Jungwon baru saja tiba di rumah sederhana miliknya yang kini telah ditinggali oleh Ibu dan juga Adik tirinya.
Namun seketika langkahnyapun terhenti setelah mendapati sebuah mobil mewah yang terparkir dihalaman rumahnya. Jangan lupakan juga dua buah koper berukuran sedang dan kecil yang juga turut berada di ambang pintu. Dengan tergesa iapun bergegas memasuki rumahnya.
"Apa kau berencana untuk pergi?". Ucapnya ketika melihat Ibunya dan Bitna yang tengah terduduk di ruang tengah.
Sang Ibu dengan refleks berdiri begitu mendengar suaranya. Ia menyambut kedatangan putranya itu dengan senyuman terbaiknya.
"Aku pikir kau tak akan datang. Uhm ya... Tadinya aku berencana untuk memberitahukanmu lewat pesan. Kami sudah putuskan untuk pergi dari sini. Ayahnya Bitna membujukku kembali. Oh ya Jungwon, sebelumnya aku ingin berterimakasih karena kau sudah mengijinkanku dan Bitna untuk tinggal disini". Jelas wanita itu sembari berterimakasih.
Helaan nafas milik si manispun terhembus perlahan setelahnya. "Apa pria itu yang datang untuk menjemputmu?".
Namun belum sempat sang Ibu membuka suara, tiba tiba saja..
'Chuu'
Seseorang mencuri kecupan di pipinya lebih dulu. Sontak saja hal itu membuat si manis terkejut.
Lantas setelahnya iapun menoleh dan mendapati sosok Adik tiri lainnya. Lebih tepatnya--putra pertama dari suami baru Ibunya, Hyunbin.
"Hai Kak, lama tidak bertemu. Kau semakin manis saja". Ucap si pemuda Moon itu sembari mengulas senyuman tampannya.
Sementara itu, si manis hanya memberikan tatapan sangsinya pada pemuda yang telah dengan kurang ajarnya mengecup dipipinya.
"Jadi.. Dia yang menjemput kalian? Kenapa bukan suami baru---".
"Kak, Ayahku adalah Ayahmu juga. Apa kau masih belum bisa menerimanya?". Sela Hyunbin yang tak suka jika saudara tirinya itu seolah menganggap sang Ayah seperti orang asing.
"Kau sudah tahu jawabannya. Kalau begitu, segeralah pergi dari sini jika kalian semua sudah tak punya urusan apapun lagi!".
Setelah mengatakan hal itu, iapun lantas beranjak pergi dari sana. Menyisakkan Hyunbin serta Ibu dan Adiknya yang hanya dapat saling bertukar pandang.
"Ibu, kau dan Bitna bisa menungguku di dalam mobil. Aku akan menyusul nanti. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Kakak".
Tanpa banyak bicara lagi, wanita paruh baya itupun lantas mengangguk.
.
.
Jungwon mengambil sebotol wine dari dalam lemari yang terdapat di pantry miliknya. Ia lantas menuangkan cairan bening beralkohol itu kedalam sebuah gelas kecil dan menghabiskannya dalam satu kali teguk.
Sejujurnya ia bukanlah seorang peminum. Ia hanya akan minum jika saat dirinya merasa stress dan tertekan. Dan saat ini, itulah yang dirasakannya.
Semua yang terjadi hari ini sangat memberatkannya. Belum lagi, sang Ibu yang memutuskan untuk pergi dengan cara yang tiba-tiba pula. Siapapun seolah tak ada yang berpihak padanya.
Jungwon selalu sendirian bahkan sejak dulu. Tak ada yang ingin menemaninya dikala ia benar-benar membutuhkan bahu untuk bersandar. Bahkan Ayahnya pun, satu satunya orang yang ia miliki juga ikut pergi meninggalkannya. Ia sangat kesepian.
"Kak..".
Terdengar sebuah suara menginterupsinya. Meski begitu, ia sama sekali tak bergeming dan memilih untuk menuangkan kembali minumannya kedalam gelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
lacuna | jaywon
عشوائيstatus : complete / end. [ summary ] "Jika memang kau masih mencintaiku. Kalau begitu, mari kita selingkuh!" " A-apa..".
