Tujuh Belas

7.7K 2K 147
                                        

"Dia berbeda dengan Cinta yang aku kenal di New York 2 tahun lalu," kata Renata pada Tanto. Mereka sedang duduk di ruang tengah vila Nyonya Besar. Si pemilik vila sudah masuk kamar untuk menidurkan cucu kesayangannya. "Aku nggak tahu apa, tapi vibe-nya beda. Wajah dan namanya sama, tapi kenapa kok seperti berbeda kepribadian ya?"

Tanto menyeringai melihat ekspresi bingung Renata. "Mana aku tahu, kan kamu yang ketemu dia."

"Saat itu kami memang nggak sempat ngobrol banyak karena waktunya terbatas, tapi karena kami sama-sama orang Indonesia, jadi dia menarik perhatianku. Waktu itu dia kelihatan sangat bersemangat, membaur, dan banyak mengajukan pertanyaan. Dia supel. Sekarang dia terkesan tertutup."

"Bukan terkesan, tapi dia memang tertutup." Tanto mengernyit. Kali ini dia tampak lebih serius. "Bukan perubahan sifat itu yang bikin aku penasaran, karena kamu bisa saja salah menilainya waktu di New York. Kamu sendiri yang bilang kalau kalian hanya berkenalan sekilas. Yang nggak masuk akal itu adalah dia kehilangan kemampuan fotografinya. Kamu yakin lomba foto yang dia menangkan itu adalah hasil jepretannya? Karena melihat caranya pegang kamera saja, aku sudah tahu kalau dia sama sekali nggak bisa memotret. Maksudku, secara profesional, bukan amatiran hanya tekan tombol aja."

"Kemungkinan pemalsuan itu kecil banget sih. Aku nggak masuk tim juri atau verifikator, tapi aku yakin proses yang dilakukan untuk memverifikasi orisinalitas hasil karya peserta lomba cukup mendalam. Lagian, orang akan berpikir berkali-kali untuk menggunakan hasil karya orang lain di lomba internasional sebesar itu. Kemungkinan ketahuannya sangat besar. Dan selama 2 tahun ini aman-aman saja, kan?" Alis Renata ikut berkerut. "Tapi kamu benar kalau itu aneh banget. Semua fotografer yang aku kenal nggak pernah jenuh dengan kameranya. Bosan dengan perjalanan yang terkadang melelahkan, mungkin iya. Tapi bukan kamera."

"Kalau bukan menggunakan foto orang lain, penjelasan masuk akal apa yang bisa dijadikan alasan untuk seseorang yang tidak bisa memegang kamera, tapi bisa memenangkan lomba foto internasional?" Hanya saja, sulit bagi Tanto membayangkan seseorang seperti Cinta melakukan pemalsuan. Anak itu terlalu polos untuk bertindak licik. Perkenalan mereka masih hitungan hari, tapi tidak sulit menilai karakter Cinta.

"Kamu sudah pernah melihat foto yang diambil Cinta? Kamu nggak bisa menilai kemampuan seseorang dari caranya memegang kamera saja."

Deringan telepon memutus percakapan itu. Tanto mengangkat ponselnya. Nama Risyad muncul di layar.

"Hei, gue sama Rakha lagi suntuk nih. Jadi kami sepakat untuk nyamperin lo ke Sulawesi. Lo jemput di bandara besok ya.

**

Tanto mengempaskan tubuhnya yang basah di kursi kafe. Dia lantas menyesap kopinya yang sudah dingin. Pantai ternyata bisa membuat sisi kekanakannya kembali. Tadi Risyad mengajaknya balapan. Berlomba berenang dari pantai menuju sampan seorang nelayan yang sedang memancing di depan resor, lalu kembali ke pantai lagi.

"Lo seharusnya jangan ngajak balapan kalau nggak yakin bisa menang," ujar Tanto pada Risyad yang baru sampai di meja mereka. Sama seperti Tanto, kausnya sudah dilepas sebelum berenang. Keduanya bertelanjang dada.

"Beda waktunya tipis banget," Risyad membela diri.

"Kalah ya kalah saja, Bro" sela Rakha bosan. "Terima aja, nggak usah banyak alasan."

"Lo beneran nggak mau kena air laut?" Tanto sengaja mengibaskan rambutnya supaya tetesan airnya bisa mengenai Rakha.

Rakha langsung mendelik sebal. "Lo pikir gue ikut ke sini dengan sukarela? No, gue diculik!" Dia menunjuk-nunjuk Risyad. "Gue beneran nyesal nginap di apartemen lo. Kalau tahu bakalan dibajak ikut lo ke sini, mendingan gue ikut cewek yang mengerayangi gue di kafe. Palingan gue berakhir di kamar hotel, bukan di tepi pantai gini. Bali sudah cukup bikin gue bosan sama pantai. Kulit gue auto berubah jadi udang rebus kalau kelamaan di pantai. Gue benci jadi seafood rebus."

The Runaway PrincessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang