Part 3

579 114 13
                                    

Bulan berganti bulan, Sooyoung seperti biasa gadis itu sibuk membanting tulang untuk kebutuhannya dan juga yang terpenting adalah pengobatan Jinri. Ia  mengambil 3 part time sekaligus dan juga masih harus membagi waktu untuk trainee nya.

"Ayo makan bersama!", ujar seorang gadis bermata sipit dengan rambut ombre kuningnya. Sooyoung menggeleng. Ia ingin sekali makan bersama Seulgi saat ini. Tapi ia lebih memilih untuk makan onigiri di toserba dekat rumah untuk berhemat. 

"Tidak, Seul. Kau pergi saja dengan yang lainnya", Seulgi menatapnya kesal dan memajukan bibirnya. Oh hayolah wajah gadis itu benar-benar menggemaskan sekarang tapi tidak mempan untuk seorang Sooyoung.

"Kenapa? Kau selalu menolak makan bersama. Kau tidak suka berteman denganku?", Sooyoung menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Bukan begitu",

"Ah... Pengobatan kakakmu ya?", ujar Seulgi.

"Nah! Itu kau tahu", balas Sooyoung. Seulgi menatap Sooyoung singkat lalu menghela nafas kasar.

"Hidupmu berat sekali", ujar Seulgi jujur.

"Aku yang bayar kali ini!",

"Tidak, Seul! Kau sudah sering mentraktirku", tolak Sooyoung. Seulgi tak peduli ia hanya terus menarik tangan Sooyoung untuk mengikutinya.

Kini keduanya tengah duduk pada sebuah restoran ayam goreng milik Jennie. Kalau begini jadinya, ini namanya bukan Seulgi yang mentraktir! Tapi Jennie yang mentraktir.

"Onni... Sudah cukup. Ini banyak sekali", ujar Sooyoung tidak enak hati.  Jennie menatap Sooyoung kesal.

"Kakakmu sering menanyaimu padaku", ucap Jennie.

"Kakakkukan hanya satu, yang terbaring di rumah sakit", balas Sooyoung acuh. Jennie menyentil dahinya keras.

"AW! Onni!", Sooyoung merengek. Tentu gadis itu sudah mulai berani pada Jennie yang notabene nya mantan atasannya. Yaps! Ia tak lagi bekerja di restoran ayam goreng milik Jennie. Alasannya? Chanyeol terlalu sering menanyai keadaannya lewat Jennie. Sooyoung hanya... Ingin berdiri pada prinsipnya. Walau sesekali gadis ini juga sering mengunjungi kampus dimana Chanyeol berkuliah dan tahun ini Yerim bahkan sudah berada disana. Ia hanya berani memandangi dari jauh dan sesekali menitipkan sarapan buatannya pada siswa atau siswi disana meminta mereka memberikan makanan buatannya pada Chanyeol ataupun Yerim dengan anonymous.

"Kau menyebalkan sekali! Oh satu hal. Aku lupa bilang padamu. Chanyeol memutuskan untuk tidak bermain byola lagi. Sesuatu terjadi pada tangannya"

"Apa?!", tanya Sooyoung panik. Seulgi dan Jennie saling berpandangan dan menggeleng-geleng bersamaan.

"Katanya sudah tidak peduli", ledek Seulgi. Sooyoung tetap menatap Jennie serius menunggu Jennie untuk melanjutkan kalimatnya.

"Ia juga menjual motor kesayangannya. Mungkin.. ini mungkin hanya asumsiku saja Soo. Aku rasa ketika kau bilang ada orang baik yang membayarkan biaya operasi milik Jinri... Mungkin itu Chanyeol. Karna ini semua timingnya sangat berdekatan", ujar Jennie lagi. Ia harap apa yang keluar dari mulutnya dapat memperbaiki hubungan antara Sooyoung dan teman baiknya Chanyeol. Sooyoung terdiam ia tidak mengatakan apapun ia hanya bangkit dan meraih totebag lusuhnya itu. Seulgi baru akan membuka mulutnya dan membangkitkan tubuhnya untuk menyusul Sooyoung.

"Habiskan semua ayam ini! Mau kemana hem?", ucap Jennie sambil menarik Seulgi untuk kembali terduduk.

