Seperti biasa, Vote dan komentarnya jangan lupa yaaww❤️
Happy reading 😊
___
"Dinda, tunggu!" Teriak seorang pria bertopi putih dengan sebungkus kebab yang masih anteng ditangannya.
Setelah kembali dari pasar kaget untuk membeli kebab sesuai permintaan Dinda, mereka berdua awalnya ingin menjemput Azizah. Namun entah mengapa kini Dinda merajuk dan meninggalkan Samudra begitu saja.
Pria itu mendudukkan tubuhnya manja di lantai, mendendangkan kedua kakinya kedepan layaknya anak kecil.
Hal tersebut tak luput dari pandangan Dinda, yang menurutnya suaminya itu begitu lucu. Ia berjalan kembali menghampiri Samudra, mengulurkan sebelah tangannya kepada Samudra yang langsung disambut hangat oleh pria itu.
Dinda menepis tangan Samudra yang hendak meraih uluran tangannya. "Kebab, bukan tangan kamu."
Seakan mengerti isi dari kepala Samudra, Dinda dengan santai menjawab sedemikian hingga membuat lelaki dewasa itu kembali melemaskan kedua pundaknya.
"Dinda, maafin aku. Aku nggak bermaksud loh," mohon lelaki itu untuk yang ke sekian kalinya.
Sedangkan Dinda hanya berdecak kesal, mengingat kejadian beberapa jam lalu yang amat membuatnya kesal. Sehingga membuat niat yang awalnya ingin menjemput Azizah jadi urung gara-gara kejadian laknat tersebut.
Setelah mandi sore, keduanya setuju untuk membeli kebab di sebuah pasar kaget. Ketika mereka sedang mengantri, seorang perempuan tiba-tiba mendusel dan menyela antrian mereka, membuat Dinda kesal dan tidak terima akan hal itu.
Dinda pun melangkah maju hendak, menegur, namun Samudra justru menghentikannya.
"Udah, biarin aja." Dengan hanya menggerakkan mulutnya, Dinda dapat mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki itu.
Dengan sangat terpaksa, Dinda menghembuskan napas kasar dan menuruti perkataan Samudra.
Setelah beberapa menit mengantri, akhirnya giliran mereka tiba juga. Dinda memesan sebuah kebab special dengan level pedas nomor dua, tentu saja atas perintah dari Samudra.
"Din," bisik Samudra membuat Dinda mendongak, dan menaikkan kedua alisnya kode bertanya.
Samudra kembali mendekatkan wajahnya untuk membisikkan sesuatu. "Besok aja jemput Azizahnya, ya? Ayo pacaran dulu," ucap pria itu membuat Dinda jengah.
"Nggak mau. Pokoknya habis ini kita langsung jemput Azizah!" Sarkas Dinda.
Mereka memang berencana untuk pindah setelah Dinda melahirkan, namun Samudra meminta agar ia dan anak istrinya segera pindah, dengan alasan tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya.
Pria itu berdecak kesal. Namun tanpa mereka sadari, kelakuan lucu Samudra mampu membuat seorang wanita tersenyum. Bagi wanita tersebut Samudra amatlah tampan dan lucu meskipun dengan wajah seriusnya.
Wanita itu mendekat, membuat Dinda menatap bingung. Mau apa lagi perempuan itu setelah menyela antriannya? Pikirnya dalam hati.
"Permisi, Mas. Saya mau ngembaliin kebab saya, karena tidak sesuai request," ucapnya dengan sesekali melirik genit kearah Samudra.
Hal tersebut membuat hati Dinda menggebu-gebu, ingin sekali mencolok kedua mata genit itu.
Si penjual kebab pun mengangkat sebelah alisnya. "Maaf, Mbak. Bukannya tadi mbak memesan spesial kebab level tiga? Apanya yang tidak sesuai?" Tanya cowok berbaju hitam garis kuning yang usianya diperkirakan sedikit lebih muda dari Dinda.
KAMU SEDANG MEMBACA
KUTUB UTARA [On Going]
RomanceSuka sama tetangga sendiri? Kenapa tidak? Inilah Adinda Cempaka Kalisya. Gadis 21 tahun yang sejak lulus SMA tidak ingin kuliah, melainkan ingin menjadi pendamping bagi sosok Samudra Adiwijaya, duda anak satu yang ditinggalkan istrinya. Ada kalanya...
![KUTUB UTARA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/282412158-64-k608031.jpg)