•
"Rumahmu jauh banget"
- Jeka -
•
Kini mereka duduk melingkar, hening menyelimuti. Jujur saja, hari ini hari terakhir mereka formasi lengkap. Tapi kenapa, semuanya pada diam? bergulat dengan kata hati dan pikiran. Contohnya Jeka, dia berusaha meyakinkan dirinya untuk menyatakan perasaan pada Lisa. Gadis yang selama ini dikira menjadi tempat singgahnya, ternyata Lisa yang selama ini membuatnya ingin bermain dengan gadis lain. Jeka sadar kalau selama ini dia mencari sifat Lisa di diri orang lain.
Memang benar, kelas X mereka tidak sekelas. Tapi, siapa sangka pria bergigi kelinci itu pernah naksir berat pada Lisa selama 6 bulan sebelum memutuskan untuk un-crush. Bahkan semesta pun tidak ingin Jeka melupakan Lisa, sehingga mereka dipersatukan di kelas yang sama. Ternyata oh ternyata hanya berlangsung 3 setengah bulan, Lisa harus pergi meninggalkannya.
Disisi lain ada Una yang kisah cintanya bertepuk sebelah tangan. Jeka, pria yang dikiranya baik malah meninggalkan luka yang dalam. Dia tahu ketika melihat tatapan Jeka yang berbeda ke arah Lisa, membuat Una tahu kalau Jeka menyukai Lisa. Bukan berarti karena hal itu, Una harus membenci Lisa hanya karena cinta. Una percaya kalau dia akan diganti dengan seseorang yang lebih baik. Benar saja, Bara yang juga bertepuk sebelah tangan. Kini keduanya berusaha untuk saling memperbaiki. Entah semesta merestui atau tidak.
"Huft..." semua atensi tertuju pada Lisa yang menghembuskan nafas berat.
"Gue udah mau take off nih." Katanya sembari melirik arlojinya.
"Jamber?"
"1 jam lagi. Ada pesan dan kesan yang mau diomongin lagi?"
Jeka mengacungkan tangannya, "boleh gue ngobrol berdua aja sama lo?"
Lisa terdiam sebentar sebelum mengangguk, menyetujui.
Michael melirik Yoshua bertanya dengan matanya.
Yoshua yang paham, mengisyaratkan untuk diam.
Lisa memasukan tangannya di saku hoodie, udara malam ini dingin.
"Ngomong apa?"
Jeka menelan ludah kasar, tenggorakannya kering, bibirnya keluh. Perasaan gugup yang tiba-tiba datang membuat Jeka butuh waktu beberapa menit untuk membuat Jeka menarik nafas.
Lisa setia menunggu, melihat kakinya yang dihiasi cat kuku. Cantik.
"Gue suka sama lo." Jeka terlalu tiba-tiba tanpa aba-aba. Lisa menatap Jeka terkejut.
"Gue suka sama lo." Jeka menekankan disetiap kata, agar Lisa mendengarnya lagi dengan jelas.
"Kenapa nggak ngomong dari awal? sebelum gue pergi hari ini."
Jeka tersenyum tipis, "gue belum siap mental, gue takutnya pas bilang sama lo kalau gue suka, itu cuman rasa ingin tahu belaka. Makin kesini, gue baru sadar rasa suka gue ke lo makin hari makin besar."
Lisa terkekeh kecil, "percaya ga kalau gue juga suka sama lo."
Dengan reflek, Jeka menggeleng pelan kemudian tersadar lalu menggenggam tangan Lisa, "maksud gue, gue taunya lo suka berat sama Sehan. Makanya, gue nggak percaya."
Lisa tertawa, pemandangannya yang indah untuk Jeka. "Gue emang suka sama kak Sehan, tapi gue lebih suka sama lo."
Jeka menyipitkan matanya, "masa sih? nggak percaya gue."
Lisa terkekeh lagi, "nggak papa nggak percaya, ayo gue buat biar lo percaya."
"Maksud lo pdkt?"
Lisa terdiam lalu menggeleng, "biar lo percaya, ayo komitmen sampai lo percaya sama gue kalau gue suka sama lo. Lo milik gue, gue milik lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sempiternal [97l] ✔️
Fanfiction! ˢᵉᵇᵉˡᵘᵐ ᵇᵃᶜᵃ, ʲᵃⁿᵍᵃⁿ ˡᵘᵖᵃ ᶠᵒˡˡᵒʷ ᵃᵏᵘⁿ ᵈᵘˡᵘ ʸᵃᵃ ! [COMPLETED] 𝙸𝚗𝚒 𝚔𝚒𝚜𝚊𝚑 𝚇𝙸 𝙸𝙿𝙰 𝟼. 𝙺𝚎𝚕𝚊𝚜 𝚙𝚘𝚓𝚘𝚔 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚖𝚒𝚕𝚒𝚔𝚒 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚗𝚐-𝚖𝚊𝚜𝚒𝚗𝚐. • Start : 10 April End : 10 April ©Keeylien
![Sempiternal [97l] ✔️](https://img.wattpad.com/cover/224619144-64-k115741.jpg)