......................................................................

Sooyoung berjalan cepat dengan langkah kaki menggebu-gebu. Kali ini ia tidak lagi ragu. Gadis ini menebalkan mukanya dan juga merendahkan harga dirinya kali ini. Ia merasa tidak ada alasan untuk mempertahankan harga dirinya lagi jika orang-orang tersayangnya hanya akan menderita.

"Tuan muda, Jin. Nona Sooyoung datang mencarimu", di sudut lain pemuda dengan mata elang itu menatap Sooyoung dari atas sampai bawah seolah-olah meneliti gadis yang terlihat lusuh itu. Dan mencoba mencari tahu ada urusan apa gadis lusuh itu mencari kakaknya malam-malam. Pemuda itu mencoba menajamkan pendengarannya.

"Sooyoung-a. Ada apa? Apa terja..",

"Oppa. Aku membutuhkan bantuanmu",

'soal uang pasti', - tebakan pemuda itu benar.

"Berapa?", Sooyoung menggigit bibirnya ragu. Sial ia kembali meragu. Pemuda yang berstatus sebagai adik dari Jin itu menunggu-nunggu angka yang disebut oleh gadis itu.

"Maaf tidak jadi", pemuda itu menaikkan kedua alisnya.

"Aku sudah berjanji akan menolongmu dan juga Jinri. Jangan ragu", ucap Jin. Sooyoung terlihat ragu.

"7 juta won",

"Apa itu cukup? Aku akan memberikanmu 10 juta. Sebentar aku akan meminta ahjussi untuk mengambilkannya",

"Ani! Jangan memberikannya padaku. Aku meminjam", pemuda itu menatap gadis lusuh itu tak percaya. Penilaiannya salah besar. Gadis itu meskipun terlihat miskin tapi... Ia masih tahu diri.

Beberapa belas menit kemudian semua uang itu diberikan pada Sooyoung. Sooyoung memasukan uang itu pada Tote bag miliknya.

"Oppa maaf merepotkanmu", Jin tersenyum pada Sooyoung dengan pandangan kosongnya.

"Tidak jangan berkata seperti itu. Setidaknya pria buta sepertiku sedikit bergunakan", Sooyoung menggeleng pelan. Terkadang gadis ini masih mencoba berpikir tentang betapa tidak adilnya dunia ini. Jin, pria tampan, baik, bermartabat, kaya raya tapi... Harus mengalami kebutaan?

"Jangan berkata seperti itu, oppa. Jinri tidak akan senang mendengar ini",

'Jinri Noona?', pemuda itu kembali menerka-nerka. Seolah-olah setiap ucapan yang keluar dari mulut Sooyoung adalah teka-teki untuknya. Namun pada akhirnya pemuda bermarga Kim itu memilih untuk masa bodoh dan meninggalkan kakaknya untuk berbincang dengan gadis asing itu.

......................................................................

"Apa yang kau lakukan pada anak-anakku?! Apa yang kau lakukan?! Apa yang membuatmu menjadi monster seperti ini... Hiks katakan padaku!", Ji-won terlihat berujar sambil menangis sesenggukan dan memukul-mukul dada bidang suaminya yang terlihat tak kalah putus asa.

"Jinri sudah terbaring lemah. Chanyeol kehilangan mimpinya. Sooyoung entah dimana keberadaaannya sekarang. Apa maumu Joon?! Anakku hancur dan hatiku jauh lebih hancur!!!", tangisan Ji-won semakin histeris. Sedangkan Chanyeol pemuda itu hanya memilih untuk menunduk dan sibuk untuk membereskan barang kesayangannya yang ia hancurkan dengan sendirinya. Disisi pintu utama gadis itu mendengar semuanya. Hatinya menghangat tapi tetap ada goresan luka disana. Ia menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang Ji-won ucapkan. Wanita itu tetap mengkhawatirkannya dan juga kakaknya ternyata. Wanita itu bahkan menyebutnya sebagai anaknya.

"Eomma...", panggil Sooyoung. Tangisan gadis itu pecah.

"Soo.. Sooyoung-a",



TBC

.............................................................

Jangan lupa tinggalkan jejak ya ! Vote n Komen ya




Brittle (VJOY)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang