"Sayang, boleh ambil ini gak?"
"Boleh."
"Sayang, boleh? Aku belum punya teflon yang ukuran segini."
"Boleh... Ambil semua yang kamu mau."
Dua kalimat tersebut entah berapa kali terucap sampai-sampai Edward heran, kenapa Aya masih bertanya boleh ini itu atau enggak, jelas-jelas dia tau suaminya bisa menyanggupi semua, entah sebagai penyedia uang atau penyedia jasa angkut barang, Edward rela, yang penting istrinya bahagia.
Sedangkan Aya kurang enak hati, memang dia yang mengajak Edward ke toko perlengkapan rumah tangga yang masih berada di mall yang sama untuk membeli alat masak, ujung-ujungnya malah kalap, jiwa ibu rumah tangganya meronta melihat perlengkapan dapur berjejeran sepanjang lorong yang mereka lewati. Mulai dari piring cantik, mangkuk, gelas, sampai tumbler edisi terbaru juga dibeli.
"Ayang beli ini ya?" Kata Edward yang kini memegang dua lunch box dengan model berbeda.
"Buat apa?"
"Buat bekal."
"Iya tau... Maksudnya kamu beli buat apa?"
"Buat aku."
"Buat ngantor?"
"Iya. Kayaknya aku belum pernah deh bawa bekal ke kantor."
"Bukan kayaknya lagi... Emang iya." Ucap Aya diliputi rasa bersalah. "Maaf ya? Aku nggak tau kalo kamu mau dibikinin bekal."
"Gak apa-apa. Aku juga kan gak bilang. Pas liat ini keinget lagi. Aku tuh pengen banget kerja dibikinin bekal sama istri."
Aya tertegun.
"Kamu keberatan gak?"
"Enggak."
"Beneran?"
"Tergantung, sih. Kalo sempet aku bikin."
"Kalo gak ada waktu gak apa-apa, Ay."
"Ada kok, tenang aja. "
"Makasih Ayang..."
🍀
Semenjak Aya sakit, Edward jadi sering membantu Aya mengerjakan pekerjaan rumah walau sekedar mencuci piring, bersih-bersih, atau mencuci pakaian. Memang dirinya belum bisa mengerjakan itu dengan sempurna sebagaimana jika Aya yang mengerjakan, namun setidaknya membantu walau sedikit dengan harapan bisa meringankan pekerjaan istri. Pernikahan itu hidup bersama, bukan tinggal bersama."Ayang, boleh minta tolong gak?" Edward langsung bertanya begitu dilihatnya sosok sang istri yang masuk ke kamar dari depan cermin besar meja rias.
"Apa?"
"Aku mau cukuran."
"Terus?"
"Cukurin."
Aya menatap wajah lelakinya tanpa ekspresi, begitu pula Edward.
"Aku nggak tau caranya."
"Nanti aku kasih tau."
Aya mengangguk pasrah, lantas Edward menuntunnya masuk ke kamar mandi. Ia pun melepas kemeja yang dikenakannya dan memasukkan ke keranjang baju kotor, kemudian mengambil alat cukur, shaving cream, beserta aftershave yang lalu ia letakkan di westafel.
Mula-mula Edward membasahi seputar rahang, lalu menyodorkan shaving cream kepada sang istri yang tampak ragu. "Pake ini dulu."
Aya mendongak agar bisa menjangkau wajah Edward yang lebih tinggi dua puluh senti dari tubuhnya. Jujur saja ia merasa gugup, walau Edward yang bertelanjang dada kerap ia temui saat tidur bahkan memeluknya, namun posisi ini persis seperti kejadian malam itu saat ia dan Edward berdiri berhadapan sangat dekat.

KAMU SEDANG MEMBACA
HAJARENDRA
Fanfictionft Kim Hong Joong of Ateez Terus disinggung soal pacar, Edward nekat menembak perempuan yang baru dikenalnya. Tidak sesimpel saat Edward memintanya menjadi pacar dan dia pun menjawab iya. Edward yang tidak peka dan emosian justru berpacaran dengan p...