17. FIRST KISS

6.6K 272 21
                                        

Spam komentar untuk next!

Happy reading ❤️

•••

Pagi-pagi sekali Dinda sudah berada di kamar mandi. Sejak jam tiga pagi perutnya mulas, membuatnya harus bolak balik ke toilet untuk membuang hajat. Dinda tidak tahu penyebabnya, namun ia sempat menebak bahwa semua itu akibat terlalu banyak makan saat berada di pesta semalam.

Setelah berkeringat habis-habisan, Dinda memutuskan untuk sekalian mandi. Menghilangkan bau masam pada dirinya dan segera turun ke bawah.

Tujuannya adalah dapur, dimana ada suara gemeletuk pisau menekan pada talenan. Dilihatnya sosok pria dengan kaus oblong berwarna putih dan celana pendek hitam tengah memotong sayuran.

Dinda berjalan menghampiri sosok tersebut. Berdiri tepat di samping orang itu, menatap wajah segarnya lantas beralih menatap masakan yang tengah dimasak. "Ngapain?" Tanya sosok tersebut menatap Dinda datar.

"Enggak," jawab Dinda singkat lantas beralih menuju kulkas untuk minum.

"Tumben udah wangi?" Tanya sosok tersebut lagi, mendekat kearah Dinda untuk mengambil sesuatu yang berada di atas kulkas.

Dinda termenung, disaat wajahnya dan leher orang itu berada dalam jarak yang sangat dekat. Gadis itu menatap jakun yang cukup menonjol dan naik turun disaat sang pemilik tengah berbicara yang entah membicarakan apa. Dinda tidak mendengarkan ucapan orang itu, ia justru salfok dengan pemandangan pagi yang ia dapat.

"Jadi kenapa kamu mandi pagi-pagi banget?" Ucap sosok tersebut untuk yang kesekian kalinya.

Menyadari bahwa Dinda sedang terpaku di depannya, ia tersenyum miring disaat ide jahil terlintas di kepalanya. Samudra, ia melangkahkan kakinya kedepan, membuat Dinda mau tak mau harus mundur dan berakhir mepet kulkas.

Gadis itu tersadar dari lamunannya, menatap wajah misterius Samudra. "Kenapa? Kamu terpesona sama ketampanan saya, hm?" Ucap Samudra iseng.

Dengan cepat Dinda menggelengkan kepalanya. "Enggak!" Ketusnya sambil mendorong kasar dada bidang Samudra.

"Ngaku aja sih. Aura saya emang sekuat itu, maklum kalau kamu mleyot." Pria itu dengan pedenya melempar senyuman meledek kearah Dinda.

Dinda menyinyir, "Idih! Gantengan juga Bambang!" Cecar Dinda tak mau kalah. Samudra terkekeh singkat lantas kembali lagi pada kegiatannya.

Tak ingin terlalu lama berada di dekat Samudra, Dinda akhirnya memutuskan untuk menghampiri Azizah. Hari ini adalah jadwalnya anak iku pergi ke taman untuk jalan-jalan, jadi ia harus mengajaknya mandi dan sarapan pagi terlebih dahulu.

___

Kini Dinda dan Azizah berada di taman dekat sekolah menengah atas yang dulu pernah ia tempati selama setahun. Mereka tidak hanya berdua, melainkan bersama Samudra pula. Pria itu kini tengah mengantri untuk membeli es krim sesuai permintaan putrinya.

Ketika sedang asyik bermain bersama Azizah, Dinda tak menyadari bahwa Samudra sudah ada di belakangnya. "Kaya anak kecil, cih!" Sinis Samudra mengambil duduk di samping Dinda.

Tak memberikan respon, Dinda hanya melirik sejenak. "Azizah, sayang. Es krim kamu udah Dateng, nih!" Seru Dinda bersemangat sembari menepuk-nepuk pahanya, memberikan isyarat pada Azizah agar duduk di pangkuannya.

Dengan langkah cerianya, Azizah duduk di atas pangkuan Dinda, meraih es krim dari tangan sang papa. "Nda, mau?" Tawarnya kepada Dinda.

Dinda hanya tersenyum melihat kelucuan anak itu. "Enggak. Izah habiskan aja," ucapnya kemudian, membelai sayang Surai kecokelatan Azizah.

KUTUB UTARA [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang