lain dengan Samudra. "Turutin aja. Lagi pula saya nggak tertarik sama kamu," ucap pria itu tanpa menatapnya.
Dih! Lupa beberapa hari lalu baru ngungkapin perasaannya?
Berdecak kesal karena sikap Samudra, Dinda mulai menukar posisinya dengan Azizah. Kini ia lah yang berada di tengah.
"Bobo, ya, Sayang. Sini Bunda peluk." Cewek itu membawa tubuh kecil Azizah kedalam pelukannya.
"Bunda..." Panggil Azizah parau, mungkin karena sudah di ujung kesadaran.
"Iya, Sayang?"
"Izah sayang Bunda Inda.. "
"Bunda juga sayang Izah."
Samudra tersenyum simpul, manis sekali kedua gadis itu. Ia jadi merasa tidak ada wujudnya, karena Azizah hanya perhatian kepada Dinda haha.
Perlahan tapi pasti, Azizah sudah mulai terlelap dalam tidur nyenyaknya. Berbeda dengan Dinda yang kini merasa pegal. Ingin mengubah posisi, pun tidak bisa. Jika ia berbalik maka ia akan berhadapan dengan Samudra.
Akhirnya cewek itu lebih memilih untuk berbaring menghadap atap, ketika Azizah sudah terlepas dari pelukannya.
Ia melirik sejenak kearah Samudra. Ternyata pria itu sudah memejamkan matanya. Kenapa ia tidak bisa tidur? Masa iya Dinda harus begadang? Atau ia kembali ke kamarnya? Iya, ide bagus.
Cewek itu mendudukkan tubuhnya perlahan, bersiap untuk turun dari ranjang. Namun niatnya urung disaat sebuah tangan menghentikannya.
"Mau kemana?" Tanya orang tersebut, yang tak lain adalah Samudra.
"Pindah, Bang." Bisa Dinda lihat bahwa Samudra tengah menggelengkan kepalanya.
"Nanti kalau Azizah bangun, nyariin kamu, gimana? Disini aja." Pria itu menarik paksa tangan Dinda. Berhubung Dinda tidak siap, maka akibatnya ia terjatuh kedalam pelukan Samudra.
KAMU SEDANG MEMBACA
KUTUB UTARA [On Going]
RomanceSuka sama tetangga sendiri? Kenapa tidak? Inilah Adinda Cempaka Kalisya. Gadis 21 tahun yang sejak lulus SMA tidak ingin kuliah, melainkan ingin menjadi pendamping bagi sosok Samudra Adiwijaya, duda anak satu yang ditinggalkan istrinya. Ada kalanya...
![KUTUB UTARA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/282412158-64-k608031.jpg)