35 || Suatu tragedi

1.3K 50 0
                                        

🎶 Simpan rasa — Vadel Nasir🎶

—Happy Reading 📖—

•Karna bahagia saya selalu tentang kamu•

Rembulan malam ini benar-benar sangat cantik. Bulat sempurna. Belum lagi banyaknya bintang membuat langit pada malam ini benar-benar terlihat sangat cantik.

Keduanya kini tengah berbaring yang tak beralaskan apapun, keduanya sama-sama memandang langit malam. Zara yang mengajak Aidan. Karna tadi Zara melihat langit yang indah, membuat Zara ingin menatap langit hanya berdua dengan Aidan.

“Kamu tau gak Dan, kata orang, bintang yang kita lihat tiap malam, adalah bintang pada masa lalu. Jadi, ketika kita menatap malam, dan ada bintang. Itu berarti kita sedang menatap masa lalu,” ucap Zara membuat Aidan terus memandang gadis itu.

“Berarti, kalau gitu pejamkan mata kamu,” suruh Aidan membuat kening Zara mengerut.

“Kenapa gitu?”

“Pejamkan mata kamu, bayangkan hal yang kamu sesali di masa lalu.”

Zara sempat memandang sebentar wajah Aidan, tak lama gadis itu kembali menatap langit, lalu memejamkan mata.

Zara membayangkan hal yang membuatnya menyesal sampai sekarang karna ulahnya di masa lalu.

Mulai dari dirinya yang menyesal karna berpacaran dengan Arjuna. Dirinya yang menyesal karna menyepelekan sholat dan malah asyik bermain dengan teman-temannya. Menyesal karna selalu saja membantah ucapan kedua orangtuanya. Menyesal karna selalu boros dan membeli barang yang tak terlalu berguna. Dan menyesal karna hampir menolak perjodohannya dengan Aidan.

Padahal jelas-jelas hadirnya Aidan benar-benar membuat kehidupan Zara jauh lebih indah dan sempurna.

Tak lama Zara membuka matanya. Gadis itu menoleh ke samping ternyata Aidan sudah menatapnya dengan lekat.

“Kok kamu gak mejamin mata?” tanya Zara.

“Udah.”

Zara merubah posisinya menjadi tengkurap lalu gadis itu menatap Aidan yang masih berbaring ditempatnya.

“Aku penasaran, hal apa yang kamu sesali di masa lalu. Coba bilang ke aku.” Zara sedikit mendekatkan badannya pada Aidan.

“Saya menyesal karna baru bertemu dengan kamu tahun ini.”

Ucapan itu sontak saja membuat Zara bersemu lalu memukul dada bidang Aidan pelan.

“Gombal terus deh! Aku kan srius tau!”

Aidan menghembuskan nafasnya. Lelaki itu sebentar menatap langit, melihat banyaknya bintang dan bulan yang ikut menemani kehangatan keduanya, lalu tak lama Aidan kembali menatap manik mata coklat Zara.

“Saya hampir tak menyesali apapun di masa lalu. Karna saya yakin, adanya masa lalu itu bisa mengajarkan saya arti di masa yang akan datang.”

“Jadi kamu gak pernah menyesal gitu menjalani hidup selama ini?”

“Penyesalan pasti ada. Tapi tak terlalu saya hiraukan. Toh, Allah maha tau sedangkan saya tidak. Jadi mungkin saja itu sudah takdir Allah. Takdir kehidupan saya sudah ditulis dengan skenario yang begitu indah oleh Allah. Jadi, untuk apa saya menyesal?”

“Bener juga sih.”

Hampir tak menyesal bukan berarti tak benar-benar menyesali masa lalu. Ada beberapa hal yang Aidan sesali. Namun seperti katanya tadi ‘Takdir kehidupan kita sudah diatur oleh skenario yang begitu indah oleh Allah. Jadi untuk apa kita menyesal?’

ZARA AIDAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang