Ekspresi kaget Renjana, dan ketidakmampuannya segera menjawab pertanyaan yang simpel itu membuat Renata menghembuskan napas keras melalui mulut.
"Sepupuku memiliki kelainan jantung bawaan," Renata melanjutkan setelah yakin dugaannya benar. "Walaupun sudah dioperasi saat dia masih kecil, dia tidak bisa melakukan banyak hal yang bahkan nggak butuh usaha untuk kulakukan. Kami tumbuh bersama, bersahabat, tapi dia tidak bisa ikut ketika aku melakukan kegiatan outdoor yang butuh kekuatan fisik karena itu akan memengaruhi kerja jantungnya. Walaupun iri padaku, dia bisa menerima kondisinya. Dia tahu batas kemampuannya, jadi tidak pernah berusaha melanggar batas itu. Tidak pernah, sampai saat dia jatuh cinta." Renata diam sejenak.
Renjana bisa melihat matanya berkaca-kaca. Dagu Renata bergetar menahan tangis. Renjana semakin merasa bersalah. Kebodohannya membuat seseorang harus diingatkan pada masa lalu pahit yang seharusnya sudah terlupa.
"Aku sedang libur di luar kota ketika sepupuku diajak cowok yang ditaksirnya jalan-jalan ke Pulau Bidadari bersama teman-temannya. Dan sepupuku melupakan batas itu. Dia tahu kalau dia seharusnya tidak boleh menerima tantangan melompat dari perahu dan berenang ke darat, tetapi dia melakukannya. Hanya jasadnya yang pulang ke rumah." Renata menyusut matanya. Dia menatap Renjana lama. Ketajaman sorot matanya berganti dengan pengertian. "Jangan melakukan kesalahan yang sama. Siapa pun yang ingin kamu buat terkesan, dia tidak sepenting dirimu sendiri. Kesehatan dan keselamatanmu di atas segalanya. Kamu bertanggung jawab untuk menjaganya."
Renjana menunduk. Air matanya jatuh lagi. "Saya minta maaf, Mbak."
"Kamu harus minta maaf pada dirimu sendiri dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Kamu tidak perlu minta maaf pada aku, Tanto, Risyad, atau Rakha."
"Tapi saya sudah merusak acara hari ini."
"Gua itu tidak akan ke mana-mana. Tempat itu masih tetap akan kokoh di atas sana sampai kiamat tiba. Kami bisa kembali kapan saja. Tapi aku, dan aku yakin Tanto juga tidak mau menjadi orang yang akan menghubungi keluargamu untuk menyampaikan berita buruk."
Dagu Renjana tertekuk sampai menyentuh tulang dadanya. Tetes air matanya jatuh membasahi kausnya. Dia berusaha sekuat tenaga menahan isak supaya tidak terdengar oleh ketiga lelaki yang meskipun menyingkir karena disuruh pergi oleh Renata, tetapi Renjana yakin mereka hanya berjarak beberapa meter.
Renata merapatkan jarak mereka dan merangkul bahu Renjana. "Maaf karena aku bicara blak-blakan seperti ini. Aku nggak bisa menahan diri. Kurasa aku masih belum bisa menerima tidak berada di tempat yang sama ketika sepupuku membutuhkan bantuanku. Aku tahu ada hal-hal yang tidak bisa diubah karena takdir sudah menulisnya seperti itu, tapi aku kadang masih berandai-andai. Seandainya aku tidak libur keluar kota, dia pasti tidak akan ikut trip ke Pulau Seribu karena aku akan melarangnya. Atau, aku bisa ikut bersamanya."
Renjana tidak bisa menahan diri ketika Renata menyentuhnya. Dia membalas sentuhan itu dengan pelukan erat. Rasanya menenangkan. Persis seperti ketika Cinta memeluknya. Aroma yang yang terkuar dari tubuh Renata bahkan terhidu seperti wangi Cinta. Kali ini isak Renjana pecah. Dia merindukan Cinta. Sangat rindu, sampai rasanya menyesakkan. Seharusnya Cinta tidak meninggalkannya, karena Renjana terlalu rapuh untuk menghadapi semuanya sendiri setelah mereka selalu bersama selama lebih dari 20 tahun. Rasanya tidak adil ditinggalkan begitu saja oleh belahan jiwa yang selalu menjaganya, tanpa diajari cara bertahan menghadapi dunia.
**
"Dia kram atau terkilir sih?" tanya Risyad pada Tanto. Mereka menyingkir karena disuruh oleh Renata. Tidak ada yang meragukan kemampuan Renata untuk memberi pertolongan pertama, jadi mereka tidak membantah ketika diperintahkan untuk memberi ruang.
"Mungkin dua-duanya," Rakha yang menjawab. "Kelihatannya dia kesakitan banget. Sampai nangis gitu. Padahal toleransi menahan rasa sakit perempuan kan jauh lebih tinggi daripada kita-kita yang laki-laki." Dia melanjutkan dengan nada defensif saat melihat Risyad menatapnya skeptis. "Beneran, itu ada risetnya lho. Gue kebetulan baca. Tapi tapi riset itupun, gue yakin banget kalau teori itu benar. Itu pasti alasan kenapa perempuan yang kebagian tugas untuk melahirkan. Kalau laki-laki yang yang dikasih beban untuk melahirkan, pasti banyak kasus bapak-bapak yang sudah tewas duluan karena kesakitan sebelum anaknya lahir. Atau semua proses kelahiran harus dibantu lewat operasi. Lo bisa bayangkan keadaan zaman dulu sebelum teknologi pembedahan ditemukan? Spesies kita pasti sudah punah karena kakek moyang kita gagal melaksanakan tugas mengeluarkan keturunannya dari perut."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Runaway Princess
General FictionRenjana kabur dari rumah untuk menyelesaikan bucket list yang dibuat oleh saudara kembarnya sebelum meninggal dunia. Dia merasa antusias sekaligus takut karena belum pernah melakukan perjalanan seorang diri. Apalagi dia harus merahasiakan identitas...
