Terungkap

2.7K 168 5
                                        

Dian berjalan sendirian menyusuri koridor yang masih sepi.Ya,dia berangkat dari rumahnya pukul setengah tujuh pagi ini yang artinya dia kepagian,namun tak apalah dari pada kesiangan dan harus berhubungan dengan Pak mamat lagi uh dia sangat malas.

Setelah meletakkan tasnya kedalam kelas Dian terdiam sejenak memikirkan apa yang akan dia lakukan sembari menunggu teman temannya datang.Di kelas hanya ada dirinya seorang,bahkan sang juara kelaspun belum menampakkan dirinya.

Mengambil sebuah buku yang beberapa hari lalu ia beli ditoko buku,Dian kemudian berjalan menuju taman belakang sekolahnya. Walaupun didunia novel kebiasaannya yang dulu tak pernah berubah yaitu membaca buku ditaman belakang.Teringat kejadian sekitar 3 bulan yang lalu Dian tersenyum tipis memikirkan hal konyol yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan malah terjadi kepada dirinya.

Setelah sampai,ia duduk disebuah bangku yang sudah tersedia disana membaca dengan tenang setiap halaman novelnya.Sampai sebuah suara yang tak asing menusuk ke indra pendengarannya.

"Iya ma aku bakal usahain buat merebut semua hal yang seharusnya aku punya"

"......"

"Iya iya mama tenang aja,lagipula mereka berdua sekarang udah batalin pertunangannya"

"......."

"Bukan,Dian yang batalin"

"......."

"Iya bener,kayanya dia berubah sih. Syukurlah dia berubah jadi gampang kan aku buat dapatin Raksa lagi"

"......"

"Iya iya mama tenang aja,aku bakal hati hati kok disini.Udah dulu ya ma,aku tutup"

Sudahi orang itu dengan menutup sambungan telfonnya.Dian tahu siapa pemilik suara itu.Maya.Orang yang sedang menelfon dengan mamanya tadi adalah Maya.Awalnnya ia tak ingin peduli dengan  urusan cewek itu,namun setelah mendengarkan namanya disebut sebut,rasa penasaran mulai menjalar ditubuhnya.

Dari awal memang ia menyangka Maya tak sebaik yg ia kira dan terbuktilah sekarang.Tanpa berpikir panjang lagi,ia langsung menuju sumber suara tadi berharap gadis itu masih ada disana.Dan benar saja,ternyata Maya masih berada disana.

Melihat keberadaan Dian di dekatnya Maya dibuat kaget,seperti melihat penampakan saja.

"D-dian k-kamu ngapain d-disini?"Tanyanya terbata bata.

"Awalnya gua emang ngk mau tau sama urusan lo,tapi dengar nama gua disebut sebut gua jadi penasaran.Apa yang lo rencanain?"Tanya Dian tanpa basa basi membuat Maya makin membulalakan matanya.

"K-kamu denger,aku ngk lagi ngerencanain apa apa Dian.Gini ya kita tuh beda,aku ngk kayak kamu.Ngapain juga aku berniat celakain kamu kayak yang kamu lakuin ke aku"Jawab gadis itu sok polos.Dengan tak langsung dia mengatakan kalo dirinya lebih baik dari Dian.Uh sangat mengesalkan.

"Siapa bilang kita sama,kita emang beda,beda jauh malah.Setidaknya gua nunjukin diri gua yang asli,ngk kayak lo yang coba berusaha nutupin busuk lo"Balasan tersavage dari Dian membuat Maya bungkam seribu bahasa dengan wajah yang siap menerkam Dian kapanpun.

"Kalo ngomong dijaga ya.Oh ya aku lupa kamu kan ngk punya mama jadi ngk ada yang ngajarin kamu tata krama ya,jadi wajar aja kamu kayak gini" Ucap Maya membuat Dian tak bisa lagi menahan dirinya.Dia boleh saja mencaci maki dirinya asalkan jangan orang tuanya.Itulah prinsip yang dipegangnya dari dulu bahkan sebelum masuk ke tubuh Dian saat ini.

"Anj*ng,bang*at lo"Maki Dian menjambak kuat rambut Maya.

"Lepasin bang*at"Balas Maya tak mau kalah sambil menjambak balik rambut Dian.

Out Of MindCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang