Part 22

489 91 12
                                    

"Kim...",

Sontak ke empat manusia lainnya mendongakan wajah mereka dan berlari cepat kearah dimana Sooyoung terbaring dengan lemah. Kelopak mata milik wanita itu perlahan terbuka.

"Soo! Kau mendengarku? Kau melihatku?", Chanyeol berujar padanya terlebih dahulu. Sooyoung mengangguk membuat semua yang berada di sana menghela nafas penuh kelegaan.

"Mau minum? Ji-won tuangkan segelas air buat Sooyoung!", ucap Seojoon sambil mengenggam tangan putrinya erat. Sooyoung mengernyitkan keningnya dan mencoba melepaskan selang oksigen dari hidungnya. Wanita itu bahkan mencoba untuk terduduk saat ini. Mata miliknya menatap tak percaya ketika mendapati sebuah pohon natal pada sudut ruangan tersebut.

"Aku akan memanggil dokter", ujar Yeri sambil berjalan dan bahkan... Perut Yeri sangat amat besar saat ini. Sooyoung membelalakan matanya.

"Tidak! Biar aku saja. Kau istirahatlah", Yeri mengangguk menurut pada usulan Chanyeol.

"Berapa lama aku tertidur?", tanya Sooyoung dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Ia mendudukan tubuhnya membuat ayah dan ibunya sedikit memekik kaget dengan refleks.

Ingatan terakhirnya adalah dimana ia terbaring kesakitan di aspal pada musim gugur. Tapi kini? Akhir tahun bahkan sudah tiba.

"3 bulan nak",

"Ini Desember?", semuanya mengangguk sebagai jawaban. Sooyoung kembali membelalakan matanya.

"Tanggal?",

"29 Onni", Sooyoung menganga tidak percaya kemudian mencoba mencari ponselnya yang sudah pasti tidak mungkin berada didekatnya.

"Yer! Pesankan kue untukku! Kue ulang tahun dengan rasa Oreo cheesecake. Ah iya! Balon! Tolon..",

"Untuk siapa nak? Sebutkan pelan-pelan", ucap Seojoon sambil menyerahkan segelas air pada putrinya. Sedangkan Ji-won wanita itu mulai menangis.

"Kekasihku! Taehyung akan berulang tahun besok!", ini yang Ji-won khawatirkan dan menjadi alasan Ji-won untuk menangis. Ia takut putrinya akan terpukul dengan fakta yang ada. Seojoon rasa batinnya benar-benar dicobai saat ini. Ia bahkan tak tahu bagaimana cara menjawab ini semua. Sedangkan Yeri wajahnya memucat sambil menahan tangisannya.

"Yer! Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?! Cepatlah astaga! Dimana ponselku?",

Tak satupun dari ketiganya merespon Sooyoung. Sooyoung mulai mendengus kesal dan menarik ponsel milik Yeri dengan kasar dari pemiliknya.

"Aku akan menghubungi Taehyung. Ia pasti khawatir sekali",

Satu jam berlalu. 20.00 kst saat ini. Sooyoung memakan ayam gochujang kesukaannya dengan lahap meskipun sambil mendumel panjang karna Taehyung sama sekali tidak mengangkat telfon darinya dan juga membalas pesan darinya.

Tak lama kemudian Chanyeol kembali.

"Oppa! Kau sering bertemu dengan Taehyung belakangan ini?", ketiga lainnya menatap Chanyeol dengan tatapan memohon. Membuat Chanyeol paham dengan apa yang harus ia katakan.

"Ya. Aku... Sering menemuinya",

"Benarkah? Apa ia mengkhawatirkanku?",

"Sangat",

"Ia sering kesini?", Chanyeol menahan dirinya setengah mati untuk tidak memeluk adiknya dengan erat dan mengatakan kebenaran.

"Setiap hari. Ia selalu dirumah sakit ini setiap hari. Menemanimu", Sooyoung tersenyum lebar.

"Benarkah? Ah beruntungnya aku!", kedua pipinya merona.

"Apa kau bisa memintanya untuk datang sekarang? Aku merindukannya",

"Mustahil", jawab Chanyeol tanpa sadar.

"Kenapa mustahil?", tanya Sooyoung dengan wajah penuh kebingungan dan raut tidak mengenakkan itu.

"Taehyung...",

"Nak! Taehyung sedang sibuk", Ji-won angkat bicara sambil mengelap bibir anaknya yang belepotan ulah saus gochujang itu.

"Sesibuk apapun Taehyung. Jika sudah berkaitan denganku ia pasti akan datang. Begitulah dia", jawab Sooyoung.

"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku?", semuanya saling berpandangan. Perlahan entahlah. Butiran bening dari mata lentik itu mulai jatuh.

"Soo. Ada apa? Baiklah-baiklah aku akan menghubungi Taehyung", ujar Chanyeol panik dan pria itu berusaha memutar otak untuk menutupi fakta pahit yang akan menerpa Sooyoung.

Sooyoung menggeleng.

"Aku tidak tahu... Aku kenapa menangis? Aku tak tahu... Ada apa denganku", Sooyoung mulai terisak. Perasaannya benar-benar tak nyaman. Tubuh wanita ini gemetar dan isakannya semakin menjadi-jadi. Seojoon meraih tubuh putrinya dan memeluk putrinya erat.

Dadanya sesak tanpa sebab dan hidungnya memanas secara tiba-tiba. Yeri mulai menitikan air matanya menatap keadaan Sooyoung.

"Oppa. Otokeh? Onni bahkan belum tahu tapi ia sudah se histeris ini. Ikatan batin mereka kuat sekali", bisik Yeri. Chanyeol meremas rambutnya frustasi dan menahan diri untuk tidak menggeram saat ini.

"Aku tidak bisa membayangkan ketika ia tahu semua kenyataan ini Yer"

......................................................................

"Halo? Jin oppa! Ini aku",

"Sooyoung-a? Ini kau? Astaga! Tuhan terima kasih!' , Sooyoung tersenyum lebar mendengar suara Seokjin dari dalam telfonnya.

"Hari ini ulang tahun Taehyung. Ia tidak bisa dihubungi! Menyebalkan sekali!",

"...",

"Oppa! Bantu ia untuk datang ke ruang dimana aku dirawat. Ia harus datang hari ini karna aku telah menyiapkan banyak hal",

"A... Aku akan memberitahunya saat bertemu dengannya nanti",

"Aku sudah menyiapkan kue, dekorasi kecil dan...",

Seorang perawat dengan nafas menggebu-gebu datang keruangannya.

"Nona.. apakah tuan Chanyeol ada disini?", Sooyoung mengernyitkan keningnya.

"Ada apa memangnya?", tanya Sooyoung sambil menjauhkan benda pipih persegi panjang itu dari telinganya.

"Kami mencoba menghubungi nomor ponsel milik tuan Jin",

"Oh... Tuan Jin sedang menelfon denganku. Ada apa?", demi apapun perasaan itu kembali menyelimuti Sooyoung. Perasaan penuh kekhawatiran, dan ketidaknyamanan yang ia dapatkan tepat saat baru tersadar dari komanya.

"Tuan Taehyung dalam keadaan kritis. Jika tidak berhasil melewati masa kritis malam ini. Ia bisa kehilangan nyawanya",

Sooyoung terdiam. Berharap apa yang ia dengarkan adalah kesalahan. Nafasnya benar-benar tercekat. Tubuhnya bergetar. Peluh dingin mulai muncul di keningnya.

"Tae... Taehyung ku kenapa? Katakan sekali lagi",

"Nona tuan Taehyung kritis. Tolong hubungi tuan.."

"NONA!", perawat itu berteriak dengan refleks begitu mendapati lawan bicaranya terkulai lemas tak berdaya.

TBC

.............................................................

Nah lo! Siapa yang bilang tetet checkout hah?

Jangan lupa vote n komen yaa. Vote 50++ author up lagi ok? Bentar lagi End ga janjiin happy ending ya jadi... Ya pokoknya baca aja sampai epilog nanti

Brittle (VJOY)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang