9: Serius

60 15 5
                                    

Selamat membaca


"Ayok!"

Edward menggenggam pergelangan tangan Aya usai gadis itu turun dari range rover hitam miliknya yang terparkir di halaman rumah Edward. Keduanya berjalan ke arah pintu utama.

Rumah Edward besar, Aya nggak kaget sih, kalau Pak Bima bisa punya perusahaan di usia muda berarti orang tuanya kaya raya.

Begitu masuk, Edward menuntun Aya ke ruang makan dimana orang tuanya sudah menunggu. Jauh dari pikiran buruk Aya, mereka menyambut dengan senyum ramah.

"Kenalin, Ma, Pa, ini Aya, pacar Edward." Edward mengenalkan Aya pada orang tuanya.

"Halo, Bu... Pak..." Aya membungkuk seraya menjulurkan tangan untuk menyalami mamanya Edward terlebih dahulu. Beliau kemudian mencondongkan tubuhnya untuk cipika-cipiki. Aya kaget banget.

"Jangan panggil Ibu, Mama sama Papa aja. Kamu kan sekarang calon mantu Mama."

"Iya, Ma." Aya tertegun sejenak sebelum beralih menyalami papanya Edward. Orang tuanya Edward seramah itu.

"Duduk, Ay." Edward menyiratkan gestur agar Aya duduk di kursi sebelahnya.

"Kamu apa kabar, Nak? Sehat?" Tanya Mama Asti.

"Alhamdulillah sehat."

"Ih, bajunya matching." Mama Asti menunjuk Edward dan Aya secara bergantian. "Kalian janjian?"

"Enggak, Ma." Edward menukas cepat. "Kebetulan aja."

Mama Asti menoleh kepada suaminya dan tersenyum. "Kalo jodoh mah gak janjian juga sehati ya, Pa?"

"Iya."

"Jelas, dong!" Edward menyahut santai dengan wajah jumawa. Membuat ekspresi Mama Asti langsung jengkel atas respon anak bungsunya.

Sementara Aya cuma senyum canggung. Memang sebelumnya nggak mengira dia pakai dress warna navy yang sama dengan kemeja yang Edward pakai.

"Yaudah, ayok kita makan." Ajak Mama Asti.

Aya memperhatikan bagaimana wanita paruh baya itu menyiapkan piring beserta isinya kepada sang suami. Itu bukan pemandangan aneh bagi Aya. Makan bersama keluarga bukanlah hal asing sebelum merantau ke Jakarta dan setiap pulang kampung pun, Aya selalu makan bersama keluarga. Tapi ini keluarga orang, tentu saja berbeda.

"Aya, mau makan pake apa, Sayang? Nasinya segimana?" Mama yang sudah memegang piring dan centong nasi bertanya.

"Mama duluan aja. Biar Aya ambil sendiri." Aya tersenyum sungkan.

"Oke deh."

Selepas mengambil nasi untuk piringnya, Mama menyodorkan centong kepada Aya. Tiba-tiba saja Aya memahami sesuatu. Ia pun menyendok nasi kemudian menatap Edward.

"Kakak nasinya segini, cukup?"

"Kurang, Ay..." Mama menyambar. "Tambah lagi. Biar makannya banyak."

HAJARENDRA  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang